Skip to content
Meditasi

Meditasi: Napak Tilas ke Dalam Diri — Apa yang Kita Temukan?

Pernahkah Anda membayangkan bahwa Meditasi bukan sekadar meraih ketenangan? Namun ternyata lebih dari itu? Ini adalah perjalanan ke dalam diri untuk mengenali mind, mengolah pemahaman lama, hingga belajar hidup lebih sadar

 

KITA SUDAH DATANG MEMBAWA pemahaman sendiri ketika berkenalan dengan meditasi, dan sebenarnya kita datang tidak dengan kepala kosong. Kita sudah membawa pemahaman pribadi. Dari buku yang pernah dibaca, video yang ditonton, guru yang didengar, percakapan dengan teman, atau pengalaman sendiri. Bagi sebagian orang, meditasi berarti duduk diam. Bagi yang lain, mengatur napas, menenangkan pikiran, mengurangi stres, atau untuk mencari ketenangan semata. Lalu, bagaimana sebaiknya?

Semua itu dapat menjadi titik awal. Tapi, titik awal tidak harus menjadi titik akhir, kan? Sebab pemahaman kita dapat terus berubah. Apa yang kita pahami hari ini bisa menjadi lebih luas ketika bertemu dengan pengalaman baru.

Maka, sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat kembali apa yang selama ini kita pahami tentang meditasi. Barangkali dari sana kita bisa menemukan sesuatu yang lebih menarik dan tidak terduga.

 

Latihan Memang Membawa Ketenangan

Mari kita mulai dari pengalaman yang paling sederhana. Latihan meditasi dapat membuat kita lebih relaks, tenang, fokus, dan lega. Ketenangan, rasa nyaman, bahkan pengalaman positif pada tubuh dapat menjadi hasil dari proses latihan. Dan, tidak ada yang salah dengan itu semua. Kita datang mencari ketenangan, lalu menemukannya. Tentu saja boleh senang.

Tetapi setelah mendapatkan ketenangan, ada pertanyaan yang layak diajukan: Sampai di sinikah? Sebab, bisa jadi ketenangan bukanlah tujuan akhir dari proses perjalanan ini. Bisa jadi, ketenangan justru memberi kita ruang untuk mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak terpikirkan.

 

Perjalanan Ternyata Belum Selesai

Kita bisa merasa tenang ketika sedang berlatih. Tetapi bagaimana ketika latihan selesai dan kita kembali menghadapi pekerjaan, keluarga, kemacetan, kekecewaan, masalah, atau seseorang yang tiba-tiba menguji kesabaran?

Nah, di sinilah kita mulai melihat perbedaan antara tenang saat latihan dan hidup dengan kesadaran. Dua hal yang berbeda, bukan? Lalu, pertanyaan kita pun berubah.

Bukan hanya: “Bagaimana supaya saya tenang?”

Tetapi: “Bagaimana saya menjalani kehidupan dengan lebih sadar?”

Pertanyaan kedua inilah yang akan membawa kita sedikit lebih dalam dan dalam lagi…

 

Baca juga: Apa Itu Meditasi? Gaya Hidup Bijak Agar Tetap Waras

 

Latihan Meditasi dan Hidup Meditatif

Latihan meditasi adalah sesuatu yang dapat kita lakukan secara rutin. Kita menyediakan waktu, menggunakan teknik, mengamati napas, tubuh, pikiran, atau pengalaman batin. Sedangkan hidup meditatif adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ketika latihan itu selesai.

Latihan adalah ruang belajar. Kehidupan adalah tempat kita membawa apa yang telah dipelajari. Kita mungkin bisa duduk tenang selama dua puluh menit atau lebih. Tetapi, kehidupan kadang hanya membutuhkan waktu dua menit untuk menguji ketenangan itu. Sudah ketemu poinnya?  

Satu pesan. Satu komentar. Satu perkataan. Tiba-tiba mind kita punya pendapat sendiri. Banyak sekali yang terpikirkan dan terasa. Maka pertanyaannya menjadi semakin menarik: Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita latih?

 

Meditasi
Tetapi setelah mendapatkan ketenangan, ada pertanyaan yang layak diajukan: Sampai di sinikah? Sebab, bisa jadi ketenangan bukanlah tujuan akhir dari proses perjalanan ini. Bisa jadi, ketenangan justru memberi kita ruang untuk mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak terpikirkan.

 

Kita Bertemu dengan Mind

Di sinilah kita mulai mengenal mind. Mind bukan hanya pikiran. Di dalamnya juga ada perasaan, ingatan, keinginan, kebiasaan, kecenderungan, pengalaman, dan berbagai muatan lainnya yang ikut memengaruhi cara kita melihat serta merespon kehidupan.

