Mungkin kita tidak harus menerima diri kita begitu saja. Bahwa apa yang terpikirkan dan terasakan…

Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Kenali Polanya, Bukan Memusuhinya
Bukan karena kita lemah. Pikiran negatif sulit dihilangkan dan muncul berulang karena pikiran memiliki pola, sifat, cara kerja, kebiasaan, dan keterkaitan dengan pengalaman serta kesan yang ada. Dengan memahaminya, kita dapat belajar menciptakan jarak dan merespons kehidupan dengan lebih jernih.
PERNAHKAH SEBUAH PIKIRAN yang sebenarnya tidak ingin kita pikirkan justru muncul berulang kali? Kita sudah mencoba mengalihkannya, menghentikannya. Mencoba berpikir positif. Bahkan, sudah berkata kepada diri sendiri, “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi.” Ya, mengapa Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan, apakah setiap orang mengalaminya? Adakah cara yang bisa digunakan untuk mengatasinya?
Namun beberapa saat kemudian, pikiran itu kembali. Kadang berupa kekhawatiran. Kadang penyesalan. Kadang kemarahan terhadap seseorang. Bisa juga berupa bayangan tentang sesuatu yang belum terjadi. Yang melelahkan bukan hanya isi pikirannya. Kita juga mulai bertanya-tanya: “Mengapa pikiran negatif terus muncul, padahal saya sendiri tidak menginginkannya?”
Pertanyaan itu sering membawa kita kepada kesimpulan yang kurang tepat. Kita menganggap diri terlalu lemah, terlalu pesimis, atau tidak mampu mengendalikan diri. Padahal, mungkin ada sesuatu yang lebih mendasar untuk dipahami, yakni: pikiran memiliki pola.
Dan sesuatu yang memiliki pola justru dapat dapat dipelajari.
Pikiran Negatif Tidak Menentukan Siapa Diri Kita
Hal pertama yang penting untuk dipahami adalah bahwa memiliki pikiran negatif tidak berarti kita adalah orang yang negatif. Pikiran dapat muncul karena berbagai hal: pengalaman masa lalu, kebiasaan, perundungan, keadaan yang sedang dihadapi, lingkungan, hubungan dengan orang lain, pekerjaan, kekhawatiran, maupun kesan-kesan yang telah tersimpan di dalam diri selama ini.
Karena itu, ketika muncul pikiran seperti “Saya pasti gagal,” kita tidak harus langsung mempercayainya.
Kita juga tidak perlu buru-buru mengatakan: “Memang saya seperti ini.”
Ada perbedaan antara mengalami sebuah pikiran dan menganggap pikiran tersebut sebagai diri kita. Sementara itu, sebenarnya kita dapat menyadari sebuah pikiran tanpa harus menjadi pikiran dan perasaan itu.
Pemahaman sederhana ini penting karena sering kali, setelah pikiran negatif muncul, kita justru menambahkan beban lain dengan menghakimi diri sendiri:
“Kenapa saya berpikir seperti ini?”
“Mengapa saya tidak bisa berpikir positif?”
“Ada apa dengan diri saya?”
Pikiran pertama mungkin sudah melelahkan. Penilaian terhadap diri sendiri bahkan akan membuat beban itu semakin berat. Karena itu, sebelum buru-buru mencari cara menghilangkan pikiran negatif, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami mengapa ia dapat muncul dan mengapa ia mudah kembali.
Baca juga: Tempat Pemulihan Stres Secara Holistik dan Alami
“Apakah Saya Normal Kalau Pikiran Negatif Terus Muncul?”
Pertanyaan ini mungkin pernah muncul diam-diam di dalam diri kita: “Mengapa saya memikirkan hal seperti ini terus?”
“Kenapa saya tidak bisa seperti orang lain yang kelihatannya tenang?” Dan, “apakah ada sesuatu yang salah dengan diri saya?”
