Skip to content
Pikiran dan Meditasi

Pikiran dan Meditasi: Mengenal Mind Lebih Dalam

Perenungan kemudian mengantarkan pada rasa penasaran: apa hubungan antara pikiran dan meditasi? Sebab, ketika kita berbalik sejenak ke dalam diri, kita mulai melihat isi, pola, dan gerak Mind yang selama ini sangat mendominasi pilihan hidup kita. Di sinikah peran latihan meditasi itu?

(Bagian 6)

 

PERENUNGAN DAN KONTEMPLASI semakin mendalam, dan malam itu sebelum tidur, terlintas sebuah pikiran yang masih penasaran tentang hubungan Pikiran dan Meditasi. Ya, pada artikel sebelumnya, kita telah menyadari bahwa mengenal diri bukan berarti menjauh dari kehidupan. Kesadaran tentang diri mesti hadir dalam menjalani kehidupan dengan lebih utuh.

Namun, semakin kita memperhatikan diri, perenungan mendalam justru muncul: ternyata apa yang terjadi di dalam diri tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan. Kita dapat merasa tenang pada satu waktu, lalu beberapa saat kemudian muncul kekhawatiran. Kita bisa berniat sabar, tetapi tiba-tiba tersulut oleh perkataan seseorang. Kita ingin melakukan sesuatu, lalu muncul rasa malas. Kita mengetahui bahwa suatu kebiasaan tidak baik bagi diri kita, tetapi dorongan untuk mengulanginya tetap muncul.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang sedang bergerak di dalam diri kita? Apa yang belum tersentuh dengan perenungan dan kontemplasi? Bukan sekadar untuk mencari ketenangan, tetapi untuk mulai melihat mind dengan lebih dekat.

 

Ketika Kita Berbalik Sejenak ke Dalam

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar perhatian kita mengarah keluar. Kita melihat, mendengar, berbicara, bekerja, makan, berjalan, membaca pesan, bertemu orang lain, dan menanggapi berbagai peristiwa. Melalui pancaindra, kita terus berinteraksi dengan dunia luar. Berbagai pengalaman itu kemudian meninggalkan kesan, ingatan, dan pola tertentu dalam diri.

Karena itu, ketika kita duduk diam dan kemudian memejamkan mata, sesuatu yang menarik dapat terjadi. Untuk sementara, kita mengurangi interaksi visual dengan dunia luar. Perhatian yang biasanya sibuk mengikuti apa yang ada di depan mata sekarang memiliki kesempatan untuk berbalik ke dalam.

Lalu, apakah yang kita temukan di sana? Ternyata tidak selalu hening.

Bagi seseorang yang baru mulai bermeditasi, mungkin yang muncul ada berbagai hal: pikiran yang berloncatan, kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, ingatan tentang masa lalu, keinginan, rencana, atau berbagai hal kecil yang sebelumnya tidak terasa begitu jelas. Malah, tidak seperti yang kita duga…

Setelah itu, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan: “Mengapa saya sudah duduk diam dan memejamkan mata, tetapi pikiran saya malah semakin ramai?”

Di sinilah pengalaman tersebut dapat dilihat dengan cara yang berbeda. Pikiran yang ramai saat bermeditasi tidak otomatis berarti kita gagal bermeditasi. Bisa jadi, untuk pertama kalinya kita baru melihat, sedang melihat dengan lebih jelas sesuatu yang memang selama ini ada di dalam diri dan selalu kita bawa ke mana-mana. Dan kita tidak menyadarinya.

 

Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)

 

Pikiran Itu Berlapis

Selama menjalani kehidupan, kita mengalami begitu banyak hal. Ada pengalaman yang menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan. Ada yang kita sukai, ada yang ingin kita hindari. Ada kejadian yang kita ingat dengan jelas, ada pula yang seolah sudah kita lupakan tetapi masih dapat memengaruhi cara kita merespon suatu keadaan.

Karena itu, ketika perhatian diarahkan ke dalam, kita mungkin menemukan bahwa Pikiran Itu Berlapis. Ada pengalaman. Ada kesan. Ada ingatan. Ada keinginan. Ada ketakutan. Ada ambisi. Ada suka dan tidak suka. Ada positivitas dan negativitas. Dan berbagai pertimbangan lainnya yang terus bergerak.

Berbagai isi gugusan pikiran dan perasaan tersebut dapat saling memicu, berkelindan, atau muncul bergantian. Sebuah ingatan dapat memunculkan perasaan. Perasaan dapat mengundang keinginan. Keinginan dapat diikuti pertimbangan. Pertimbangan dapat membawa kekhawatiran.

