Mungkin kita tidak harus menerima diri kita begitu saja. Bahwa apa yang terpikirkan dan terasakan…

Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan? Pahami Cara Kerja Pikiran
Memahami sifat dan cara kerja pikiran, mengenali muatan di dalamnya, dan hadirkan kejernihan agar kekhawatiran tidak selalu mengambil alih kehidupan kita hari ini. Pikiran yang Selalu Menghkawatrikan Masa Depan adalah alami, karena demikianlah kodrat dari Pikiran dan Perasaan. Kita dapat memahami dan kemudian mengelolanya.
SEBERAPA SERING ANDA Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan yang dapat membuat hidup begitu menggelisahkan? Sedang menjalani sebuah hari yang sebenarnya baik-baik saja, tetapi tiba-tiba pikiran membawa kita kepada sesuatu yang belum terjadi?
“Bagaimana kalau nanti gagal?”
“Bagaimana kalau keadaan berubah?”
“Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?”
Kita masih berada di hari ini, tetapi pikiran seolah-olah sudah lebih dahulu hidup di hari esok. Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan merupakan pengalaman yang sangat manusiawi. Kekhawatiran pun tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, ia membantu kita mengenali risiko, mempersiapkan diri, dan mengambil langkah sebelum sesuatu terjadi.
Persoalan baru muncul ketika kewaspadaan berubah menjadi putaran pikiran yang tidak kunjung selesai. Kita terus membayangkan kemungkinan, menganalisis berbagai skenario, dan bertanya, “Bagaimana kalau…?” sampai tubuh pun ikut merasa lelah.
Tanpa disadari, perhatian yang seharusnya berada pada kehidupan hari ini justru tersedot ke sesuatu yang belum tentu terjadi. Lalu, mengapa pikiran bisa bekerja seperti itu? Mengapa Pikiran Membawa Kita ke Masa Depan?
Pikiran dan perasaan bekerja dengan berbagai hal yang sudah tersimpan di dalam diri: pengalaman, ingatan, pengetahuan, harapan, ketakutan, keinginan, serta kesan-kesan dari berbagai peristiwa yang pernah kita alami.
Dari bentuk-bentuk pikiran dan perasaan tersebut, pikiran dan perasaan kemudian menyusun berbagai kemungkinan. Ketika kemungkinan yang dibayangkan terasa menyenangkan, kita dapat menyebutnya harapan. Sebaliknya, ketika kemungkinan tersebut terasa mengancam, muncullah kekhawatiran tambahan.
Karena itu, Pikiran Mengkhawatirkan Masa Depan tidak selalu berarti seseorang sedang berpikir negatif. Pikiran memang memiliki kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Kemampuan tersebut sebenarnya sangat berguna dan alami. Kita dapat memperkirakan risiko sebelum mengambil keputusan. Kita dapat belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita juga dapat membuat rencana agar lebih siap menghadapi berbagai keadaan.
Namun, ada perbedaan antara mempersiapkan masa depan dan terus-menerus menjalani masa depan di dalam pikiran. Yang pertama dapat menghasilkan kesiapan. Yang kedua justru dapat menguras energi.
Perbedaan inilah yang penting untuk kita kenali. Sebab sering kali masalahnya bukan pada kemampuan berpikir tentang masa depan, melainkan pada saat pikiran terus bergerak tanpa memberikan ruang untuk kembali kepada saat ini.
Baca juga: Tempat Pemulihan Stres Secara Holistik dan Alami
Ketika Kekhawatiran Tidak Lagi Membantu
Bayangkan sebuah alarm. Sesekali alarm berbunyi untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Itu berguna. Namun, bagaimana jika alarm tersebut tidak pernah berhenti? Alih-alih membuat kita semakin siap, suara alarm yang terus-menerus justru membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi siaga. Hal serupa dapat terjadi di dalam diri.
Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan dapat menjadi melelahkan ketika satu kemungkinan melahirkan kemungkinan lain, lalu semuanya terasa seperti sesuatu yang harus segera dipikirkan.
“Bagaimana kalau ini terjadi?”
Lalu muncul pertanyaan berikutnya: “Kalau itu terjadi, bagaimana?”
