Skip to content
Lapisan Spiritual

Lapisan Spiritual: Dimensi Kelima yang Dimiliki Manusia

Lapisan Spiritual: adakah bagian diri kita lainnya yang tidak hanya berurusan dengan keinginan fisik, energi, pikiran dan perasaan (Mind)? Lalu, bagaimana kita bisa merasakan keberadaannya di dalam diri?

(Bagian 11)

 

 

LAPISAN SPIRITUAL MENJADI tujuan perjalanan kita berikutnya, dan langkah ini akan membawa kita semakin jauh ke dalam diri. Melalui rangkaian artikel terakhir, kita sudah mulai dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: pikiran yang terus bekerja, perasaan yang berubah-ubah, suka dan tidak suka, keinginan, ego, serta berbagai keadaan Pikiran dan Perasaan atau state of mind yang dapat memengaruhi cara kita melihat dan merespons kehidupan.

Kemudian kita mulai melihat bahwa Mind bukanlah keseluruhan diri kita. Kita juga berkenalan dengan Inteligensi atau Buddhi. Buddhi bukan mind yang lebih pintar. Ia membantu kita melihat mind dengan lebih jernih, termasuk melihat keterbatasan pola, kecenderungan, dan dorongan yang selama ini begitu mudah membawa kita.

Lalu, apakah perjalanan ke dalam diri selesai sampai di sini – Buddhi?

Ternyata belum. Dalam kerangka lima lapisan manusia yang sedang kita telusuri, setelah lapisan fisik, energi, mind, dan inteligensi atau buddhi, dan masih ada dimensi kelima. Tetapi sebelum bertanya lebih jauh tentang dimensi ini, ada baiknya kita mulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri, yakni: kebutuhan, perolehan, pencapaian, dan kepuasan yang kita peroleh.

 

Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)

 

Perjalanan ke Dalam Diri Belum Selesai

Manusia memiliki kebutuhan yang berlapis. Ada kebutuhan fisik seperti makanan, tempat tinggal, istirahat, kesehatan, dan keamanan. Ada pula kebutuhan energi untuk menjalani aktivitas, bergerak, bekerja, dan berkarya.

Kemudian ada kebutuhan yang berkaitan dengan Pikiran dan Perasaan (mind): dicintai, diterima, dihargai, dipahami, memiliki hubungan dengan orang lain, mengalami kegembiraan, serta merasakan kehidupan yang bermakna.

Pada wilayah Inteligensi atau Buddhi, ada dorongan untuk memahami, membedakan, mencari kejelasan, dan melihat sesuatu dengan lebih jernih, luas dan dalam. Semua itu nyata dalam kehidupan manusia. Namun, ketika satu kebutuhan terpenuhi, apakah perjalanan berhenti?

Kita makan ketika lapar. Setelah kenyang, kebutuhan itu terpenuhi untuk sementara. Kita bekerja dan memperoleh penghasilan. Kita membeli rumah, memiliki kendaraan, mencapai posisi tertentu, mendapatkan penghargaan, atau memperoleh pengakuan. Kita belajar dan mendapatkan pengetahuan.

Tetapi setelah semua itu tercapai, ternyata manusia masih dapat bertanya: “Mengapa saya masih merasa kurang?” Nah, pertanyaan ini akan membawa kita pada sesuatu yang lebih dalam nantinya.

 

Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)

 

Manusia Memiliki Berbagai Kebutuhan dan Bentuk Kepuasan

Kita sering mengukur kepuasan melalui apa yang berhasil kita peroleh. Ketika lapar, makanan memberikan kepuasan. Ketika membutuhkan keamanan, tempat tinggal dan kondisi ekonomi yang lebih baik dapat memberikan rasa aman.

Ketika ingin dihargai, jabatan, penghargaan, atau pengakuan dapat memberikan kepuasan tertentu. Ketika ingin memahami sesuatu, pengetahuan memberikan kejelasan. Namun, kepuasan dari satu lapisan belum tentu menyelesaikan kebutuhan dari lapisan lainnya.

Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap merasa kosong. Seseorang dapat memiliki kedudukan tinggi tetapi terus membutuhkan pengakuan. Seseorang dapat memiliki pengetahuan luas tetapi masih merasa belum menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan dirinya.

Demikian pula, seseorang yang secara materi sederhana dapat mengalami pertanyaan batin yang sama. Karena itu, rasa kurang atau rasa hampa tidak otomatis berarti seseorang sudah mengalami dimensi spiritual.