Memiliki pikiran yang tidak menyenangkan, kekhawatiran, penyesalan, kemarahan, atau bayangan tentang sesuatu yang belum terjadi merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kemunculan sebuah pikiran tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kita adalah orang yang negatif atau bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang muncul, tetapi juga bagaimana kita berhubungan dengan apa yang muncul tersebut.
Sebuah pikiran dapat datang tanpa kita minta. Ia dapat muncul karena pengalaman, kesan, kebiasaan, keadaan yang sedang dihadapi, atau sesuatu yang mengingatkan kita pada pengalaman sebelumnya. Kita tidak selalu dapat menentukan pikiran apa yang muncul.
Namun, kita dapat belajar menyadari bahwa: “Ini adalah pikiran yang sedang muncul dalam diri saya.” Kalimat sederhana tersebut menciptakan perbedaan.
Kita tidak mengatakan, “Saya adalah orang yang gagal.”
Kita mulai melihatnya sebagai: “Ada pikiran bahwa saya akan gagal.”
Kita tidak mengatakan, “Saya memang selalu buruk dalam menghadapi masalah.”
Kita mulai melihatnya sebagai: “Ada pikiran yang mengatakan bahwa saya tidak mampu.”
Jarak kecil ini bukan berarti menyangkal kenyataan. Kita juga tidak sedang memaksa diri untuk berpikir positif. Kita hanya sedang belajar membedakan antara diri kita dan apa yang sedang muncul di dalam diri. Dan dari sinilah pemahaman tentang pola menjadi semakin penting.

Mengapa Pikiran Negatif Terus Muncul?
Pernahkah kita melewati sebuah jalan berkali-kali? Semakin sering dilewati, semakin kita mengenal jalurnya. Kita tidak lagi membutuhkan banyak perhatian untuk menemukan arah. Pola pikiran juga dapat bekerja dengan cara yang serupa. Ketika pengalaman, penilaian, atau cara bereaksi tertentu berulang, pola tersebut dapat menjadi semakin mudah muncul.
Bayangkan seseorang pernah mengalami kegagalan dalam pekerjaan. Pengalaman itu pastilah meninggalkan kesan. Beberapa waktu kemudian ia mendapatkan tugas baru. Tugasnya berbeda, tetapi ada sesuatu yang mengingatkan pada pengalaman sebelumnya.
Kemudian muncul: “Jangan-jangan saya gagal lagi.”
Dari satu pikiran muncul kekhawatiran. Kekhawatiran menghadirkan berbagai kemungkinan buruk. Kemungkinan buruk membuat perasaan semakin tegang. Ketegangan membuat perhatian semakin tertuju pada hal-hal yang mengkhawatirkan. Akhirnya, kita seperti masuk ke dalam sebuah lingkaran, pusaran.
Pengalaman dapat memengaruhi pikiran. Pikiran memengaruhi perasaan. Perasaan kemudian kembali memengaruhi pikiran. Karena itu, pertanyaan: “Apa penyebab pikiran negatif?” tidak selalu memiliki satu jawaban sederhana.
Sering kali ada pengalaman, kesan, kebiasaan, dan cara kita merespon yang saling berkaitan. Ketika pola itu sudah akrab, kemunculannya pun dapat terasa hampir otomatis. Dan justru di sinilah pemahaman menjadi penting.
Pikiran dan Perasaan Saling Menguatkan, Memengaruhi
Kita sering membayangkan pikiran dan perasaan sebagai dua hal yang terpisah. Dalam pengalaman sehari-hari, keduanya justru sering berjalan bersama. Ketika sedang takut, kita lebih mudah memperhatikan kemungkinan buruk.
Ketika sedang marah, kita lebih mudah mengingat hal-hal yang membuat kita tersinggung. Ketika sedang kecewa, perhatian kita cenderung kembali kepada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan. Dengan demikian, pikiran negatif dan emosi dapat saling memengaruhi.
