Sering mengalami pikiran dan perasaan tidak selaras? Perasaan suka berubah-ubah? Pikiran Mudah Gelisah? Untuk mengetahui…

Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya
Memahami Cara Kerja Pikiran dan Perasaan seperti Spektrum: Mengapa satu pikiran dapat melahirkan pikiran lainnya, berubah bentuk, dan membentuk pola yang memengaruhi cara kita menjalani kehidupan?
(Bagian 3)
PAGI ITU, SEPERTI BIASANYA, kita duduk menikmati sarapan ditemani secangkir kopi atau teh dan tiba-tiba perenungan sehari sebelumnya tentang Cara Kerja Pikiran muncul perlahan. Ponsel ada di dekat kita. Lalu, masuk sebuah pesan dari seseorang yang kita sukai. Ada jeda, peralihan dalam pikiran. Kita tersenyum. Apa lagi nih? Awalnya sederhana. Hanya sebuah pesan.
Namun beberapa menit kemudian, pikiran kita sudah bergerak ke mana-mana. Muncul rasa senang, keinginan untuk segera membalas, lalu menunggu. Perenungan sebelumnya, tertunda. Demikianlah selalu pikiran, bisa melompat dari satu pikiran ke pikiran lainnya.
Ketika balasan belum datang, mulai muncul bayangan: “Mungkin dia sedang sibuk.” Lalu muncul harapan. Tidak lama kemudian, rasa lainnya muncul: kekhawatiran. Padahal beberapa menit sebelumnya kita hanya sedang menikmati sarapan dan aliran pikiran yang mengasyikkan.
Pernahkah kita memperhatikan bagaimana pikiran dan perasaan bisa bergerak sejauh itu?
Dari Mengenali Mind, Mulai Melihat Geraknya
Pada artikel sebelumnya, kita sudah belajar bahwa di dalam diri kita ada pikiran dan perasaan atau Mind, dengan berbagai sifat dan kecenderungannya. Kita sudah mulai mengenali sifat-sifat mind: suka dan tidak suka, nyaman dan tidak nyaman, berani dan takut, aktif atau ingin menghindar.
Sekarang kita melangkah sedikit lebih jauh. Bukan lagi sekadar bertanya, “Apa yang saya rasakan?”
Melainkan: “Bagaimana semua itu bisa bergerak dan sampai menjadi seperti sekarang?”
Di sinilah kita mulai melihat bahwa pikiran dan perasaan tidak selalu muncul sendirian. Satu hal dapat memunculkan hal lain. Kemudian hal lain itu dapat memunculkan yang berikutnya. Ternyata, ada polanya.
Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)
Mengenal “Program Bawaan Mind”
Untuk memahaminya dengan sederhana, kita bisa menggunakan istilah Program Bawaan Mind. Bayangkan sebuah gadget yang sudah memiliki berbagai aplikasi di dalamnya. Ketika kita membuka salah satu aplikasi, sesuatu dapat kita akses. Aplikasi yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda dan dapat digunakan secara bersamaan.
Tentu saja, mind bukan komputer dan tidak bekerja seperti program komputer yang kaku. Ini hanya sebuah analogi sederhana untuk membantu kita mengenali berbagai hal yang sudah ada dan dapat aktif di dalam diri.
Program Bawaan Mind adalah istilah sederhana untuk mengenali berbagai bentuk pikiran dan perasaan—seperti keinginan, pertimbangan, ingatan, perhitungan, suka, tidak suka, cinta, benci, obsesi, kesan atau impresi, dan berbagai kecenderungan lainnya—yang dapat muncul, saling berinteraksi, dan membentuk pola dalam diri kita.
Kadang satu keinginan muncul bersama ingatan. Ingatan membawa kesan. Kesan memunculkan perasaan. Perasaan kemudian memengaruhi pikiran. Pikiran membuat pertimbangan. Pertimbangan dapat melahirkan perhitungan sebelum akhirnya kita melakukan sesuatu.
Dan tidak selalu urutannya sama. Tidak selalu semuanya muncul sekaligus. Namun, ketika kita mulai memperhatikannya, kita dapat melihat bahwa di dalam diri kita sebenarnya banyak hal yang bergerak.
“Begitu Ini Muncul, Sering Kali Itu Mengikuti”
Misalnya kita sangat menyukai sesuatu. Suka dapat melahirkan keinginan untuk mendapatkannya. Keinginan mendorong kita mengejar. Ketika mendapatkannya, muncul keinginan untuk memiliki lebih banyak.
