Buddhi dan Meditasi memiliki hubungan yang erat. Latihan meditasi membantu kita mengenali dan mengolah Gugusan…

Memahami Mind Secara Utuh: Merekonstruksi Bagian-Bagiannya
Mari kita mencoba Memahami Mind Secara Utuh (Gugusan Pikiran dan Perasaan) agar perjalanan memahami diri menjadi semakin jelas sebelum kita melangkah menuju pengenalan Buddhi atau Inteligensi.
(Bagian 9)
PERJALANAN KITA SUDAH sampai pada titik ini, sebelum melangkah lebih jauh mari kita Memahami Mind Secara Utuh sebagai hasil perenungan kita selama ini. Perjalanan kita mengenal Mind sebenarnya sudah cukup jauh. Kita sudah memulai mengenali pikiran dan perasaan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kita sudah belajar melihat bahwa satu pikiran dapat diikuti oleh perasaan, ingatan, keinginan, kekhawatiran, atau berbagai bayangan tentang masa lalu dan masa depan.
Kita bahkan sudah mulai melihat adanya: pola. Kita juga sudah belajar memberi jeda sebelum mengikuti setiap dorongan pikiran dan perasaan yang muncul. Ya, melalui kehidupan sehari-hari dan perenungan, kontemplasi bahkan meditasi, kita perlahan sudah belajar mengamati apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Dari pengalaman tersebut muncul satu pemahaman penting: Mind adalah bagian dari diri kita, tetapi bukan keseluruhan diri kita.
Sebelum melanjutkan perjalanan, ada baiknya kita menyusun kembali potongan-potongan pengalaman tersebut menjadi satu gambaran Mind secara utuh. Bukan untuk mengulang semua yang sudah kita pelajari, melainkan untuk melihat bagaimana berbagai bagian di dalamnya saling berhubungan, saling terkait dan memengaruhi.
Mind Bukan Hanya Pikiran
Ketika mendengar kata pikiran, kita biasanya membayangkan kalimat-kalimat yang muncul di kepala. Misalnya: “Saya harus melakukan ini.”
“Bagaimana kalau sesuatu terjadi?”
“Sepertinya dia tidak menyukai saya.”
Namun, mind tidak hanya berupa pikiran. Di dalamnya dapat muncul ingatan, kesan, imajinasi, bayangan masa lalu, bayangan masa depan, keinginan, hasrat, perhatian, harapan, kecemasan, rasa penasaran, penilaian, perenungan, khayalan, dan overthinking.
Demikian pula dengan berbagai perasaan: suka, tidak suka, senang, sedih, marah, kecewa, cemburu, takut, rindu, antusias, benci, kesal, dan berbagai nuansa perasaan lainnya. Semua ini dapat muncul, berubah, dan saling berhubungan.
Karena itu, ketika kita menggunakan istilah mind, sebenarnya kita sedang menunjuk pada bagian dari pengalaman manusia yang berpikir, merasa, mengingat, menginginkan, membayangkan, memperhatikan, menilai, dan yang terus bergerak.
Mind hadir ketika kita bekerja. Ketika berbicara dengan pasangan. Ketika menerima pujian. Ketika mendapat kritik. Ketika menunggu kabar. Ketika menghadapi kehilangan. Bahkan ketika kita sedang duduk diam. Pada titik ini, Memahami MInd Secara Utuh menjadi demikian relevannya, untuk menyadari selama ini yang menentukan ucapan, sikap dan tindakan kita adalah bagian diri kita yang mana.
Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)
Memahami Mind Secara Utuh Dimulai dari Sifat Dasarnya
Untuk memahami bagaimana mind bergerak, kita perlu melihat sesuatu yang lebih mendasar. Yakni, bahwa mind memiliki kecenderungan dasar untuk menyukai dan tidak menyukai sesuatu. Apa yang disukai cenderung ingin didekati, dipertahankan, atau diulang.
Apa yang tidak disukai cenderung ingin dijauhi, ditolak, atau dihindari. Dalam pengertian ini, kita dapat melihat adanya kecenderungan positif dan negatif dalam pengalaman mind. Positif dan negatif di sini bukan berarti baik dan buruk secara moral. Keduanya lebih menunjuk pada arah gerak mind terhadap sesuatu: mendekat atau menjauh, menerima atau menolak, menyukai atau tidak menyukai.