Pikiran kemudian membuat skenario baru. Skenario tersebut menimbulkan perasaan tertentu. Perasaan itu kembali memengaruhi pikiran. Siklus pun terus berlanjut. Padahal, belum tentu satu pun dari semua kemungkinan itu akan benar-benar terjadi. Mengapa Pikiran Mengkhawatirkan Masa Depan? Salah satu jawabannya adalah karena pikiran sedang berusaha menghadapi sesuatu yang belum diketahui dengan menggunakan bahan yang sudah dimilikinya.
Ia mencoba memprediksi. Ia mencoba memahami. Ia bahkan berusaha mendapatkan kepastian dari sesuatu yang pada dasarnya belum dapat diketahui sepenuhnya. Ketika proses ini tidak disadari, kemungkinan yang muncul di dalam pikiran dapat terasa seperti kenyataan. Kita mulai bereaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Padahal, kemungkinan bukanlah kenyataan.

Apakah Semua Kekhawatiran Harus Diikuti?
Ketika rasa khawatir muncul, kita sering ingin segera menghilangkannya. Namun, mungkin ada pertanyaan yang lebih sederhana: “Apa yang memang dapat saya lakukan sekarang?”
Jika ada sesuatu yang perlu dipersiapkan, persiapkan. Jika ada keputusan yang perlu dipertimbangkan, pertimbangkan dengan tenang. Jika ada tindakan yang dapat dilakukan hari ini, lakukan bagian kita sebaik mungkin.
Tetapi jika belum ada tindakan yang dapat dilakukan sekarang, apakah kita perlu terus memikirkannya? Belum tentu. Di sinilah Cara Mengatasi Rasa Khawatir dapat dimulai: dengan membedakan antara kekhawatiran yang mendorong tindakan dan kekhawatiran yang hanya menghasilkan pengulangan.
Kita tetap dapat membuat rencana. Kita tetap dapat berhati-hati. Kita tetap dapat belajar dari pengalaman. Namun, setelah melakukan bagian yang memang dapat dilakukan, ada saatnya perhatian dikembalikan kepada kehidupan yang sedang berlangsung. Masa depan perlu dipersiapkan, tetapi belum perlu dijalani hari ini.
Baca juga: Mengapa Pikiran Sulit Dihentikan? Pahami Alasannya Dalam Diri
Mungkin Bukan Kekhawatirannya yang Perlu Dihilangkan
Dari sini kita dapat melihat sesuatu yang penting. Mungkin tujuan kita bukan membuat pikiran berhenti khawatir sama sekali. Selama kita hidup, pikiran dan perasaan akan terus bergerak. Akan selalu ada hal yang menyenangkan, tidak menyenangkan, pasti, maupun tidak pasti.
Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana melihat gerakan tersebut tanpa langsung terseret olehnya. Dalam pemahaman metode Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), mind memiliki berbagai bentuk dan dinamika. Di dalamnya terdapat pengalaman, ingatan, kesan, keinginan, ketakutan, harapan, rasa suka, rasa tidak suka, dan berbagai muatan lainnya. Semua itu dapat saling memengaruhi.
Karena itu, ketika mengatakan, “Saya khawatir,” mungkin kita dapat berhenti sejenak dan mengamati: Apa sebenarnya yang sedang saya khawatirkan? Apakah ini fakta? Apakah ini kemungkinan? Ataukah ini hanya bayangan yang sedang dibentuk oleh pikiran?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menciptakan jarak. Dan jarak memberikan kesempatan untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Memperlambat Pikiran, Bukan Memusuhinya
Ketika pikiran bergerak terlalu cepat, kita mudah mengikuti alurnya tanpa sempat mengamati. Karena itu, langkah awal yang sederhana adalah dengan memperlambatnya. Perhatikan napas. Tarik napas dengan tenang. Buang napas perlahan. Santai. Relaks.
Tidak perlu memaksa pikiran menjadi kosong. Tidak perlu memerangi kekhawatiran. Cukup mulai menyadari bahwa pikiran sedang bergerak. Dan kKetika kemampuan mengamati seperti ini mulai tumbuh, kita dapat mengalami sesuatu yang berbeda. Pikiran yang sebelumnya terasa begitu mendominasi, kini mulai dapat dilihat sebagai sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri – sudah ada tercipta jarak dengan pikiran tersebut.