Satu pikiran dapat memunculkan perasaan tertentu. Perasaan tersebut kemudian membuat pikiran yang sama terasa semakin kuat dan kompleks. Misalnya, kita merasa seseorang tidak menghargai kita. Pikiran itu menimbulkan rasa tersinggung.
Rasa tersinggung membuat kita mengingat kejadian lain yang serupa. Ingatan tersebut semakin menguatkan penilaian awal. Akhirnya, persoalan yang sebenarnya hanya satu kejadian berkembang menjadi rangkaian, bangunan pengalaman di dalam diri. Namun ada satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Lingkaran itu dapat disadari. Dan ketika kita mulai menyadarinya, kita memiliki kesempatan untuk tidak langsung mengikuti gerakannya.
Mengapa Melawan Pikiran Negatif Tidak Selalu Berhasil?
Secara alami, kita ingin menjauh dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Ketika pikiran negatif muncul, kita ingin segera menghilangkannya. Namun ada perbedaan antara tidak mengikuti sebuah pikiran dan berusaha keras memusnahkannya.
Coba katakan kepada diri sendiri: “Jangan pikirkan hal yang membuat saya takut.”
Lalu, apa yang akan terjadi? Perhatian kita justru masih tertuju pada hal yang ingin kita hindari itu. Kita memeriksa apakah pikiran itu masih ada. Kita mencoba mengusirnya. Justru, aa segera muncul kembali.
Kita kesal karena ia muncul kembali. Lalu kita memikirkannya lagi. Tanpa disadari, pikiran tersebut mendapatkan lebih banyak perhatian. Karena itu, cara mengatasi pikiran negatif tidak selalu dengan melawannya secara langsung. Faktanya, ada pendekatan lain yang justru sangat sederhana: sadari bahwa pikiran itu sedang muncul – langkah awal. Bukan berarti membenarkan isinya. Bukan pula membiarkannya menguasai diri.
Kita hanya mengakui: “Ada pikiran seperti ini sedang muncul dalam diri saya.”
Kemudian kita mengamatinya. Perubahan kecil ini menggeser posisi kita. Kita tidak lagi sepenuhnya berada di dalam arus pikiran. Kita justru mulai dapat melihat arus tersebut. Dan ketika kita mulai melihat, ruang untuk memilih mulai terbuka – inilah kemungkinan lain itu.
Dari “Menghilangkan” Menjadi “Memahami”
Mungkin selama ini pertanyaan kita adalah: “Bagaimana supaya pikiran negatif saya hilang?” Sekarang, coba ubah pertanyaannya: “Mengapa pikiran ini muncul?”
Pertanyaan pertama mendorong kita untuk segera menyingkirkan sesuatu yang tidak nyaman. Sementara pertanyaan kedua, mengajak kita memahaminya. Misalnya, kita sedang sangat marah kepada seseorang. Daripada langsung mengikuti kemarahan, kita sebenarnya dapat mengamatinya: Apa sebenarnya yang membuat saya marah?
Apakah hanya perkataan orang itu?
Apakah ada harapan saya yang tidak terpenuhi?
Apakah kejadian ini mengingatkan saya pada pengalaman sebelumnya?
Mengapa reaksi saya terasa begitu kuat?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Namun posisi kita sudah berubah. Kita sudah mulai melihat apa yang terjadi di dalam diri, bukan hanya terseret olehnya. Melihat adalah awal dari memahami. Dan dari pemahaman, kita mulai memiliki kemungkinan untuk merespons dengan cara yang berbeda.
Jeda Kecil Dapat Mengubah Respon
Kita tidak selalu dapat menentukan pikiran apa yang muncul. Tetapi kita dapat belajar memperhatikan apa yang kita lakukan setelah pikiran itu muncul. Sebuah pikiran muncul. Kita mempercayainya. Kemudian muncul perasaan. Perasaan mendorong reaksi.