Namun, sifat dasar tersebut tidak bekerja sendirian. Ia bertemu dengan pendidikan yang kita terima, keluarga tempat kita tumbuh, lingkungan, pengalaman, pergaulan, kebiasaan, kesan, serta berbagai kejadian yang kita alami sepanjang kehidupan.
Semua itu dapat meninggalkan pengaruh dan kesan. Karena itu, dua orang dapat menghadapi peristiwa yang sama, tetapi mengalami sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Peristiwanya sama. Namun, mind yang mengalaminya membawa latar belakang, pengalaman, kesan, dan kecenderungan yang berbeda.
Dari sinilah kita mulai menyadari bahwa Memahami Mind Secara Utuh akan memberikan banyak pengalaman dan kesadaran yang menunjukkan siapa diri kita selama ini. Ternyata, mind memiliki begitu banyak lapisan gerakan yang saling memengaruhi. Apakah kita menyadrinya selama ini?
Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)
Dari Sifat Dasar Menjadi Kecenderungan
Ketika suatu cara merespon terus berulang, ia dapat berkembang menjadi kecenderungan. Misalnya, seseorang yang berkali-kali merasa tidak aman ketika tidak mendapat kepastian mungkin menjadi semakin mudah mencari kepastian.
Seseorang yang terbiasa merasa tersinggung ketika dikritik mungkin menjadi semakin cepat menganggap kritik sebagai serangan. Sebaliknya, seseorang yang berulang kali belajar memberi jeda mungkin perlahan memiliki kecenderungan untuk tidak langsung bereaksi.
Dengan demikian, apa yang pada awalnya hanya berupa respon tertentu dapat menjadi kecenderungan yang semakin mudah muncul. Dan kecenderungan inilah yang kemudian ikut menentukan bagaimana kita mengalami kejadian berikutnya.
Namun, kecenderungan belum tentu merupakan pola yang berdiri sendiri. Maksudnya, ketika kecenderungan yang sama terus berulang dalam situasi tertentu, ia pun kemudian berkembang menjadi pola.
Ketika Kecenderungan Menjadi Pola
Bayangkan seseorang menerima sebuah pesan singkat dari orang yang dekat dengannya. Pesannya sebenarnya sederhana. Namun, muncul pikiran: “Mengapa jawabannya seperti itu?”
Pikiran tersebut diikuti rasa tidak nyaman. Kemudian muncul ingatan tentang percakapan sebelumnya. Dari ingatan itu muncul dugaan: “Jangan-jangan dia sedang marah.”
Dugaan menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran mendorong keinginan untuk mendapatkan kepastian. Telepon diperiksa kembali. Tidak ada pesan baru. Kekhawatiran pun semakin kuat. Kemudian muncul dugaan lain. Peristiwa sederhana tadi berkembang menjadi rangkaian pengalaman yang jauh lebih panjang. Jika pola seperti ini berulang berkali-kali, mind dapat semakin mudah menjalani jalur yang sama ketika menghadapi situasi serupa.
Karena itu, memahami mind tidak cukup hanya dengan mengenali satu pikiran. Akan tetapi, kita perlu melihat bagaimana pikiran, perasaan, ingatan, keinginan, perhatian, dan kecenderungan saling memengaruhi. Di sinilah kita mulai masuk untuk memahami apa itu: cara kerja mind.
Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)

Cara Kerja Mind: Terus Bergerak dan Saling Memengaruhi
Mind bukan sesuatu yang diam. Ia bergerak. Dan gerakannya sering kali tidak berjalan lurus. Satu pikiran dapat memunculkan perasaan. Perasaan dapat mengaktifkan ingatan. Ingatan dapat memunculkan pikiran lain. Bahkan pikiran itu dapat memperkuat perasaan yang sudah ada.