Ada pikiran. Ada perasaan. Dan ada kesadaran yang mengamati keduanya. Di situlah sebuah ruang mulai terbentuk. Mungkin pada awalnya ruang tersebut terasa sangat kecil. Namun, melalui latihan, kita dapat belajar memperluasnya. Dengan adanya ruang atau jarak tersebut, kita tidak lagi harus langsung percaya secara spontan pada setiap pikiran dan perasaan yang muncul, terlebih yang bersifat negatif.
Baca juga: Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
Ketika Muatan Pikiran Mulai Berkurang
Memperlambat aliran pikiran merupakan satu bagian dari perjalanan. Bagian lainnya adalah memahami muatan yang membuat pikiran dan perasaan tertentu memiliki daya pengaruh begitu kuat.
Sebuah pengalaman mungkin sudah berlalu bertahun-tahun. Namun, ketika memiliki muatan tertentu, pengalaman tersebut dapat kembali terasa kuat ketika muncul pemicu yang sesuai.
Hal yang sama dapat terjadi pada kekhawatiran. Kadang persoalan hari ini sebenarnya sederhana. Namun, respon kita terasa sangat besar karena menyentuh sesuatu yang sudah tersimpan di dalam diri.
Dalam pendekatan Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), terdapat proses cleansing atau pembersihan muatan pikiran dan perasaan. Tujuannya bukan menghapus seluruh pengalaman hidup. Bukan pula membuat kita tidak pernah memiliki pikiran negatif atau rasa khawatir.
Yang ingin dikurangi adalah daya pengaruh muatan tersebut, sehingga kita tidak mudah dikuasai olehnya. Ketika muatan mulai lebih ringan, jarak terhadap pikiran dan perasaan pun dapat terasa lebih luas. Kita mulai mampu mengatakan: “Oh, rasa khawatir ini sedang muncul.”
Bukan lagi: “Saya harus mengikuti rasa khawatir ini.”
Perbedaannya tampak sederhana. Namun, di situlah proses mengenal diri mulai menjadi nyata.

Dari Kekhawatiran Menuju Kejernihan
Ketika ruang dan jarak mulai terbentuk, kita dapat mengenali peran Buddhi atau Inteligensi. Dalam kerangka Metode Meditasi NSE, manusia dipahami memiliki beberapa lapisan kesadaran: fisik, energi, mind, Buddhi/Inteligensi, dan spiritual.
Buddhi bukan sekadar pikiran yang lebih pintar. Ia merupakan kemampuan untuk melihat dengan lebih luas, membedakan, mempertimbangkan, dan memilih dengan lebih jernih.
Mind mungkin berkata: “Bagaimana kalau semuanya gagal?”
Buddhi dapat bertanya: “Apa yang sebenarnya dapat saya lakukan sekarang?”
Mind berkata: “Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?”
Buddhi bertanya: “Apakah itu sudah terjadi, atau baru kemungkinan?”
Di satu sisi, mind ingin mendapatkan kepastian. Di sisi lain, Buddhi dapat membantu kita menerima bahwa tidak semua hal dapat dipastikan. Dengan demikian, keputusan tidak harus lahir dari kekhawatiran. Kita tetap dapat berhati-hati. Namun, kita tidak harus hidup dalam ketakutan.
Baca juga: Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
Masa Depan Belum Terjadi
Ada satu pengingat sederhana yang sering terlupakan: masa depan belum terjadi. Kita dapat mempersiapkannya. Kita dapat merencanakannya. Kita dapat belajar dari masa lalu. Tetapi kita tidak dapat menjalani hari esok hari ini.
Yang tersedia bagi kita adalah saat ini. Karena itu, ketika Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan mulai membuat energi kita terkuras, mungkin kita perlu kembali bertanya: “Apa yang sedang terjadi sekarang?”
Bukan berarti kita mengabaikan masa depan. Justru dengan hadir pada hari ini, kita dapat melakukan bagian yang memang berada dalam kendali kita. Mengerjakan pekerjaan yang ada. Berbicara dengan orang yang sedang berada di hadapan kita. Menikmati makanan yang sedang kita makan. Beristirahat ketika tubuh membutuhkannya. Menarik napas dengan sadar.