Pernahkah kita berkata: “Saya tahu seharusnya tidak marah, tetapi tetap saja marah.”

Atau: “Saya sudah tahu ini tidak perlu dipikirkan, tetapi kok masih terpikir juga?”

Mungkin di situlah kita mulai berkenalan dengan sifat dan cara kerja mind itu. Dalam pemahaman metode Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) yang diracik dan diperkenalkan oleh Maharishi Anand Krishna – Bapak Yoga Meditasi Nusantara, Beliau mengatakan bahwa latihan meditasi merupakan upaya sadar dan disiplin untuk mengolah mind agar kita tidak begitu saja diperbudak oleh kecenderungan-kecenderungannya.

Tetapi begitu kita mengatakan “mengolah mind”, pertanyaan berikutnya muncul: Apa yang sebenarnya ada di dalamnya?

 

Baca juga: Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?

 

Tantangan Terbesar Ada di Sana

Ada sebuah paradoks yang menarik. Kita ingin mengolah mind, tetapi yang harus kita hadapi dalam proses itu justru adalah mind itu sendiri. Ia dapat menyimpan banyak hal tanpa kita sadari. Ada yang masih berguna. Ada yang sudah tidak diperlukan. Ada pula yang mungkin sudah lama kita simpan namun secara tidak sadar telah membentuk cara pandang dan kecenderungan berpikir dan berperasaan kita.

Seperti membuka lemari pakaian yang lama tidak dibersihkan. Awalnya hanya ingin merapikan. Ternyata ada barang yang membuat kita bertanya: Lho, ini masih ada?”

Mind juga bisa begitu. Kita mulai melihat sesuatu yang ternyata sudah lama ikut kita bawa. Dan ketika mulai melihat, kita mungkin menyadari: perjalanan ini tidak selalu senyaman yang kita bayangkan.

 

Tidak Semua yang Kita Temukan Terasa Nyaman

Ketika mulai melihat ke dalam, intens melakukan latihan meditasi, kita tidak selalu menemukan sesuatu yang selalu membuat kita tersenyum. Ada pengalaman yang melegakan. Ada pula yang membuat sedih, berat, tidak nyaman, bahkan memunculkan pergulatan.

Inilah bagian penting yang perlu dipahami dan disadari. Latihan meditasi bukanlah proses yang menjamin kita selalu senang, tenang, adem, dan baik-baik saja. Proses cleansing atau pengolahan mind dapat mempertemukan kita dengan berbagai pengalaman yang tidak pernah terbayangkan bahkan sering di luar dugaan.

Bukan berarti latihan kita gagal. Bukan. Bisa jadi kita telah melangkah lebih  dalam lagi, dan sedang melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat. Ibarat sedang membersihkan rumah, juga begitu. Ketika benar-benar dibersihkan, debu yang selama ini tidak kelihatan akhirnya terlihat.

Bukan karena debunya baru muncul. Tetapi, kita baru melihatnya, menyadarinya. Begitu pula dalam perjalanan ke dalam diri. Kenyamanan dan ketenangan yang kita peroleh dapat menjadi modal dan tenaga pendorong untuk menggali lebih dalam lagi.

 

Pemahaman Lama Bisa Berubah

Pemahaman kita dibentuk oleh apa yang kita baca, dengar, alami, pelajari, dan percayai. Tetapi latihan dan pengalaman dapat mengujinya. Di sinilah pemahaman lama bertemu pengalaman baru. Kadang cocok. Kadang bertabrakan. Kadang membuat kita berkata: “Oh… ternyata selama ini saya melihatnya seperti itu…”

Pengalaman masa lalu pun dapat meninggalkan jejak yang memengaruhi cara kita melihat dan merespon kehidupan. Mungkin berupa keinginan yang tidak terpenuhi, imajinasi, ketakutan, keyakinan, atau pengalaman tertentu yang terus bekerja di dalam diri.

Bukan berarti semua persoalan kita pasti berasal dari masa lalu. Bukan pula berarti semua yang terjadi dahulu harus dianggap buruk. Tetapi jejak pengalaman dapat menjadi bagian dari cara mind bekerja.

Ibarat kacamata, kita begitu sibuk melihat dunia sampai lupa memeriksa kacamata yang kita gunakan. Meditasi (latihan) jusru mengajak kita melakukan sesuatu yang menarik: bukan hanya melihat dunia, tetapi melihat bagaimana kita melihat dunia. Dan dari sinilah, pemahaman baru bisa lahir.

 

Lalu Bagaimana Mengolahnya?