Perasaan kemudian dapat memengaruhi perhatian. Perhatian membuat kita semakin fokus pada sesuatu. Fokus tersebut dapat memunculkan pikiran berikutnya. Begitu seterusnya. Karena itu, mind lebih tepat dipahami sebagai arus yang terus bergerak daripada sebagai sebuah kotak yang berisi pikiran dan perasaan yang terpisah-pisah.
Ada sesuatu yang bertambah. Ada yang berkurang. Ada yang muncul kembali. Ada yang menghilang untuk sementara. Ada yang memperkuat. Ada pula yang melemahkan. Pikiran dan perasaan dapat saling menambah, mengurangi, dan mengubah satu sama lain. Inilah yang membuat pengalaman di dalam mind sering kali terasa begitu hidup dan berubah-ubah.
Namun, terkadang beberapa gerakan tersebut tidak hanya saling mengikuti. Mereka pun dapat berkumpul dan membentuk satu rangkaian pengalaman yang cukup kuat. Apakah itu?
Baca juga: Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya? (Bagian 4)
Kluster Mind: Ketika Banyak Gerakan Berkumpul
Untuk memahami hal ini dengan lebih mudah, bayangkan benang yang kusut. Awalnya hanya ada satu helai benang. Tetapi ketika beberapa helai saling terkait, kita tidak lagi melihatnya sebagai satu benang yang berdiri sendiri. Ada bagian yang menarik bagian lain. Ada simpul yang membuat beberapa bagian semakin sulit dipisahkan. Kurang lebih seperti inilah kluster mind.
Istilah ini bukan berarti ada benda atau struktur tertentu di dalam diri kita yang secara harfiah disebut kluster. Bukan. Ini hanya cara sederhana untuk melihat bahwa beberapa gerakan mind dapat berkumpul, saling berkaitan, dan saling memperkuat atau mengurangi.
Kembali pada contoh pesan tadi. Di dalam pengalaman tersebut mungkin terdapat pikiran, perasaan tidak nyaman, ingatan, dugaan, kekhawatiran, keinginan mendapatkan kepastian, dan perhatian yang terus tertuju pada telepon. Semua bergerak bersama. Satu memengaruhi yang lain.
Akhirnya kita tidak lagi sedang berhadapan dengan satu pikiran atau satu perasaan saja. Tetapi ada sekumpulan pengalaman yang saling terhubung. Dengan melihatnya seperti ini, kita mulai memahami bahwa apa yang kita alami sering kali bukan satu kejadian yang berdiri sendiri. Ada gerakan yang mengikuti gerakan lainnya. (Silakan baca buku: Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, karya Anand Krishna, diterbiktan oleh Yayasan Anand Ashram.)
Dari Kluster Menuju State of Mind
Ketika berbagai gerakan tersebut berlangsung bersama, keseluruhannya dapat membentuk suatu keadaan tertentu. Inilah yang kita sebut state of mind.
Secara sederhana, state of mind adalah keadaan mind yang sedang berlangsung pada suatu waktu tertentu. Namun, keadaan ini bukan sekadar suasana hati. State of mind dapat kita bayangkan seperti persneling pada sebuah mobil.
Ketika mobil berada pada gigi tertentu, ia memiliki karakter kerja tertentu. Ada cara bergeraknya, ada kekuatannya, ada kecepatannya, dan ada pula batasannya. Gigi satu memiliki fungsi dan batas yang berbeda dari gigi dua. Gigi dua berbeda dari gigi tiga, dan seterusnya. Demikian pula dengan state of mind.
Setiap keadaan mind membawa sifat, kecenderungan, pola, cara kerja, dan batas tertentu. Ketika kita berada dalam suatu state of mind, kita cenderung melihat, merasa, berpikir, dan merespon melalui keadaan tersebut. Jika keadaan mind sedang didominasi rasa takut, misalnya, perhatian kita dapat lebih mudah tertuju pada sesuatu yang dianggap mengancam.
Jika sedang didominasi rasa suka, kita dapat lebih mudah melihat hal-hal yang ingin kita pertahankan. Jika sedang didominasi kemarahan, kita mungkin lebih cepat melihat sesuatu sebagai kesalahan orang lain.