Kemudian muncul kekhawatiran akan kehilangan. Lalu kita ingin mempertahankan. Sebuah kecenderungan sederhana ternyata dapat berkembang menjadi rangkaian yang panjang.
Hal yang sama dapat terjadi ketika kita tidak menyukai sesuatu. Tidak suka dapat membuat kita menolak. Penolakan dapat membuat kita menghindar. Namun sesuatu yang kita hindari belum tentu hilang dari pikiran. Kita justru bisa terus mengingatnya.
Ingatan kembali memunculkan kesan yang sama. Rasa tidak suka menjadi semakin kuat. Penolakan pun semakin kuat. Seolah-olah ada pola sederhana: begitu ini muncul, sering kali itu mengikuti. Inilah yang secara sederhana dapat kita sebut sebagai pola dan cara kerja Mind.

Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)
Satu Bentuk Dapat Melahirkan Bentuk Lain
Menariknya, satu pikiran atau perasaan tidak selalu berhenti pada bentuk awalnya. Keinginan dapat melahirkan keinginan berikutnya. Ingatan dapat memunculkan perasaan. Perasaan dapat melahirkan pikiran.
Pikiran dapat memunculkan imajinasi. Imajinasi dapat menjadi harapan atau kekhawatiran. Kekhawatiran dapat memunculkan pertimbangan. Dari pertimbangan, bisa muncul keputusan. Begitu seterusnya.
Karena itu, ketika kita bertanya tentang Cara Kerja Pikiran (baca juga: Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), karya Maharishi Anand Krishna), kita sebenarnya sedang melihat sebuah gerakan yang terus berlangsung. Satu hal bertemu dengan hal lain. Kemudian lahir bentuk berikutnya. Dan bentuk berikutnya dapat kembali memengaruhi apa yang muncul sesudahnya.
Mind sebagai Spektrum
Mungkin karena itu pula, mind lebih mudah dipahami jika kita membayangkannya seperti spektrum cahaya. Cahaya tidak hanya putih atau hitam. Di dalamnya terdapat banyak warna. Warna-warna itu dapat muncul sendiri, bercampur, berubah intensitas, dan menghasilkan nuansa yang berbeda.
Begitu pula pikiran dan perasaan. Kita mungkin mengatakan, “Saya suka ini.”
Namun di balik rasa suka itu bisa muncul: “Saya ingin mendapatkannya.”
Lalu: “Saya harus mendapatkannya.”
Kemudian: “Saya tidak ingin kehilangan ini.”
Satu rasa suka ternyata dapat berkembang menjadi keinginan, tuntutan, kekhawatiran, bahkan dorongan untuk mempertahankan. Karena itu, mind tidak selalu dapat dibaca hanya sebagai positif atau negatif, suka atau tidak suka.
Ya, ada banyak bentuk dan nuansa di antaranya. Bahkan satu bentuk dapat berubah ketika bertemu dengan bentuk lainnya.
Mengapa Pola Setiap Orang Berbeda?
Kalau begitu, mengapa orang yang mengalami kejadian serupa dapat memberikan respon yang sangat berbeda? Itu karena Program Bawaan Mind yang kita miliki tidak berdiri sendirian. Pengalaman hidup, pendidikan, keluarga, lingkungan, kebiasaan, informasi yang kita terima, budaya, serta berbagai kesan yang tersimpan di dalam diri ikut memengaruhi bagaimana pola tersebut berkembang.
Doktrin dan dogma yang terus diulang juga dapat memperkuat pola tertentu. Karena itu, ketika kita mulai bertanya tentang penyebab pola kerja pikiran, kita tidak cukup hanya melihat pikiran yang muncul saat ini. Kita juga perlu menyadari berbagai pengalaman, pendidikan, kebiasaan, lingkungan, budaya, doktrin, dogma, dan kesan yang telah ikut membentuk cara kita melihat sesuatu.
Dua orang dapat menerima kritik yang sama. Yang satu merasa tertantang. Yang lain merasa tersinggung. Yang satu ingin belajar. Yang lain ingin menghindar. Peristiwa yang sama, tetapi pola yang bergerak di dalam diri bisa berbeda. Bukan berarti salah satunya pasti lebih benar. Namun, kita sedang belajar melihat bahwa setiap orang membawa rangkaian pengalaman dan kesan yang berbeda.