Perjalanan tentu membutuhkan bekal. Dalam latihan meditasi, tubuh, napas, energi, waktu, teknik, dan pemahaman dapat menjadi bagian penting dari proses. Napas merupakan salah satu pintu. Tetapi bukan satu-satunya.

Ada berbagai metode dan teknik latihan meditasi yang dapat membantu kita masuk lebih dalam untuk mengenali dan mengolah mind. Setiap metode memiliki pendekatan dan tujuan yang berbeda. Dan hal ini perlu kita cek sendiri, apakah metode yang sedang kita jalani juga sedang mengolah mind? Atau justru sedang memperkuatnya?

Karena itu, yang penting bukan sekadar memilih teknik, tetapi memahami: Apa yang sedang dilakukan? Mengapa dilakukan? Ke mana latihan itu diarahkan? Ya, teknik memberi cara. Pemahaman memberi arah. Dan latihan memberi pengalaman.

 

Meditasi
Latihan adalah ruang belajar. Kehidupan adalah tempat kita membawa apa yang telah dipelajari. Kita mungkin bisa duduk tenang selama dua puluh menit atau lebih. Tetapi, kehidupan kadang hanya membutuhkan waktu dua menit untuk menguji ketenangan itu. Sudah ketemu poinnya?

 

Berita Baiknya: Kita Bisa Mulai

Ini mungkin bagian yang paling menggembirakan. Kita tidak harus menjadi pemikir meditasi terlebih dahulu. Tidak harus sudah tenang dulu. Tidak harus sudah mampu mengendalikan pikiran dulu. Tidak harus memahami apa itu mind dulu. Tidak.

Kita hanya membutuhkan sesuatu yang sederhana: tekad untuk mulai, semangat untuk menjalani, dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Napas adalah salah satu pintu yang selalu kita bawa. Dan ada banyak metode latihan meditasi yang tersedia, yang dapat kita gunakan untuk membantu perjalanan ke dalam diri.

Kita belajar. Kita berlatih. Kita mengalami. Kita mengamati. Kadang menemukan sesuatu yang menyenangkan. Kadang menemukan sesuatu yang tidak kita harapkan. Tidak apa-apa. Perjalanan ke dalam diri tidak menuntut kita menjadi sempurna sebelum berangkat. Kita hanya perlu bersedia melangkah setahap demi setahap.

 

Dan Akhirnya, Kita Kembali ke Kehidupan

Setelah latihan selesai, kehidupan tetap menunggu. Pekerjaan masih ada. Keluarga masih ada. Masalah mungkin masih ada. Kita pun masih bisa marah, sedih, takut, kecewa, dan salah. Sudah mempraktikkan latihan meditasi bukanlah jaminan bahwa hidup akan selalu tenang dan adem.

Yang perlahan dapat berubah adalah kemampuan kita untuk menyadari apa yang terjadi di dalam diri dan tidak begitu saja mengikuti setiap kecenderungan mind itu – pola lama pikiran dan perasaan kita. Di sanalah latihan mulai menemukan maknanya.

Kita tidak berlatih untuk melarikan diri dari kehidupan. Kita berlatih agar dapat kembali ke dalam kehidupan dengan kesadaran yang berbeda. Mungkin itulah yang kita temukan dalam napak tilas ke dalam diri. Kita menemukan ketenangan. Kita menemukan kesehatan. Kita menemukan pengalaman dan beban yang perlu diolah. Kita menemukan pola-pola lama. Kita menemukan bahwa pemahaman dapat berubah.

Dan mungkin yang paling penting: kita menemukan bahwa diri kita masih dapat dipahami lebih dalam. Sementara pada saat yang sama, kita begitu terfokusnya melihat ke luar diri. Memperbaiki rumah. Membersihkan kamar. Merapikan pekerjaan. Mengurus banyak hal. Tetapi mungkin ada satu ruang yang sering terlupakan, yakni: ruang yang ada di dalam diri.

Maka pertanyaan tentang meditasi akhirnya bukan hanya: “Berapa lama saya bermeditasi?”

Tetapi: “Seberapa sadar saya menjalani kehidupan setelah latihan itu selesai?”

Sebab, kita tidak berlatih untuk melarikan diri dari kehidupan. Kita berlatih untuk hadir di dalamnya dengan lebih sadar. Tenang bukan berarti selesai. Bisa jadi, ketika kita mulai tenang, kita justru baru mulai melihat. Dan ketika mulai melihat, napak tilas ke dalam diri pun benar-benar dimulai.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

 

1, Apakah meditasi memang hanya untuk membuat pikiran tenang?