Dengan kata lain, state of mind dapat memengaruhi bagaimana kita mengalami dunia pada saat itu. Di sinilah makna kata: batasan itu menjadi penting. Batasan tersebut dapat berasal dari kecenderungan kita. Dapat pula berasal dari pola yang sudah terbentuk. Dapat dipengaruhi oleh gerakan suka dan tidak suka yang terus berfluktuasi. Dapat pula diperkuat oleh ego atau rasa keakuan yang membuat pengalaman terasa sangat personal.
Jadi, ketika kita berada dalam suatu state of mind, kita tidak sedang melihat dan merespon dari ruang yang sepenuhnya bebas. Akan tetapi, kita sedang bekerja melalui keadaan mind tertentu.
Itulah sebabnya kita kadang merasa: “Mengapa tadi saya berpikir seperti itu?”
“Mengapa ketika marah saya sulit melihat hal lain?”
“Mengapa ketika takut saya seperti tidak bisa berpikir jernih?”
Bukan karena kemampuan kita hilang. Akan tetapi karena pada saat itu, kita sedang berada dalam keadaan mind tertentu, dengan kecenderungan, pola, dan batasannya sendiri. Namun, seperti persneling mobil, keadaan tersebut bukan sesuatu yang harus kita tempati selamanya.
Persneling dapat dipindahkan. Kecepatan dapat berubah. Cara kerja kendaraan dapat berubah. Demikian pula, state of mind dapat berubah ketika kita mulai mengenali apa yang sedang berlangsung, memberi jeda, dan tidak terus-menerus memberi bahan bakar pada pola yang sama.
Di sinilah pemahaman tentang state of mind menjadi penting. Kita bukan hanya belajar mengenali “apa yang saya pikirkan dan rasakan”, tetapi juga mulai melihat: “Dari keadaan Mind seperti apa saya sedang berpikir dan merespon?”
Dan pertanyaan ini membawa pengamatan kita menjadi lebih dalam.
Baca juga: Mengenal Diri: Bukan untuk Menjauh dari Kehidupan (Bagian 5)
State of Mind Bukan Identitas Kita
Karena state of mind merupakan suatu keadaan yang dapat berubah, kita perlu membedakannya dari identitas diri. Kita dapat mengalami kemarahan tanpa harus mengatakan: “Saya adalah orang pemarah.”
Kita dapat mengalami kecemasan tanpa menyimpulkan: “Saya adalah orang yang selalu cemas.”
Kita juga dapat mengalami ketenangan tanpa menganggap: “Saya adalah orang yang selalu tenang.”
Keadaan dapat berubah karena mind memang terus bergerak. Pagi ini kita mungkin merasa gelisah. Beberapa jam kemudian keadaan itu dapat berubah. Apa yang terasa begitu kuat sekarang belum tentu memiliki kekuatan yang sama beberapa waktu kemudian.
Nah, pemahaman ini memberikan ruang. Saya sedang mengalami sesuatu tidak selalu berarti sesuatu itu adalah siapa diri saya.
Ego yang Membuat Pengalaman Terasa Personal
Di dalam semua gerakan tersebut, ada satu unsur yang sangat kuat, yakni: ego. Dalam kehidupan sehari-hari, ego sering hadir melalui pusat pengalaman “saya” atau “aku”.
Saya suka. Saya tidak suka. Saya ingin. Saya tidak ingin. Saya benar. Dia salah. Saya dipuji. Saya dikritik. Saya menang. Saya kalah. Saya mendapatkan. Saya kehilangan. Banyak sekali pengalaman yang terjadi di dalam mind yang segera dikaitkan dengan “saya atau aku”.
Ketika seseorang memuji kita, mind dapat merasa senang karena pujian tersebut dianggap menyentuh “saya”. Ketika seseorang mengkritik, mind dapat merasa terganggu karena kritik tersebut dianggap ditujukan kepada “saya”.
Ketika keinginan terpenuhi, muncul rasa senang. Ketika keinginan tidak terpenuhi, muncul kekecewaan. Karena itu, ego dapat menjadi sangat dominan dalam cara mind bekerja. Ia seperti pusat yang membuat begitu banyak pengalaman terasa personal: “Ini tentang saya.”