Tetapi pengalaman tersebut dapat menjadi pintu pertanyaan: Apakah yang saya cari sebenarnya hanya sesuatu yang lebih banyak? Mungkin ada kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan menambah apa yang dimiliki.

Dan ketika pertanyaan itu muncul, kita mulai berhadapan dengan sesuatu yang sering tidak kita sadari, yaitu: kondisi kita yang dapat melekat pada apa yang kita peroleh.

 

Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)

 

Ketika Kebutuhan, Perolehan, dan Pencapaian Dibungkus Ego

Kebutuhan manusia pada dasarnya bukanlah masalah. Kita membutuhkan makanan, tempat tinggal, keamanan, hubungan, penghargaan, pengetahuan, dan berbagai hal lain untuk menjalani kehidupan. Demikian pula, memperoleh sesuatu atau mencapai suatu tujuan bukanlah sesuatu yang salah.

Persoalannya mulai muncul ketika kebutuhan, perolehan, dan pencapaian tersebut tidak lagi berhenti sebagai pengalaman, tetapi dikristalisasi menjadi rasa ke-aku-an, ke-saya-an, dan ke-pemilikan.

Saya mendapatkan sesuatu, lalu muncul rasa: “Ini milik saya.”

Saya mencapai sesuatu, lalu muncul: “Saya berhasil.”

Saya mengetahui sesuatu, lalu muncul: “Saya lebih tahu.”

Saya memiliki kedudukan tertentu, lalu muncul: “Saya adalah orang yang memiliki kedudukan itu.”

Pengalaman yang berulang, kesan yang berulang, keberhasilan yang berulang, bahkan kegagalan yang berulang, perlahan dapat membentuk dan memperkuat pola tersebut. Dari sanalah rasa “saya” menjadi semakin tebal.

Dalam pengalaman meditasi, ego dapat dipahami sebagai bentuk kristalisasi ke-aku-an dari pengalaman dan kesan-kesan yang terus berulang. Bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi juga apa yang pernah kita alami, capai, ketahui, sukai, pertahankan, atau anggap sebagai bagian dari diri kita, dapat ikut membentuk kristalisasi tersebut.

Karena itu, ego tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang kasar.

Ia dapat muncul sangat halus: “Saya harus mendapatkan ini.”

“Saya tidak boleh kehilangan itu.”

“Saya sudah mencapai sejauh ini.”

“Pendapat saya yang paling benar.”

“Kelompok saya lebih baik.”

Semakin sering pola itu diperkuat, semakin mudah kita menganggapnya sebagai “diri saya”, padahal ia terbentuk dari kumpulan pengalaman dan kesan yang terus dipelihara oleh Pikiran dan Perasaan.

Di sinilah peran Buddhi menjadi penting. Buddhi tidak perlu memusuhi ego. Ia justru memungkinkan kita melihat bagaimana ego terbentuk dan bagaimana ia bekerja. Kita mulai dapat melihat bahwa memiliki sesuatu tidak harus berarti menjadikan sesuatu itu sebagai identitas.

Mencapai sesuatu tidak harus membuat kita terikat pada pencapaian itu. Mengetahui sesuatu tidak harus membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain. Dengan kata lain, kebutuhan tetap dapat dipenuhi, pencapaian tetap dapat diraih, dan kepemilikan tetap dapat dijalankan secara bertanggung jawab.

Namun, semuanya tidak lagi harus dikristalisasi menjadi “saya”, “milik saya”, “kelompok saya”, atau “saya harus lebih.”

Pada titik inilah kita mulai melihat bahwa yang perlu dilampaui bukan kebutuhan atau kehidupan, melainkan dominasi ke-aku-an yang membungkusnya.

 

Baca juga: Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya? (Bagian 4)

 

Lapisan Spiritual
Manusia juga memiliki Lapisan Spirtual yang seringkali tidak diakses dengan penuh kesadaran. Selama ini kita hanya berfokus pada peran dari setiap pikiran dan perasaan yang muncul. Ternyata diri manusia lebih dari itu, ada sesuatu yang lebih berharga bila kita sadari keberadaannya.

 

Ada Kebutuhan yang Tidak Bisa Dipenuhi dengan Perolehan Semata

Kalau begitu, apa yang terjadi ketika seseorang sudah memiliki, mencapai, dan mengetahui banyak hal, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang belum terpenuhi? Pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan mencari lebih banyak lagi.