Mind kita akan terus bergerak, mengalir. Dan gerakan itu dapat berlangsung begitu cepat sehingga kita sering hanya menyadari hasil akhirnya: kita sudah marah, sudah takut, sudah mengejar sesuatu, atau sudah mengambil keputusan tertentu.

Dalam situasi seperti itu, teknik meditasi dapat berperan, dengan memberi kesempatan untuk memperlambat aliran, gerakan mind tersebut sehingga kita mulai melihat prosesnya.

 

Pikiran dan Meditasi
Ketika menyadari bahwa pikiran dan perasaan itu berlapis, sifat dan polanya pun dapat sedemikian mendominasinya, kemudian perenungan menghantar pada rasa penasaran bahwa adanya hubungan antara Pikiran dan Meditasi yang bisa digunakan.

 

Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)

 

Mind Tidak Hanya Memiliki Isi, tetapi Juga Daya

Pada artikel-artikel sebelumnya, kita telah mengenal berbagai kecenderungan mind. Ada marah, khawatir, ambisi, keinginan, suka, tidak suka, takut, dan berbagai kecenderungan lainnya. Lebih lanjut, sekarang kita dapat melihat satu hal lagi. Bukan hanya “apa yang ada di dalam mind”, tetapi juga “seberapa kuat sesuatu yang di dalam mind itu dapat menggerakkan respon kita”.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai Pikiran Memiliki Daya Reaktif. Bayangkan sebuah boneka yang dapat bergerak karena memiliki baterai. Boneka itu dapat menjadi gambaran sederhana dari berbagai program atau kecenderungan mind kita, seperti: marah, takut, ambisi, keinginan, suka, tidak suka, dan sebagainya.

Baterainya dapat kita gunakan sebagai analogi untuk daya yang membuat kecenderungan tersebut mudah bergerak atau bereaksi. Ketika dayanya kuat, pemicu yang kecil saja mungkin sudah cukup membuat kita bereaksi dengan cepat.

Misal, seseorang mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai, lalu kemarahan langsung muncul. Sebuah pesan masuk, lalu kekhawatiran segera bergerak. Melihat sesuatu yang menarik, lalu keinginan muncul begitu saja. Tentu saja, baterai di sini hanyalah analogi untuk membantu kita memahami pengalaman, bukan gambaran mekanisme biologis secara harfiah.

Yang ingin kita lihat adalah sesuatu yang sederhana: sebuah pola dapat tetap ada, tetapi kekuatan yang membuatnya mendominasi respon kita dapat berubah – diubah dengan sadar. Di sinilah peran latihan meditasi mulai mempunyai arti yang lebih dalam.

 

Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)

 

Meditasi Tidak Langsung Membuat Mind Diam

Sering kali kita membayangkan meditasi sebagai keadaan ketika pikiran sudah tenang, tidak ada gangguan, dan tidak ada apa-apa yang bergerak di dalam diri. Padahal, bagi orang yang baru mulai, pengalaman bisa sangat berbeda.

Mind mungkin masih ramai. Bahkan ketika kita berusaha diam, berbagai pikiran seolah memiliki kehidupan sendiri. Karena itu, kita tidak perlu memulai dengan tuntutan: “Saya harus membuat pikiran saya diam.”

Kita dapat memulainya dengan sesuatu yang lebih sederhana, yakni: memperlambat geraknya. Salah satu media yang dapat digunakan adalah napas. Ketika napas diperhatikan dan diatur dengan tepat, gerakan mind dapat menjadi lebih lambat. Bukan berarti semua pikiran akan menghilang. Bukan pula berarti seluruh isi mind langsung menjadi bersih. Belum!

Tetapi ketika gerakannya dapat melambat, kita memperoleh sesuatu yang sebelumnya sulit didapatkan: jeda. Dalam latihan meditasi, kita tidak selalu perlu membuat mind langsung diam. Kadang yang dibutuhkan terlebih dahulu adalah memperlambat geraknya agar kita dapat melihatnya dengan lebih jelas.

Kemudian dari sana, kita mulai belajar mengamati. Bukan buru-buru mengikuti. Bukan pula buru-buru menolak. Hanya memperhatikan apa yang sedang terjadi.