Di sinilah keterikatan dapat menjadi kuat. Kita bukan hanya mengalami kemarahan. Kita merasa “saya sedang marah.”
Bukan hanya mengalami ketakutan. Kita merasa “saya takut.”
Bukan hanya memiliki sebuah pikiran. Kita merasa “inilah pikiran saya.”
Padahal kita mulai melihat bahwa pikiran berubah, perasaan berubah, keinginan berubah, dan keadaan mind juga berubah. Maka muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam: Jika semua itu dapat berubah, apakah semuanya benar-benar merupakan keseluruhan diri saya?
Baca juga: Pikiran dan Meditasi: Mengenal Mind Lebih Dalam (6)
Mengenali Mind Berarti Mengenali Apa yang Sedang Terjadi
Pertanyaan tersebut tidak perlu langsung dijawab. Untuk saat ini, langkah kita lebih sederhana: mengenali apa yang sedang terjadi. Misalnya kita sedang marah. Daripada langsung berkata: “Saya memang pemarah.”
Kita dapat mulai melihat sisi lain: “Ada kemarahan yang sedang muncul dalam diri saya.”
Kemudian kita dapat memperhatikan: Apa yang memicunya? Pikiran apa yang menyertainya? Perasaan apa yang muncul? Ingatan apa yang ikut aktif? Apa yang sebenarnya saya inginkan? Apa yang sedang saya takutkan? Ke mana dorongan ini membawa saya? Dan pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus langsung menghasilkan jawaban.
Yang penting, kita mulai melihat…

Dari Mengenali Menjadi Mengamati
Setelah mengenali, kita belajar mengamati. Mengamati bukan berarti menjadi dingin atau tidak merasakan apa-apa. Kita tetap merasakan. Kita tetap mengalami. Namun, kita mulai memiliki kemampuan untuk melihat: “Ini sedang terjadi dalam diri saya.”
Ada pikiran. Ada perasaan. Ada keinginan. Ada kekhawatiran. Ada ingatan. Ada dorongan. Dan semuanya sedang bergerak. Di sinilah muncul sesuatu yang sangat berharga: ruang.
Ruang bukan berarti menjauh dari kehidupan. Ruang berarti ada kesempatan untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum langsung mengikuti arahnya. Dari sinilah pengamatan mulai membawa kita pada pemahaman.
Ketika Pola Mulai Terlihat
Setelah kita mampu mengamati, perlahan kita akan mulai dapat memahami. Kita dapat melihat: “Ternyata ketika hal seperti ini terjadi, pola seperti itu sering muncul.”
Kita mulai mengenali kecenderungan. Mungkin kita melihat bahwa ketika merasa tidak dihargai, kemarahan mudah muncul. Ketika merasa tidak pasti, kita cenderung mencari kepastian berulang kali. Ketika takut kehilangan, kita mudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk.
Ketika mendapat kritik, kita langsung ingin membela diri. Pemahaman seperti ini penting. Sebab kita tidak lagi hanya mengalami pola. Namun sudah mulai dapat melihat pola. Dan ketika pola mulai terlihat, hubungan kita dengan pola tersebut akan mulai berubah. Di sinilah penataan mind menjadi mungkin.
Baca juga: Pikiran adalah Lapisan Ketiga Diri Manusia: Bukan Segalanya (Bagian 7)
Menata Mind, Bukan Berarti Memerangi Mind
Kita perlu berhati-hati ketika memaknai istilah “membersihkan mind.” Membersihkan mind bukan berarti membuat pikiran dan perasaan kita menjadi kosong – tanpa isi. Bukan. Bukan pula berarti menghilangkan semua pikiran yang kita anggap buruk.
Bukan juga berarti hanya mempertahankan pikiran yang kita anggap positif saja. Jika demikian, kita justru dapat menciptakan pertarungan baru di dalam diri: “Saya tidak boleh berpikir seperti ini.”
“Saya harus membuang perasaan ini.”
“Saya harus selalu berpikir positif.”
Padahal mind memang bergerak. Akan selalu ada pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang muncul.