Ketika Pola Menjadi Begitu Akrab
Ada hal lain yang menarik. Pola yang berulang lama-lama terasa begitu biasa. Kita bahkan mungkin berkata: “Memang saya orangnya seperti ini.”
Padahal bisa jadi yang kita sebut “saya” adalah pola yang sudah begitu sering muncul sehingga terasa sangat akrab. Kita terbiasa marah dengan cara tertentu. Terbiasa khawatir dengan cara tertentu. Terbiasa mengejar sesuatu. Terbiasa menghindari sesuatu.
Terbiasa menyukai hal tertentu dan menolak hal lainnya. Karena sudah berulang, kita mungkin tidak lagi melihat prosesnya. Kita hanya melihat hasil akhirnya. Semua terasa mudah terjadi.
Kembali ke Meja Sarapan
Mari kembali ke meja sarapan kita. Kembali melihat makanan favorit yang tersaji. Awalnya hanya melihat. Kemudian muncul rasa lapar lagi. Ingatan tentang rasanya ikut muncul. Lalu muncul keinginan untuk mengambil. Setelah itu mungkin muncul pertimbangan: “Masih panas atau tidak?”
Kemudian perhitungan kecil terjadi: “Kalau saya makan sekarang, masih sempat sebelum berangkat kerja?”
Semua berlangsung begitu cepat sehingga kita hampir tidak menyadarinya. Atau bayangkan seseorang mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai. Ucapan itu terdengar. Lalu, muncul rasa tidak nyaman. Ingatan tentang pengalaman sebelumnya pun ikut hadir. Kesan lama muncul. Kemudian muncul dorongan untuk menjawab, diam, menjauh, atau bahkan membalas.
Kalau kita memperhatikannya dengan tenang, kita mungkin mulai melihat: “Oh, ternyata tidak hanya satu perasaan yang muncul.” Tetapi ada rangkaian di belakangnya. Ada pola. Ada gerakan. Dan di sinilah pengamatan itu akan menjadi menarik terhadap Cara Kerja Pikiran dan Perasaan itu sendiri…
Dari Mengetahui Menjadi Melihat
Kita tidak perlu buru-buru mengubahnya. Untuk sementara, cukup melihat. Ketika keinginan muncul, lihat. Ketika ingatan muncul, lihat. Ketika rasa suka atau tidak suka muncul, lihat. Ketika pertimbangan muncul, lihat.
Bahkan ketika dari semua itu kemudian muncul perenungan yang lebih matang atau pertimbangan yang lebih bijaksana, kita juga dapat melihatnya. Sebab tujuan kita pada tahap ini bukan menghakimi apakah pikiran tertentu baik atau buruk.
Kita sedang belajar mengenali geraknya. Dari sekadar mengetahui bahwa kita mempunyai pikiran dan perasaan, kita mulai melihat adanya: Cara Kerja Pikiran dan perasaan itu sendiri – sesuatu yang sering kita abaikan.
Ketika Kita Mulai Melihat, Muncul Jarak
Ada sesuatu yang perlahan terjadi ketika kita benar-benar melihat pola tersebut. Kita mulai memiliki jarak. Bukan berarti pikiran harus dihentikan. Bukan berarti perasaan harus ditolak. Bukan pula berarti kita harus memaksa diri menjadi tenang.
Hanya karena kita melihat bahwa: “Ini pikiran yang sedang muncul.”
“Ini perasaan yang sedang bergerak.”
“Ini pola yang selama ini sering terjadi.”
Maka kita tidak lagi sepenuhnya terseret oleh apa yang sedang berlangsung. Di antara munculnya sesuatu dan reaksi kita, mulai ada sedikit ruang. Ada jeda. Dan kadang-kadang, jeda kecil itu sudah cukup untuk membuat kita melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
Pikiran dan Perasaan Bukan Keseluruhan Diri Kita
Mungkin di titik ini muncul kesadaran yang sederhana. Kalau kita dapat melihat pola dan cara kerja pikiran dan perasaan yang sedang muncul, berarti pikiran dan perasaan itu bukanlah keseluruhan diri kita. Karena kita dapat menyaksikannya, melihatnya.
Rasa suka dapat muncul. Tidak suka dapat muncul. Takut dapat muncul. Keinginan dapat muncul. Ingatan dapat muncul. Kemudian semuanya dapat berubah. Apa yang tadi terasa sangat kuat, beberapa waktu kemudian bisa menjadi lebih ringan.