 

Dari Melihat Menuju Membuat Jarak

Ketika kita mulai mampu mengamati suatu pola, ada perubahan kecil yang dapat terjadi. Sebelumnya, ketika marah muncul, kita mungkin langsung bertindak dari kemarahan itu. Ketika takut muncul, kita mungkin langsung mengikuti ketakutan itu. Ketika keinginan muncul, kita merasa harus segera mengikutinya.

Namun, ketika perhatian mulai memiliki ruang, kita dapat menyadari: “Oh, sedang muncul rasa marah.”

Ada perbedaan antara “menyadari munculnya amarah” dan “membiarkan kemarahan menentukan seluruh respon kita”. Kita masih merasakan marah, tetapi tidak harus langsung bertindak karena marah. Kita masih merasakan takut, tetapi tidak harus selalu membiarkan rasa takut menentukan langkah. Kita dapat melakukan penarikan napas dan pembuangan napas: relaks…

Keinginan masih ada, tetapi tidak setiap keinginan harus segera diwujudkan. Inilah yang kita maksud dengan Membuat Jarak dengan Pikiran. Jarak bukan berarti menjauh dari diri sendiri. Jarak juga bukan berarti menolak atau memusuhi apa yang muncul.

Justru dengan adanya jarak itu, kita memperoleh kesempatan untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih. Ada jeda sebelum bereaksi. Ada ruang untuk mempertimbangkan. Ada kemungkinan untuk memilih. Keberadaan ruang seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seseorang yang selama ini sudah terbiasa bereaksi otomatis, maka ruang kecil tersebut dapat terasa sangat berarti.

 

Baca juga: Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya? (Bagian 4)

 

Mengurangi Dominasi, Bukan Menghapus Mind

Dari sini kita dapat melihat kembali tujuan perjalanan ini. Latihan meditasi bukanlah usaha untuk menghapus semua program mind. Kita tidak perlu membayangkan bahwa setelah bermeditasi, kita tidak akan pernah marah, takut, menginginkan sesuatu, atau memiliki kecenderungan tertentu lagi.

Program-program itu akan tetap ada. Dan berita gembiranya, daya yang membuatnya mudah mendominasi respon kita, dapat diubah. Kembali kepada analogi baterai tadi: boneka masih ada, program masih ada, tetapi dayanya tidak harus selalu sekuat sebelumnya.

Ketika daya reaktif suatu pola berkurang, maka pola tersebut mungkin masih muncul, tetapi tidak lagi akan selalu mampu menggerakkan kita seperti sebelumnya. Di sinilah kita mulai memahami arti dan makna Dominasi Sifat Pikiran itu.

Bukan berarti kita akan menjadi manusia tanpa pikiran dan perasaan. Tapi justru, kita mulai mempunyai hubungan yang berbeda dengan apa yang muncul di dalam diri. Kemudian kita dapat melihat. Dapat merasakan. Dapat berhenti sejenak. Kemudian kita mempunyai kemungkinan untuk memilih bagaimana merespon.

Di sinilah kemudian, arti dan makna Seni Memberdaya Diri mulai mempunyai arti yang konkret. Seni Memberdaya Diri dapat kita maknai sebagai Seni Manajemen Mind. Dan dalam pengertian ini, Seni Manajemen Mind juga merupakan Seni Mengendalikan Mind. Mengendalikan bukan berarti menekan, memaksa, melawan, atau membuat mind berhenti bergerak. Bukan.

Tapi, mengendalikan berarti kita belajar mengelola respon sehingga pola-pola mind itu tidak otomatis lagi menjadi penguasa atas setiap tindakan kita.

 

Dari Kelegaan Kecil Menuju Kebebasan yang Lebih Dalam

Pengalaman seperti ini sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil. Satu kali kita berhasil berhenti sebelum bereaksi. Satu kali kita menyadari kemarahan tanpa langsung mengikutinya. Satu kali kita merasakan kecemasan tanpa membiarkannya membawa kita terlalu jauh. Satu kali kita merasakan keinginan tanpa merasa harus segera memenuhinya.

Mungkin sederhana. Tetapi ada kelegaan di dalamnya. Ada pengalaman bahwa: “Ternyata saya dapat tidak selalu harus mengikuti apa yang muncul di dalam diri saya.”

Dari pengalaman-pengalaman kecil seperti ini, perjalanan di mengenal diri dapat berlanjut. Semakin kita mempunyai ruang terhadap pola-pola yang selama ini dominan, semakin luas pula kesempatan kita untuk melihat kehidupan di dalam dan di luar diri.