Dalam konteks ini, membersihkan mind lebih tepat dipahami sebagai melihat pola-pola yang tidak sehat – yang muncul – dengan semakin jernih; memahami bagaimana pola tersebut bekerja; dan berhenti terus-menerus memberinya bahan bakar yang tidak perlu. Kadang sesuatu menjadi lebih ringan bukan karena kita memaksanya pergi, tetapi karena kita tidak lagi memperkuatnya. Karena itu, kita lebih memilih kata menata.
Menata berarti melihat apa yang sedang ada, memahami kecenderungannya, mengenali polanya, lalu membangun hubungan yang lebih sehat dengan apa yang muncul. Terdengar agak kompleks bukan? Namun tidak demikian adanya.
Baca juga: Pikiran Mengubah Pikiran: Ubah Cara Berpikir dan Responmu (Bagian 8)
Mengubah Mind Tidak Berarti Mengendalikan Segalanya
Apakah mind dapat berubah? Ya, pikiran dapat diubah. Perasaan dapat diubah. Keinginan dapat berubah. Perhatian dapat berpindah. Keadaan mind dapat berubah. Pola juga dapat berubah. Namun, perubahan tidak selalu terjadi karena kita memerintahkan mind untuk berubah.
Seperti yang kita tahu, bahkan kita tidak selalu dapat menentukan pikiran apa yang pertama kali muncul. Kita juga tidak selalu dapat memilih perasaan apa yang muncul ketika sesuatu terjadi. Yang dapat berkembang adalah cara kita berhubungan dengan apa yang muncul.
Misalnya saat kemarahan muncul. Dulu kita mungkin akan langsung bereaksi. Sekarang kita sudah mulai dapat menyadarinya kemunculannya. Kita sudah dapat membuat jeda. Kita dapat melihat apa yang sedang terjadi. Kita mempertimbangkan akibatnya.
Kemudian kita sudah mulai dapat memilih bagaimana merespon yang tepat. Perubahan dapat dimulai dari ruang kecil seperti itu. Jadi, mengubah mind tidak selalu berarti mengubah apa yang muncul pertama kali. Artinya, perubahan mendasar yang dapat terjadi adalah ketika kita tidak lagi secara otomatis mengikuti setiap apa yang muncul di dalam gugusan pikiran dan perasaan.
Dari Menata Menuju Transformasi
Jika suatu pola terus diulang, pola tersebut dapat menjadi semakin mudah muncul – dapat muncul secara otomatis. Namun, hal sebaliknya juga dapat terjadi. Ketika kita berulang kali belajar mengamati sebelum bereaksi, kemampuan memberi jeda itu akan dapat berkembang lagi. Inilah hal sederhana dan alami yang dapat dicapai oleh setiap orang yang mau melakukannya.
Ketika kita berulang kali membedakan fakta dari dugaan, kita tidak lagi mudah mempercayai semua yang muncul dalam pikiran. Ketika kita berulang kali memberi ruang sebelum mengikuti dorongan, ruang tersebut dapat menjadi semakin dikenal. Perubahan seperti ini, tentunya tidak bisa terjadi dalam satu hari.
Ia tumbuh melalui pengalaman dan pengulangan. Dalam pengertian inilah kita dapat berbicara tentang transformasi mind. Transformasi bukan berarti menjadi orang lain. Bukan berarti menghapus kepribadian. Bukan berarti tidak pernah marah, takut, sedih, atau khawatir lagi.
Transformasi berarti pola yang sebelumnya berjalan hampir otomatis mulai dapat kita lihat, pahami, dan direspon dengan cara yang berbeda.
Tidak Semua yang Muncul Harus Kita Ikuti
Mungkin inilah salah satu pemahaman paling penting dari seluruh perjalanan kita mengenal mind: Tidak semua yang muncul dalam Mind harus kita ikuti. Pikiran dapat muncul tanpa harus langsung dipercaya. Perasaan dapat muncul tanpa harus langsung diwujudkan dalam tindakan. Keinginan dapat muncul tanpa harus selalu dipenuhi.
Kekhawatiran dapat muncul tanpa harus membuat kita terus mencari kepastian. Ingatan dapat muncul tanpa harus membawa kita sepenuhnya kembali ke masa lalu. Mind boleh bergerak. Namun, gerakan mind tidak selalu harus menjadi arah tindakan kita.