Kita dapat menambah harta. Menambah pengalaman. Menambah penghargaan. Menambah pengetahuan. Tetapi “lebih banyak” tidak selalu menghasilkan rasa “cukup”. Di sinilah kita mulai mengenal kemungkinan adanya bentuk kebutuhan dan kepuasan yang berbeda.

Kepuasan spiritual tidak terutama berbicara tentang memperoleh sesuatu yang baru untuk dimiliki. Ia dapat hadir sebagai rasa cukup, rasa utuh, kasih, kepedulian, dan welas asih yang tidak semata-mata diukur berdasarkan keuntungan material atau kepentingan ego.

Misalnya, kita dapat mengetahui bahwa manusia seharusnya saling membantu. Kita dapat membaca berbagai ajaran tentang kasih dan compassion. Kita bahkan dapat menghafal kalimat tentang persaudaraan manusia.

Tetapi mengetahui tentang kasih tidak sama dengan mengalami kasih.

Ada perbedaan antara: “Saya tahu bahwa manusia harus saling membantu.” Dan: “Saya terdorong untuk membantu karena kepentingan diri saya bukan lagi satu-satunya pusat pertimbangan.”

Perbedaan inilah yang penting. Kebutuhan spiritual, dalam kerangka perjalanan ini, memiliki bentuk kepuasannya sendiri. Ia tidak terutama dicari melalui penambahan kepemilikan, pengakuan, atau pengetahuan, melainkan mulai terasa sebagai rasa cukup, kasih, compassion, dan keterhubungan yang tidak lagi sepenuhnya dibungkus oleh ke-aku-an.

Untuk memahami mengapa pengalaman seperti ini berbeda dari sekadar pengetahuan, kita perlu melihat apa yang dimaksud dengan dimensi spiritual itu sendiri.

 

Baca juga: Mengenal Diri: Bukan untuk Menjauh dari Kehidupan (Bagian 5)

 

Apa Itu Dimensi Spiritual?

Pertanyaan ini justru tidak mudah dijawab. Dalam kerangka Lima Lapisan Diri yang menjadi landasan perjalanan ini, manusia dikatakan memiliki lapisan fisik, energi, Pikiran dan Perasaan atau Mind, Inteligensi atau Buddhi, dan Spiritual.

Lapisan Spiritual bukan sesuatu yang baru diciptakan oleh latihan meditasi. Dalam kerangka tersebut, ia dipandang sebagai bagian dari potensi manusia sejak awal, meskipun belum tentu disadari atau dialami secara langsung.

Namun, bagaimana menjelaskan sesuatu yang dikatakan melampaui mind dengan menggunakan bahasa yang justru kita olah melalui mind? Di sinilah kita mengalami keterbatasan bahasa. Kita dapat membaca penelitian, mendengar pengalaman orang lain, mempelajari ajaran Yoga dan Meditasi, atau membaca berbagai penjelasan mengenai spiritualitas.

Semua itu dapat membantu kita berkenalan dengan sebuah kemungkinan. Tetapi pengetahuan yang berasal dari orang lain tetap merupakan pengetahuan yang kita terima. Ia belum menjadi pengalaman kita sendiri. Bayangkan kita memakai sebuah kacamata yang sudah begitu lama kita gunakan sehingga hampir tidak menyadari bahwa kita sedang melihat melalui lensa tertentu. Kita melihat dunia melalui lensa itu dan menganggap apa yang terlihat sebagai keseluruhan kenyataan.

Buddhi mulai membantu kita menyadari bahwa ada lensa, ada pola melihat, dan ada keterbatasan cara pandang. Sedangkan dimensi spiritual bukan sekadar “benda baru” yang kemudian kita lihat dengan kacamata yang sama.

Ia lebih seperti kemungkinan terbukanya cara mengalami kehidupan yang tidak lagi sepenuhnya dibatasi oleh pola lama. Karena itu, Lapisan Spiritual perlu dialami, bukan sekadar didefinisikan.

 

Baca juga: Pikiran dan Meditasi: Mengenal Mind Lebih Dalam (6)

 

Buddhi: Melihat Ego Tanpa Harus Menjadi Musuhnya

Sampai di sini, kita dapat melihat mengapa Buddhi menjadi penting. Mind dapat mengetahui bahwa semua manusia saling terhubung. Mind juga dapat mengetahui bahwa alam perlu dijaga, bahwa eksploitasi berlebihan dapat merusak kehidupan, dan bahwa manusia seharusnya saling mengasihi.