Padahal, di antara kemunculan pengalaman dan tindakan kita sebenarnya ada kemungkinan untuk menciptakan jeda. Jeda itu mungkin hanya beberapa detik. Tetapi beberapa detik dapat sangat berarti. Ketika marah, kita tidak langsung berbicara. Ketika cemas, kita tidak langsung mengambil keputusan. Ketika tersinggung, kita tidak langsung membalas. Kita berhenti. Bernapas. Mengamati. Memberi ruang.
Dari ruang tersebut kita mulai melihat bahwa pikiran adalah sesuatu yang muncul dalam diri, bukan perintah yang wajib kita jalankan. Perasaan pun demikian. Ia boleh hadir. Tetapi kita tidak harus selalu bertindak berdasarkan dorongannya. Di situlah kemampuan memilih mulai tumbuh.
Baca juga: Mengapa Pikiran Sulit Dihentikan? Pahami Alasannya Dalam Diri
Siklus Napas Dapat Membantu Kita Memperlambatnya
Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas hal ini sekilas. Ketika pikiran dan perasaan sedang kuat, tubuh biasanya ikut memberikan tanda. Napas dapat menjadi lebih cepat atau pendek. Tubuh menegang. Perhatian menyempit.
Karena itu, salah satu langkah sederhana yang dapat kita lakukan adalah kembali menyadari napas. Menyadarinya cepat-lambat siklusnya. Tidak perlu memaksakan keadaan tertentu. Kalau napas pendek, ya pendek. Biarkan. Kalau siklusnya bisa panjang, dalam, ya, biarkan. Bernapasnya secara alami. Cukup berhenti sejenak.
Rasakan tarikan napas. Rasakan hembusannya. Biarkan napas menjadi lebih teratur secara alami tanpa pengaturan, paksaan.
Ketika tubuh mulai mendapatkan ruang untuk relaks, kita juga memperoleh kesempatan untuk mengamati apa yang sedang terjadi di dalam diri. Napas bukanlah alat untuk menghapus isi pikiran negatif dan sifatnya. Namun, napas membantu kita menciptakan kondisi yang lebih memungkinkan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Dan ketika ada jeda, sesuatu yang sebelumnya sulit terlihat mulai dapat diamati, yakni adanya: pola.

Ketika Polanya Mulai Terlihat
Mungkin kita kemudian menyadari bahwa pikiran negatif tertentu selalu muncul dalam situasi tertentu. Misalnya: ketika kita merasa ditolak. Ketika menerima kritik. Ketika menghadapi ketidakpastian. Ketika merasa tidak dihargai. Ketika menghadapi kegagalan. Atau ketika sedang sendirian.
Kesadaran seperti ini sangat berharga. Sebab kita mulai melihat bahwa reaksi tidak selalu muncul begitu saja. Ada pemicunya. Ada pola yang terbentuk. Ada pengalaman yang mungkin berkaitan dengannya. Ada cara tertentu yang selama ini kita gunakan untuk merespon.
Dengan melihat pola, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Kita justru mendapatkan kesempatan untuk mengenal diri dengan lebih jujur. Dan semakin cepat kita mengenali pola, semakin besar pula kemungkinan kita menyadarinya sebelum ia membawa kita terlalu jauh tanpa kendali. Di sinilah latihan, praktik itu mulai memiliki arti yang lebih dalam.
Meditasi: Bukan Mengosongkan Pikiran, Melainkan Mengenalinya
Pada titik ini, latihan meditasi dapat dilihat dari sudut yang berbeda. Latihan meditasi bukan sekadar usaha untuk membuat kepala kosong. Tidak akan bisa. Bukan pula perlombaan untuk tidak memiliki pikiran negatif. Bukan.
Justru karena pikiran dapat terus muncul, meditasi dapat menjadi latihan untuk mengamati apa yang terjadi di dalam diri lebih jujur, apa adanya. Kita dapat belajar memperhatikan napas. Kita dapat belajar menyadari pikiran yang datang. Kita dapat belajar mengenali perasaan yang bergerak.