Di sinilah mulai muncul kemungkinan yang sangat penting: Saya dapat mengalami sesuatu tanpa harus langsung menjadi tindakan dari pengalaman tersebut – tidak langsung melakukannya dalam bentuk ucapan atau tindakan. Artinya, dalam kondisi ini, kita sudah mulai dapat memiliki pilihan.
Dari Mengalami Menuju Melihat
Jika kita melihat kembali perjalanan ini, ada perubahan yang cukup halus. Pada awalnya mungkin kita hanya menyadari: “Saya sedang berpikir.”
Kemudian menjadi: “Saya sedang merasa.”
Lalu: “Pikiran ini membawa perasaan tertentu.”
Kemudian: “Perasaan ini membawa pikiran berikutnya.”
Sampai akhirnya: “Saya dapat melihat bahwa semua itu sedang terjadi dalam diri saya.”
Pada titik ini, pertanyaan kita sudah mulai berubah.
Bukan hanya: “Apa yang sedang saya pikirkan?”
Tetapi: “Bagaimana saya melihat apa yang sedang saya pikirkan?”
Bukan hanya: “Apa yang saya rasakan?”
Tetapi: “Bagaimana saya memahami apa yang sedang saya rasakan?”
Bukan hanya: “Apa yang ingin saya lakukan?”
Tetapi: “Apakah saya harus langsung mengikuti keinginan itu?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita mulai bergerak dari sekadar mengalami menuju kemampuan untuk melihat.
Memahami Mind Secara Utuh: Sebuah Peta Sederhana
Jika seluruh pembahasan ini kita sederhanakan, kita dapat melihat bahwa mind memiliki beberapa unsur yang saling berhubungan. Yakni: Ada Sifat Dasar Mind. Sifat dasar ini bila bertemu dengan bentuk-bentuk mind lainnya dan dengan pengalaman, pendidikan, lingkungan, keluarga, kebiasaan, kesan, dan berbagai pengaruh lainnya akan menciptakan, melanjutkan, mengembangkan bentuk mind itu sendiri. Suka marah-marah menjadi pemarah. Selalu mengalami kegagalan menjadi tidak percaya diri atau menjadi sering cemas.
Dari sanalah kemudian berkembang kecenderungan. Kecenderungan yang berulang-ulang ini akan membentuk pola. Pola bekerja melalui pikiran, perasaan, ingatan, keinginan, perhatian, dan berbagai gerakan lainnya. Gerakan-gerakan tersebut saling memengaruhi.
Beberapa di antaranya dapat berkumpul menjadi suatu kluster. Kumpulan gerakan tersebut kemudian dapat membentuk state of mind tertentu. Di dalam semua proses itu, ego dapat membuat pengalaman terasa sangat personal melalui pusat: “saya” dan “milik saya”.
Dan setiap keadaan mind membawa karakter serta batasannya sendiri. Semua itu terus bergerak. Karena itu, kita dapat mengenalinya. Kita dapat mengamatinya. Kita dapat memahami kecenderungannya. Kita dapat melihat polanya. Kita dapat menata hubungan kita dengannya.
Dan melalui pengulangan itulah, kemudian perubahan dapat tumbuh.
Mind Bukan Musuh dan Bukan Pula Keseluruhan Diri Kita
Pada akhirnya, memahami mind secara utuh tidak membawa kita pada kesimpulan bahwa mind harus ditaklukkan. Mind bukan musuh. Melalui Mind kita berpikir, merasa, mengingat, menginginkan, membayangkan, dan menjalani begitu banyak pengalaman kehidupan. Tetapi mind juga bukan keseluruhan diri kita.
Ia memiliki sifat dasar. Ia memiliki kecenderungan. Ia memiliki pola. Ia memiliki cara kerja. Ia dapat membentuk kumpulan pengalaman yang saling berkaitan. Ia mengalami berbagai keadaan. Dan setiap keadaan memiliki batas tertentu. Semua itu dapat kita kenali. Semakin kita mengenal mind, semakin jelas bahwa kebebasan bukan berarti membuat mind berhenti bergerak.