Namun, mengetahui belum tentu berarti mengalami. Sebuah perusahaan dapat mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi tetap mengejar keuntungan dengan mengorbankan lingkungan. Seseorang dapat mengetahui pentingnya kasih, tetapi tetap sulit memberikan kasih ketika harga dirinya merasa terancam.

Sebuah kelompok dapat berbicara tentang persaudaraan, tetapi pada saat yang sama menganggap kelompok lain lebih rendah. Nah, pada level berikutnya, buddhi membantu kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang sebenarnya sedang mengendalikan saya?

Apakah keputusan ini lahir dari kejernihan? Atau dari ketakutan? Keinginan untuk menang? Kebutuhan untuk dipuji? Kebiasaan? Rasa memiliki? Identitas kelompok?

Di sinilah Buddhi mulai memperlihatkan keterbatasan state of mind itu. Kita mulai melihat bahwa hidup tidak harus selalu ditentukan oleh suka dan tidak suka, positif dan negatif, menang dan kalah, memiliki dan tidak memiliki, dipuji dan tidak dipuji. Buddhi tidak menghapus mind.

Lebih jauh, buddhi membantu kita melihat bahwa mind bukan satu-satunya yang harus memimpin. Ketika dominasi mind mulai longgar, terbuka kemungkinan untuk mengalami sesuatu yang lebih dalam.

 

Baca juga: Pikiran adalah Lapisan Ketiga Diri Manusia: Bukan Segalanya (Bagian 7)

 

Melampaui State of Mind Bukan Berarti Meninggalkan Kehidupan

Kata “melampaui” mudah disalahpahami. Melampaui kebutuhan fisik bukan berarti kita tidak membutuhkan makanan. Melampaui keterbatasan fisik bukan berarti melanggar aturan kehidupan fisik. Melampaui ego bukan berarti kita tidak boleh memiliki sesuatu.

Melampaui mind bukan berarti membuang Pikiran dan Perasaan. Kita tetap bekerja. Tetap memiliki keluarga. Tetap menjalankan bisnis. Tetap mengelola keuangan. Tetap membutuhkan rumah, makanan, kesehatan, dan keamanan.

Yang berubah adalah hubungan kita dengan semua itu. Kita dapat memiliki tanpa menjadikan kepemilikan sebagai seluruh identitas. Kita dapat bekerja keras tanpa menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Kita dapat memiliki pendapat tanpa harus menganggap pendapat kita selalu paling benar. Kita dapat mencintai keluarga tanpa menjadikan rasa memiliki sebagai alasan untuk menguasai.

Demikian pula: Bebas dari dogma bukan berarti bebas melakukan apa saja. Bebas dari doktrin bukan berarti hidup tanpa nilai. Justru semakin dalam perjalanan ke dalam diri, semakin penting tanggung jawab dan kejernihan dalam menjalani kehidupan.

Melampaui bukan berarti meninggalkan. Melampaui berarti tidak lagi sepenuhnya diperintah oleh pola yang sebelumnya kita anggap sebagai satu-satunya cara untuk hidup.

 

Baca juga: Pikiran Mengubah Pikiran: Ubah Cara Berpikir dan Responmu (Bagian 8)

 

Lapisan Spiritual
Menyadari keberadaan Lapisan Spiritual dan memberdayakannya, akan membuat kualitas hidup akan lebih baik, ringan dan bahagia. Hidup pun akan dimaknai secara utuh dan membumi.

 

Ketika Keterhubungan Menjadi Pengalaman

Setelah melihat keterbatasan pola Pikiran dan Perasaan, pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar, “Apa yang saya ketahui?”

Pertanyaannya sudah berubah menjadi: “Bagaimana saya mengalami kehidupan ketika ke-aku-an tidak lagi menjadi satu-satunya pusat?”

Di titik inilah pembahasan tentang spiritualitas membawa kita pada pengalaman keterhubungan. Kita dapat memahami secara intelektual bahwa tindakan kita memengaruhi orang lain. Kita dapat memahami bahwa manusia bergantung pada alam.

Kita dapat memahami bahwa kehidupan hewan, tumbuhan, lingkungan, dan manusia saling berkaitan. Tetapi sekali lagi, memahami keterhubungan tidak sama dengan mengalami keterhubungan. Dalam pengalaman spiritual, keterhubungan tidak lagi hanya menjadi kalimat yang kita percaya.

Ia mulai memengaruhi cara kita hidup. Kita mulai mempertanyakan: Apakah tindakan saya hanya menguntungkan saya? Apakah keuntungan saya harus selalu diperoleh dengan mengorbankan orang lain? Apakah saya mampu melihat kehidupan di luar kepentingan kelompok saya?