Dunia di luar tetap kompleks. Dan ternyata dunia di dalam diri juga kompleks. Latihan meditasi tidak bertujuan membuat kompleksitas itu menghilang. Yang perlahan berubah adalah cara kita berdiri di tengah interaksi kedua kompleksitas tersebut.

Tujuannya, kita tidak harus selalu terseret oleh setiap fluktuasi mind di dalam diri. Tetapi, sekarang kita dapat belajar lebih dalam mengenalinya. Merasakannya. Dan menciptakan ruang-ruang di antaranya. Kemudian kembali hadir dalam kehidupan secara utuh.

 

Baca juga: Mengenal Diri: Bukan untuk Menjauh dari Kehidupan (Bagian 5)

 

Pikiran dan Meditasi
Kita butuh sebuah media atau sarana yang dapat membantu kita memahami lebih dalam pikiran dan perasaan agar kita dapat hidup lebih utuh. Ternyata antara Pikiran dan Meditasi memiliki hubungan yang erat sekali, yang selama ini terabaikan.

 

Meditasi dan Kehidupan

Pada akhirnya, latihan meditasi bukan tentang berlama-lama melarikan diri dari kehidupan. Kita menutup mata bukan untuk selamanya menjauh dari dunia. Kita menutup mata sejenak agar dapat melihat sesuatu yang sering luput ketika perhatian terus-menerus mengalir ke luar.

Kemudian saat mata kembali terbuka. Kehidupan kembali berjalan. Orang-orang yang kita temui tetap memiliki berbagai sifat. Pekerjaan tetap membutuhkan perhatian. Keluarga tetap memiliki dinamika. Situasi tidak akan selalu berjalan sesuai harapan.

Dan mind kita sendiri tetap mempunyai kecenderungan-kecenderungan tertentu. Namun mungkin sekarang ada sesuatu yang berbeda. Ada sedikit lebih banyak ruang sebelum bereaksi. Ada sedikit lebih banyak jeda sebelum mengambil keputusan. Ada kemampuan untuk merasakan tanpa selalu tenggelam di dalamnya. Ada kesempatan untuk melihat pola tanpa selalu menjadi bagian yang digerakkan olehnya.

Di sinilah hubungan Pikiran dan Meditasi menjadi lebih nyata. Bukan memberikan jaminan bahwa kehidupan kita tidak punya masalah. Bukan membuat mind menjadi kosong. Bukan pula menjadikan kita seseorang yang tidak pernah mengalami kemarahan, ketakutan, keinginan, atau kesedihan.

Melainkan, untuk membuka kesempatan mengenal gerak mind dengan lebih dekat sehingga kita tidak selalu didominasi olehnya. Kita tidak menjadi lebih bebas karena mind tidak lagi bergerak. Namun kita mulai dapat mengalami kebebasan ketika gerak mind tidak lagi selalu menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan.

Dan mungkin, dari sinilah perjalanan mengenal diri dengan disiplin mendapatkan kedalaman yang baru. Bukan untuk menjauhi kehidupan. Tetapi untuk kembali hadir secara utuh di dalamnya dengan ruang yang lebih luas.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apakah pikiran yang ramai saat latihan meditasi berarti saya gagal bermeditasi?

Tidak selalu. Bagi seseorang yang baru mulai, duduk diam dan memejamkan mata justru dapat membuat berbagai pikiran, perasaan, ingatan, atau kekhawatiran terasa lebih jelas terlihat dan terasakan. Tentu hal seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk mulai mengenali mind lebih dalam, dan bukan semata-mata tanda bahwa meditasi tidak berhasil.

 

2.Apakah tujuan latihan meditasi adalah menghilangkan pikiran?

Tidak. Dalam konteks artikel ini, latihan meditasi bukan dipahami sebagai usaha untuk menghapus semua isi mind. Yang lebih penting adalah belajar melihat geraknya, memahami pola yang muncul, dan secara bertahap dan disiplin mengurangi dominasi daya reaktifnya terhadap respon kita.

 

3.Bagaimana latihan meditasi dapat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari?

Latihan meditasi dapat memberi kesempatan untuk mengenali apa yang terjadi di dalam diri sebelum kita langsung bereaksi. Ketika mulai ada jeda dan ruang, kita kemudian memiliki kemungkinan untuk melihat suatu kecenderungan, merasakan apa yang muncul, lalu memilih respon yang lebih sesuai dengan keadaan – yang lebih tepat.

 

(Tim redaksi – OE)

 

Artikel Relevan:

 

Back To Top