Dan perlahan kita mengalami bahwa semua itu dapat diamati. Dan kita tidak harus mengikuti semuanya. Dalam perspektif Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) – sebuah metode meditasi yang diracik dan diramu Maharishi Anand Krishna, proses tersebut dapat dilanjutkan lebih dalam. Bukan hanya memperlambat gerak pikiran dan perasaan, tetapi juga mengenali dan mengolah berbagai muatan, isinya yang dapat memengaruhi cara kita merespons kehidupan.
Dengan demikian, latihan tidak diarahkan untuk memusuhi mind—gugusan pikiran dan perasaan. Justru yang dikembangkan adalah kemampuan kita untuk tidak menjadi tawanan dari setiap apa yang muncul di dalam mind.
Dalam pemahaman ini, Buddhi atau Inteligensi memiliki peran penting. Ketika pikiran berkata: “Saya ingin membalas.” Kita dapat berhenti.
Peran Buddhi – institusi yang lebih tinggi dari mind, yang sudah ada di dalam diri sejak kita lahir – dapat menghadirkan pertanyaan yang lebih luas: “Apakah membalas sekarang memang tindakan yang tepat?”
Di sinilah kita bergerak dari reaksi menuju pilihan yang lebih bijak. Buddhi memiliki sifat dan cara kerja yang lebih bijak, luas, dalam, jernih, dibanding dengan mind itu sendiri.
Tujuan Latihan Bukan Menjadi Manusia Tanpa Pikiran Negatif
Ini mungkin salah satu pemahaman terpenting dalam perjalanan mengenal diri. Setelah berlatih meditasi, bukan berarti kita tidak akan pernah memiliki pikiran negatif lagi. Kita tetap manusia. Kita tetap dapat kecewa. Tetap dapat marah. Tetap dapat merasa takut. Tetap dapat mengalami keraguan.
Yang perlahan berubah adalah cara kita berhubungan dengan semua itu. Dulu mungkin sebuah pikiran negatif langsung membawa kita ke dalam reaksi panjang. Sekarang kita mulai mengenalinya lebih awal. “Oh, pola ini muncul lagi.”
Kesadaran tersebut sudah merupakan perubahan. Kita tidak langsung percaya. Tidak langsung mengikuti. Tidak langsung bertindak. Di sana sudah ada ruang. Ada pilihan yang lebih bijak. Ibarat kendaraan, kita sudah mengaktifkan rem-nya. Karena itu, perubahan tidak selalu dapat diukur dari seberapa sedikit pikiran negatif yang muncul.
Ukuran yang lebih bermakna mungkin adalah: Seberapa cepat kita menyadarinya? Seberapa besar jarak yang dapat kita ciptakan? Seberapa mampu kita memilih respons daripada sekadar bereaksi?
Justru, Pikiran Negatif Dapat Menjadi Pintu untuk Mengenal Diri
Ketika kita berhenti memusuhi pikiran negatif, kita dapat melihatnya dengan cara berbeda. Ia dapat menjadi informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam diri. Kemarahan mungkin memperlihatkan sesuatu yang sangat kita harapkan. Kecemasan dapat menunjukkan kebutuhan kita terhadap kepastian.
Rasa tersinggung dapat memperlihatkan bagaimana kita memandang diri sendiri. Penyesalan dapat menunjukkan sesuatu yang belum kita pahami dari pengalaman sebelumnya. Tentu, bukan berarti setiap pikiran negatif harus dicari maknanya secara berlebihan.
Namun ketika kita belajar mengamati, pengalaman yang sebelumnya hanya terasa mengganggu, kemudian dapat berubah menjadi kesempatan untuk mengenali pola diri. Pikiran negatif dapat berbicara lebih jujur tentang kita. Dengan demikian, pikiran negatif tidak lagi semata-mata menjadi musuh. Ia kini dapat menjadi pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri – dari sisi yang selama ini enggan kita akui, dan ingin dikoreksi.
Dan dari sini, perjalanan kita bergerak satu langkah lebih jauh: bukan lagi sekadar mengatasi pikiran, tetapi mengenal diri yang mengalami pikiran tersebut.