Kasih dan compassion dalam konteks ini juga bukan semata-mata ketertarikan fisik atau dorongan biologis. Ia adalah kemampuan untuk peduli, membantu, melindungi, berbagi, dan menghargai kehidupan tanpa selalu menuntut keuntungan material sebagai imbalannya.

Ia tidak berhenti pada batas identitas pribadi, kelompok, latar belakang, atau perbedaan yang selama ini digunakan untuk memisahkan manusia.

Namun, semua ini tidak cukup hanya diketahui. Spiritualitas yang hanya berhenti sebagai pengetahuan dapat berubah menjadi dogma baru. Karena itu, pengalaman spiritual perlu menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata, keseharian.

 

Baca juga: Memahami Mind Secara Utuh: Merekonstruksi Bagian-Bagiannya (Bagian 9)

 

Lapisan Spiritual Harus Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari

Perjalanan spiritual bukan berarti seseorang akan selalu berada dalam kondisi spiritual sepanjang waktu. Kesadaran kita dapat bergerak. Pada satu saat kita sangat dikuasai oleh Pikiran dan Perasaan.

Pada saat lain kita mampu mengambil jarak dan menggunakan Buddhi. Pada kesempatan tertentu, kita mungkin mengalami keterhubungan dan rasa cukup yang lebih dalam. Kemudian kita dapat kembali lagi ke keadaan Pikiran dan Perasaan.

Itu bagian dari proses. Yang penting adalah mulai mengenali dari lapisan mana kita sedang merespons kehidupan. Bayangkan seseorang menerima kritik. Jika sepenuhnya dikuasai state of mind, kritik dapat langsung diterjemahkan sebagai serangan terhadap “saya”.

Muncul marah. Muncul keinginan membela diri. Muncul kebutuhan untuk membalas. Ketika Buddhi mulai berperan, terdapat ruang untuk melihat: “Mengapa saya begitu tersinggung?”

Apa yang sebenarnya sedang terluka? Harga diri? Kebiasaan? Identitas?

Ketika pengalaman spiritual mulai hadir, persoalannya dapat dilihat lebih luas lagi. Kritik tidak lagi otomatis dipandang sebagai ancaman terhadap seluruh keberadaan diri. Respons dapat menjadi lebih bebas dari keharusan mempertahankan “saya”.

Inilah sebabnya pengalaman spiritual perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Bukan melalui penampilan yang terlihat “spiritual”, melainkan melalui cara kita menjalani kehidupan yang membumi.

 

Baca juga: Buddhi atau Inteligensi: Kaca Mata Lebih Bijak Dibanding Mind

 

Bagaimana Mengenali Dimensi Spiritual dalam Diri?

Tidak ada satu rumus sederhana untuk menjawabnya. Kita dapat memulainya dari tempat yang paling dekat: mengamati Pikiran dan Perasaan. Apa yang saya pikirkan? Apa yang saya rasakan? Apa yang saya inginkan? Apa yang saya takutkan? Apa yang ingin saya pertahankan? Apa yang membuat saya berkata, “ini saya” atau “ini milik saya”?

Kemudian Buddhi membantu kita melihat semua itu tanpa harus langsung mempercayainya sebagai kebenaran mutlak tentang diri kita.

Kita mulai dapat mengatakan: “Ini adalah cara mind bekerja.”

“Ini adalah pola yang terbentuk dari pengalaman saya.”

“Tetapi saya tidak harus selalu menjadi apa yang sedang dikatakan oleh mind.”

Di sinilah Yoga dan Meditasi menjadi penting sebagai perjalanan ke dalam diri. Bukan sebagai cara untuk mengejar pengalaman luar biasa. Bukan pula sebagai jalan instan menuju keadaan tertentu.

Melainkan sebagai latihan untuk memahami diri, mengenali keadaan Pikiran dan Perasaan, memperkuat kejernihan Buddhi, dan perlahan membuka kemungkinan untuk mengalami dimensi diri yang lebih dalam. Semakin banyak kita mengalami secara langsung, semakin sedikit kita bergantung pada kata-kata orang lain untuk menjelaskan pengalaman tersebut.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apa Itu Lapisan Spiritual dalam Diri Manusia?

Dalam kerangka lima lapisan yang digunakan dalam perjalanan artikel ini, manusia dipahami memiliki lapisan fisik, energi, Pikiran dan Perasaan atau mind, Inteligensi atau Buddhi, dan Lapisan Spiritual.