Ketenangan memang bisa menjadi salah satu pengalaman yang kita peroleh dari latihan meditasi. Kita mungkin merasa tubuh lebih relaks, pikiran lebih tenang, perhatian lebih terarah, atau beban terasa sedikit lebih ringan. Bagi banyak orang, pengalaman seperti inilah yang pertama kali membuat mereka tertarik untuk bermeditasi.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi mungkin kita bisa bertanya lebih jauh: Setelah kita menjadi tenang, lalu apa?

Ketenangan dapat menjadi ruang untuk mulai melihat. Ketika tidak terus-menerus terbawa oleh kesibukan dan reaksi spontan, kita memiliki kesempatan untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri. Kita mulai memperhatikan pikiran, perasaan, kebiasaan, keinginan, dan berbagai kecenderungan yang selama ini mungkin berjalan begitu saja.

Karena itu, meditasi tidak harus berhenti pada pengalaman tenang. Ketenangan justru bisa menjadi awal dari perjalanan untuk memahami diri dengan lebih sadar.

 

2. Kalau saat meditasi justru muncul banyak pikiran, emosi, atau kenangan, apakah saya gagal bermeditasi?

Tidak. Banyak orang yang baru mulai bermeditasi mengalami hal yang sama. Ketika duduk diam, bukannya pikiran menjadi kosong, justru berbagai hal terasa bermunculan. Memikirkan pekerjaan. Mengingat percakapan tadi pagi. Tiba-tiba teringat pengalaman lama. Merasakan sedih, kesal, takut, atau bahkan memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama dilupakan.

Lalu muncul pertanyaan: “Bukankah saya sedang meditasi? Mengapa malah semakin banyak yang muncul?”

Di sinilah kita perlu melihatnya dengan cara yang berbeda. Bisa jadi bukan karena semua itu baru muncul. Namun, kita justru baru mulai melihatnya.

Seperti membuka lemari lama yang sudah bertahun-tahun tidak diperiksa. Ketika pintunya dibuka, kita menemukan berbagai barang di dalamnya. Ada yang masih kita perlukan, ada yang sudah tidak berguna, ada yang membuat kita tersenyum, dan ada pula yang membuat kita bertanya: “Lho… ini masih ada?”

Begitu pula perjalanan ke dalam diri. Meditasi tidak selalu berarti membuat semua pengalaman yang tidak nyaman menghilang. Dalam proses pengamatan dan pengolahan diri, kita mungkin justru mulai mengenali hal-hal yang sebelumnya tidak kita sadari.

Yang penting adalah tidak buru-buru menyimpulkan bahwa munculnya pikiran atau emosi berarti latihan kita gagal. Mungkin kita sedang mulai melihat apa yang selama tersimpan di dalam diri.

 

3. Bagaimana saya tahu bahwa latihan meditasi mulai membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari?

Perubahan tidak selalu terlihat dari seberapa lama kita mampu duduk bermeditasi atau seberapa tenang perasaan kita selama latihan. Coba lihat apa yang terjadi setelah kita kembali menjalani kehidupan. Ketika seseorang berkata sesuatu yang tidak kita sukai, apakah kita langsung bereaksi seperti biasanya?

Ketika pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, apakah kita sepenuhnya terseret oleh kekesalan? Ketika menghadapi kemacetan, masalah, kekecewaan, atau konflik, apakah kita mulai mampu menyadari apa yang terjadi di dalam diri sebelum memberikan respon?

Bukan berarti setelah bermeditasi kita tidak akan pernah marah, sedih, takut, kecewa, atau melakukan kesalahan. Kita tetap manusia. Tetapi, mungkin secara perlahan muncul sesuatu yang sebelumnya lebih sulit kita temukan, yakni: kesadaran.

Kita mulai menyadari apa yang sedang kita pikirkan. Menyadari apa yang sedang kita rasakan. Menyadari kecenderungan kita untuk bereaksi. Dan mulai melihat ada sedikit ruang untuk memilih bagaimana kita akan merespon.

Di sinilah latihan meditasi mulai menemukan maknanya dalam kehidupan. Kita tidak berlatih untuk menciptakan kehidupan yang selalu tenang. Kita berlatih agar dapat hadir di dalam kehidupan dengan lebih sadar. Sebab pada akhirnya, meditasi bukan tentang melarikan diri dari kehidupan.

Kita masih kembali kepada pekerjaan. Kembali kepada keluarga. Kembali kepada berbagai persoalan. Kembali kepada dunia yang tetap bergerak. Namun, kita dapat kembali dengan cara hadir yang sedikit berbeda. Tenang bukan berarti selesai. Bisa jadi, ketika kita mulai tenang, kita justru baru mulai melihat secara lebih luas dan dalam. Dan ketika mulai melihat, napak tilas ke dalam diri benar-benar telah dimulai.

 

(Tim redaksi – OE)

Back To Top