Bukan Mengubah Diri Menjadi Orang Lain
Perjalanan ini bukan tentang menciptakan versi diri yang selalu tenang, selalu positif, dan tidak pernah terganggu. Kehidupan tidak seperti itu. Kita tetap akan menghadapi masalah. Akan tetap ada orang yang mengecewakan. Selalu ada ketidakpastian. Selalu ada keinginan berlebih, harapan berlebih. Selalu ada ke-aku-an. Akan tetap ada keadaan yang tidak sesuai harapan.
Yang sedang kita hendak bangun adalah kemampuan untuk hadir dengan lebih sadar ketika semua itu terjadi. Ketika pikiran negatif muncul, kita mengenalinya. Ketika emosi bergerak, kita menyadarinya. Ketika tubuh menegang, kita kembali kepada napas. Ketika dorongan untuk bereaksi muncul, kita memberi jeda. Lalu kita bertanya: “Apa respon yang paling tepat?”
Lagi-lagi, kemungkinan ini lahir karena hadirnya Buddhi, yang akan muncul ketika mind tenang, relaks. Perlahan, kehadirannya akan lebih terasa dan dominan. Ini yang perlu diupayakan setiap hari. Sehingga kita tidak lagi hidup hanya berdasarkan pola mind lama. Sekarang, dengan hadirnya Buddhi di atas mind yang sudah mulai tenang, cara pandang Buddhi yang seperti Mata Burung di atas awan-awan akan memampukan kita melihat lebih tinggi dan dengan cakrawala yang lebih luas, sehingga kita dapat memiliki pilihan yang lebih bijak.
Jadi, Apakah Pikiran Negatif Bisa Dihilangkan?
Mungkin pertanyaan ini sendiri perlu kita lihat kembali. Jika yang dimaksud adalah tidak pernah lagi memiliki pikiran negatif, kita mungkin sedang menetapkan tujuan yang tidak realistis. Tetapi jika yang kita inginkan adalah tidak lagi menjadi tawanan pikiran negatif, maka ada jalan yang dapat ditempuh.
Kita dapat mulai dengan menyadari. Kemudian memperlambatnya. Mengamati. Memahami pola pikiran dan perasaan. Lalu mnciptakan ruang, jeda dengan aliran pikiran dan perasaan itu. Dan melalui latihan yang konsisten, kita dapat belajar mengolah apa yang selama ini membuat kita mudah bereaksi tanpa kendali yang jernih.
Perubahan tidak selalu berarti pikiran negatif menghilang. Tidak akan bisa. Namun terkadang perubahan justru terlihat ketika pikiran yang sama muncul, tetapi kita tidak lagi memberikan respon yang sama.
Dulu kita bisa langsung marah. Sekarang kita bisa berhenti dan memperhatikan apa yang sedang terjadi. Dulu kita langsung khawatir. Sekarang kita bisa mengamati situasinya. Dulu kita langsung percaya pada setiap pikiran dan perasaan yang muncul. Sekarang, kita memberi diri sendiri waktu untuk melihat dengan lebih jernih. Inilah perubahan yang nyata itu.
“Kalau Saya Sudah Tahu Bahwa Pikiran Itu Hanya Pikiran, Lalu Bagaimana Agar Saya Tidak Terus Terbawa Olehnya?”
Mengetahui bahwa pikiran hanyalah pikiran merupakan awal. Tetapi mengetahui saja belum tentu membuat kita langsung mampu mengambil jarak darinya.
Ketika sebuah pikiran muncul berulang kali, terutama ketika disertai emosi yang kuat, kita mungkin tetap merasa seolah-olah harus mempercayainya atau mengikutinya.
Karena itu, yang dilatih bukanlah kemampuan untuk membuat pikiran tersebut tidak pernah muncul. Yang dilatih adalah kemampuan untuk menyadari kemunculannya sebelum kita langsung bereaksi.