Mari belajar menjalani kehidupan yang benar-benar sedang berlangsung. Sebab, terlalu sibuk menjalani hari esok di dalam pikiran dapat membuat kita kehilangan kesempatan mengalami hari ini.
Ketika Kekhawatiran Datang, Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Mungkin kita tidak perlu langsung bertanya: “Bagaimana supaya saya tidak pernah khawatir?” Pertanyaan tersebut justru dapat membuat kita kembali melawan pikiran. Pertanyaan yang lebih memberdayakan adalah: “Ketika kekhawatiran muncul, apakah saya masih mampu melihatnya dengan jernih dan memilih apa yang perlu saya lakukan?”
Jika ada sesuatu yang dapat dilakukan, lakukan. Jika perlu dipersiapkan, persiapkan. Jika perlu dipelajari, pelajari. Jika belum ada yang dapat dilakukan, kita tidak selalu perlu menambahkan putaran pikiran baru.
Bila itu terjadi, kita dapat kembali kepada napas… Kembali kepada saat ini. Kembali kepada apa yang nyata. Dengan cara demikian, kita mulai belajar membedakan antara kewaspadaan yang membantu dan kekhawatiran yang hanya menguras energi.
Baca juga: Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Mengapa kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi?
Pikiran memang memiliki kemampuan, sifat membayangkan masa depan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, harapan, ketakutan, dan berbagai kesan yang tersimpan di dalam diri.
Kemampuan tersebut berguna untuk mengantisipasi risiko. Namun, ketika kemungkinan yang dibayangkan terus berulang dan terasa seperti kenyataan, proses tersebut dapat menjadi melelahkan. Kita dapat mulai dengan membedakan antara kemungkinan dan kenyataan.
2. Apakah kekhawatiran tentang masa depan selalu berarti berpikir negatif?
Tidak selalu. Kekhawatiran dalam kadar tertentu dapat membantu kita lebih berhati-hati dan mempersiapkan diri. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kekhawatiran menjadi terlalu kuat, berulang, dan sulit diberi jeda. Pada kondisi seperti itu, kita dapat belajar mengamati alirannya dan melihat apakah memang ada tindakan nyata yang perlu dilakukan.
3. Bagaimana menghadapi pikiran yang terus membawa kita ke masa depan?
Langkah awal bukan memaksa pikiran berhenti muncul. Mulailah dengan menyadari bahwa kekhawatiran sedang muncul. Perlambat napas, amati pikiran dan perasaan yang hadir, kemudian tanyakan: “Apa yang memang dapat saya lakukan sekarang?”
Jika ada tindakan nyata, lakukan dengan sadar. Jika tidak ada, berikan ruang dan kembalikan perhatian kepada kehidupan yang sedang berlangsung. Dalam pendekatan Meditasi Holistik NSE yang dirancang dan diramu oleh Maharishi Anand Krishna, proses ini dapat diperdalam melalui regulasi napas, pengamatan, dan cleansing untuk membantu mengurangi muatan pikiran dan perasaan.
Ketika muatan semakin ringan, kita dapat memiliki ruang yang lebih baik untuk menggunakan Buddhi atau Inteligensi dalam menentukan apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak perlu terus diikuti.
Masa Depan Akan Datang pada Waktunya
Pada akhirnya, Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan mungkin bukan persoalan yang harus kita lawan habis-habisan. Kita dapat mulai dengan mengenalinya. Memahami sifat dan cara kerja pikiran dan perasaan itu. Menyadari muatan yang membuat kekhawatiran terasa begitu kuat.
Memperlambat alirannya. Memberikan ruang. Kemudian membiarkan kejernihan muncul sebelum menentukan respon. Masa depan akan datang pada waktunya. Kita tidak perlu menjalaninya dua kali—sekali di dalam pikiran dan sekali lagi ketika benar-benar terjadi.
Hari ini sudah memiliki cukup banyak hal untuk dijalani. Maka, ketika Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan kembali muncul di kepala, kita tidak harus langsung melawannya. Cukup berhenti sejenak.
Tarik napas. Buang napas. Lalu tanyakan dengan tenang: “Apa yang dapat saya lakukan dengan jernih, sekarang?”
Mungkin di sanalah kita mulai menemukan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada di dalam diri: kemampuan untuk memilih.
(Tim redaksi – OE)