Dimensi spiritual bukan sekadar pengetahuan, keyakinan, atau kumpulan doktrin. Ia menunjuk pada kemungkinan pengalaman manusia yang tidak lagi sepenuhnya berpusat pada perolehan, kepemilikan, dan ke-aku-an. Karena itu, memahami definisinya saja belum cukup. Dimensi ini perlu dikenali dan dialami secara langsung melalui perjalanan ke dalam diri.

 

2.Bagaimana Cara Mengenali atau Merasakan Dimensi Spiritual dalam Diri?

Tidak ada tanda tunggal yang dapat digunakan untuk memastikan seseorang sudah mengalami dimensi spiritual. Perjalanan dapat dimulai dengan mengamati Pikiran dan Perasaan, mengenali keinginan, ketakutan, keterikatan, serta pola “saya” dan “milik saya”. Dengan bantuan Buddhi, kita bisa belajar melihat pola tersebut tanpa harus selalu diperintah olehnya.

Pengalaman rasa cukup, kasih, compassion, dan keterhubungan dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun, pengalaman seperti ini tidak perlu segera diberi label sebagai “pencapaian spiritual”. Yang lebih penting adalah melihat apakah pengalaman itu benar-benar mengubah cara kita menjalani kehidupan.

 

3.Apakah Meditasi Dapat Membantu Mengenali Dimensi Spiritual Manusia?

Yoga dan Meditasi dapat menjadi sarana untuk melakukan perjalanan ke dalam diri dan mengamati keadaan Pikiran dan Perasaan dengan lebih jernih. Dalam proses tersebut, seseorang dapat mulai mengenali keterbatasan state of mind, menggunakan Buddhi dengan lebih sadar, dan membuka kemungkinan mengalami dimensi diri yang lebih dalam.

Namun, meditasi bukan jaminan untuk memperoleh pengalaman spiritual tertentu. Perjalanan ini membutuhkan latihan, ketekunan, pengamatan, dan proses memahami diri. Yang penting bukan mengejar pengalaman luar biasa, melainkan bagaimana latihan tersebut perlahan memengaruhi cara kita hadir dan menjalani kehidupan.

 

Perjalanan ke Dalam Diri Masih Berlanjut

Pada akhirnya, pertanyaan tentang dimensi kelima membawa kita kembali kepada kehidupan sehari-hari. Apa sebenarnya yang kita cari? Apakah kita hanya ingin memiliki lebih banyak? Mencapai lebih banyak? Mengetahui lebih banyak? Atau ada kebutuhan yang lebih dalam untuk mengalami rasa cukup?

Untuk mengasihi dan dikasihi? Untuk peduli tanpa selalu menghitung keuntungan? Untuk mengalami keterhubungan tanpa harus menghapus perbedaan? Manusia tetap membutuhkan tubuh, energi, hubungan, pekerjaan, pengetahuan, dan berbagai bentuk kepemilikan.

Semua itu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, mungkin kehidupan manusia tidak berhenti di sana. Dalam kerangka lima lapisan yang kita telusuri, dimensi spiritual menunjuk pada kemungkinan dimensi diri yang tidak lagi sepenuhnya berpusat pada perolehan, kepemilikan, dan ke-aku-an.

Ia bukan sesuatu yang harus dipercayai hanya karena dijelaskan. Ia perlu dikenali melalui perjalanan. Ia perlu dialami. Dan ketika pengalaman itu mulai hadir, ia perlu diuji melalui cara kita menjalani kehidupan.

Karena perjalanan ke dalam diri tidak membawa kita semakin jauh dari kehidupan. Sebaliknya, perjalanan itu mengajak kita kembali hadir di dalam kehidupan dengan lebih sadar.

 

One Earth Yoga and Meditation Retreat Centre

One Earth Yoga and Meditation Retreat Centre hadir sebagai ruang untuk belajar dan berlatih melakukan perjalanan ke dalam diri melalui latihan Yoga dan Meditasi. Perjalanan ini bukan tentang mengejar pengalaman luar biasa atau memperoleh label spiritual.

Ia adalah proses mengenali diri, memahami Pikiran dan Perasaan, menggunakan Inteligensi atau Buddhi, dan perlahan membuka kemungkinan untuk mengalami dimensi diri yang lebih dalam. Karena pada akhirnya, perjalanan ke dalam diri bukan tentang meninggalkan kehidupan. Ia tentang belajar hadir di dalam kehidupan dengan lebih sadar.

 

(Tim redaksi – OE)

 

Artikel Relevan:
Back To Top