Apa yang tadi kita inginkan, suatu hari mungkin tidak lagi kita inginkan. Apa yang dulu kita takuti, mungkin suatu hari tidak lagi menakutkan. Kita mulai melihat bahwa berbagai bentuk di dalam mind dapat bergerak dan berubah secara acak, tak terduga dan tidak bisa dipilih.

“Oh… Ternyata Begini Cara Kerja Mind Saya”
Pada artikel pertama dalam rangkaian ini, kita belajar mengenali bahwa kita memiliki pikiran dan perasaan. Pada artikel berikutnya, kita mulai mengenali sifat dan kecenderungannya.
Sekarang kita melihat sesuatu yang lebih dalam: bagaimana berbagai kecenderungan itu bergerak, saling memengaruhi, berubah bentuk, dan membentuk pola. Kita mengenal istilah sederhana: Program Bawaan Mind untuk membantu melihat berbagai bentuk yang dapat muncul di dalam diri.
Kita melihat bagaimana satu bentuk dapat memunculkan bentuk lainnya. Kita melihat mind seperti spektrum yang luas, berlapis, bukan sekadar dua kutub sederhana. Kita juga mulai memahami mengapa pola setiap orang berbeda.
Dan ketika kita sungguh-sungguh mengamatinya, perlahan muncul jarak dan jeda. Mungkin kemudian, di tengah kehidupan sehari-hari, kita tiba-tiba dapat berhenti sejenak dan tersenyum: “Oh… ternyata begini cara kerja pikiran dan perasaan saya.”
Bukan karena kita sudah menguasainya. Bukan pula karena semuanya sudah berubah. Tetapi karena untuk pertama kalinya, kita mulai melihat. Dan dari melihat, muncul sebuah pertanyaan baru: Kalau saya sudah bisa melihatnya, lalu apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang saya lihat? Pertanyaan itulah yang akan membawa kita melangkah lebih jauh lagi, memasuki tahap berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa yang dimaksud dengan Program Bawaan Mind?
Program Bawaan Mind adalah istilah sederhana yang digunakan untuk membantu kita mengenali berbagai bentuk pikiran dan perasaan yang dapat muncul di dalam diri, seperti keinginan, pertimbangan, ingatan, perhitungan, suka, tidak suka, cinta, benci, obsesi, kesan atau impresi, dan berbagai kecenderungan lainnya.
Istilah ini hanyalah analogi, bukan berarti mind bekerja seperti program komputer yang kaku. Berbagai bentuk tersebut dapat muncul dan saling berinteraksi, sehingga membentuk pola yang berbeda dalam kehidupan kita.
2. Apakah Program Bawaan Mind menentukan cara kita berpikir dan bertindak?
Tidak sesederhana itu. Berbagai kecenderungan di dalam mind berinteraksi dengan pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan, kebiasaan, informasi, budaya, serta kesan yang tersimpan dalam diri. Karena itu, pola yang terbentuk dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya.
Mengenali pola juga bukan berarti memberi label bahwa diri kita sudah “diprogram” dan tidak dapat berubah. Pada tahap ini, yang penting adalah mulai melihat adanya Pola tersebut sebagaimana adanya.
3. Mengapa kita perlu mengenali pola dan cara kerja pikiran dan perasaan/Mind?
Karena pola yang tidak kita sadari sering kali kita ikuti begitu saja, tanpa kendali. Namun, ketika kita mulai dapat melihat bagaimana sebuah aliran, gerakan pikiran atau perasaan muncul, berkembang, lalu memengaruhi pikiran atau perasaan berikutnya, kita mulai dapat memiliki jarak, jeda terhadap proses (aliran dan gerakan) tersebut.
Dari sana dapat muncul jeda—ruang kecil antara apa yang muncul di dalam diri dan bagaimana kita meresponnya. Jeda itulah yang membuka kesempatan bagi kita untuk dapat melihat diri dengan lebih jernih – seperti menempatkan kita pada cara melihat seekor burung yang ada di atas awan-awan.
(Tim redaksi – OE)
Artikel Relevan:
- Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan? Pahami Cara Kerja Pikiran
- Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
- Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
- Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Kenali Polanya, Bukan Memusuhinya
- Anand Krishna dari Solo: Memahami Diri, Menemukan Inner Peace, Mewujudkan Global Harmony
- Mengapa Membersihkan Pikiran Penting dalam Praktik Meditasi?
- Meditasi: Napak Tilas ke Dalam Diri — Apa yang Kita Temukan?