Pikiran muncul. Kita menyadarinya. Perasaan menyertainya. Kita menyadari perasaan itu. Tubuh mungkin ikut menegang. Kita kembali memperhatikan napas. Kemudian kita memberi jeda. Jeda tersebut tidak harus lama. Bahkan beberapa detik dapat menjadi awal. Yang penting adalah kita mulai melihat bahwa antara pikiran dan tindakan masih terdapat ruang.
Di dalam ruang itulah kita dapat bertanya:
“Apakah saya harus mengikuti pikiran ini?”
“Apakah reaksi saya saat ini benar-benar diperlukan?”
“Apa respon yang lebih tepat?”
Dengan latihan yang konsisten, kita tidak sedang berusaha menjadi manusia yang tidak pernah terganggu. Kita sedang belajar agar setiap gangguan tidak selalu menentukan tindakan kita.
“Kapan Saya Perlu Menerima Pikiran Negatif sebagai Bagian dari Pengalaman, dan Kapan Saya Perlu Mencari Bantuan?”
Menerima keberadaan sebuah pikiran bukan berarti kita harus membiarkannya menguasai kehidupan. Ada perbedaan antara menyadari bahwa pikiran negatif sedang muncul dan membiarkan diri terus-menerus tenggelam di dalamnya tanpa mencari dukungan ketika memang diperlukan.
Jika pikiran, kekhawatiran, atau emosi yang berulang mulai terasa sangat berat dan terus mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, aktivitas sehari-hari, atau kemampuan kita menjalani kehidupan, maka mungkin sudah waktunya untuk tidak menghadapinya seorang diri.
Mencari bantuan dari orang yang tepat bukan berarti kita gagal dalam mengenal diri. Justru, kemampuan mengenali bahwa kita membutuhkan dukungan juga merupakan bagian dari kesadaran.
Latihan meditasi dan kesadaran diri dapat menjadi bagian dari perjalanan. Tetapi ia tidak perlu diposisikan sebagai pengganti bantuan profesional ketika seseorang memang membutuhkannya. Dengan demikian, menerima bukan berarti menyerah. Menyadari bukan berarti membiarkan. Dan mencari bantuan bukan berarti lemah.
Semuanya dapat menjadi bagian dari upaya untuk memahami diri dengan lebih jernih.
Mulailah Raih Kebebasan Itu dari: Satu Jeda
Kita tidak harus menunggu sampai pikiran negatif menjadi sangat kuat untuk mulai belajar mengenal diri. Kita dapat memulainya dari pengalaman sehari-hari. Ketika pikiran yang mengganggu muncul, jangan langsung melawannya. Berhentilah sejenak.
Sadari napas. Rasakan tubuh. Amati pikiran tersebut. Perhatikan perasaan yang menyertainya. Tidak perlu langsung mencari jawaban. Tidak perlu langsung menghakimi diri sendiri. Cukup melihat.
Kemudian tanyakan: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri saya?”
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih dalam. Sebab, semakin kita mengenali pola pikiran dan perasaan, semakin kita memahami bahwa kita tidak harus menjadi apa pun yang sedang muncul di dalamnya – pikiran dan perasaan adalah salah satu bagian dari kita, bukan kita. Dan masih ada lembaga lain di dalam diri yakni buddhi atau inteligensi yang lebih canggih, lebih menyamankan diri dibanding dengan mind.
Pikiran dapat datang. Perasaan dapat bergerak. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana meresponsnya. Dan mungkin, di situlah perjalanan mengenal diri sendiri mulai menemukan maknanya. Bukan dengan menghilangkan semua yang muncul di dalam mind, melainkan mengenalnya dengan lebih jernih—hingga kita tidak lagi mudah dikendalikannya secara otomatis.
Nah, karena itu kami mengundang para pembaca bergabung dalam Program Retret Akhir Pekan di One Earth Retreat agar dapat merasakannya, memiliki pengalaman langsung.
(Tim redaksi – OE)