Ya, kebebasan dapat mulai muncul ketika kita tidak lagi harus mengikuti setiap gerakan mind tersebut.
Sebelum Melangkah Menuju Buddhi
Sekarang kita memiliki gambaran yang lebih utuh tentang apa yang selama ini kita sebut mind. Bentuk-bentuk mind: berpikir, merasa, mengingat, menginginkan, membayangkan, memperhatikan, menilai dan bergerak.
Setiap gerakan-gerakan tersebut tentunya dipengaruhi oleh sifat dasar, pengalaman, kesan, lingkungan, kebiasaan, dan berbagai pengaruh lainnya. Dari sanalah akan terbentuk kecenderungan dan pola. Dan pola-pola tersebut dapat saling berkaitan.
Keadaan tertentu kemudian dapat terbentuk, dengan karakter, cara kerja, dan batasannya sendiri. Di dalam semuanya, ego kemudian dapat membuat semua pengalaman itu menjadi personal sebagai “saya”.
Kita kemudian belajar mengenali. Kita belajar mengamati. Kita belajar memahami. Kita mulai menata. Kita mulai memberi jeda. Dan perlahan kita belajar bahwa tidak semua yang muncul harus kita ikuti. Namun, perjalanan kita belum selesai.
Justru di sinilah, dapat muncul pertanyaan yang lebih dalam: Jika mind dapat berpikir, merasa, mengingat, menginginkan, membentuk pola, dan terus bergerak, lalu apa yang membantu kita melihat semua gerakan tersebut dengan lebih jernih?
Apa yang membantu kita membedakan antara fakta dan dugaan? Antara pikiran dan kenyataan? Antara dorongan dan pilihan? Antara sesuatu yang sedang kita rasakan dan sesuatu yang memang perlu kita lakukan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa kita ke wilayah berikutnya.
Karena mungkin manusia tidak hanya memiliki kemampuan untuk berpikir dan merasa saja. Dan, masih ada kemungkinan lain bahwa kita memiliki kemampuan yang dapat membantu kita membedakan, mempertimbangkan, memahami, dan melihat dengan lebih jernih. Di sinilah, kita akan mulai berkenalan dengan Buddhi atau Inteligensi. Buddhi bukan sekadar mind yang lebih pintar. Buddhi bukan kumpulan pikiran baru. Buddhi membawa kita pada kemampuan untuk melihat dan mempertimbangkan dengan kejernihan yang tidak selalu tersedia ketika kita hanya mengikuti gerakan mind. Dan, Buddhi atau Inteligensi Dapat Melihat dengan Lebih Jernih.
Pertanyaan yang Sering Muncul Setelah Memahami Mind
1. Apakah pikiran dan perasaan yang muncul di dalam Mind adalah diri kita?
Tidak selalu. Untuk mendapatkan jawabannya, maka kita perlu melakukan disiplin Memahami Mind Secara Utuh karena ia begitu kompleks dan akan selalu memengaruhi setiap respon kita. Pikiran dan perasaan memang merupakan bagian dari pengalaman kita, tetapi keduanya tidak selalu mewakili keseluruhan diri kita. Pikiran dapat berubah, perasaan dapat datang dan pergi, keinginan dapat berganti, dan ingatan dapat memengaruhi cara kita melihat suatu keadaan.
Karena itu, ketika muncul pikiran seperti “Saya tidak mampu”, kita tidak harus langsung menganggap bahwa kita memang tidak mampu. Ketika muncul kemarahan, kita juga tidak harus menyimpulkan bahwa “Saya adalah orang yang pemarah.”
Ada perbedaan antara mengalami sesuatu di dalam mind dan menganggap sesuatu itu sebagai diri kita. Kemampuan untuk melihat perbedaan ini merupakan langkah penting. Kita mulai dapat mengatakan, “Ada pikiran seperti ini,” atau “Ada perasaan seperti ini sedang muncul,” sebelum langsung mempercayai atau mengikutinya. Dengan demikian, kita mulai melihat mind sebagai bagian dari diri yang dapat diamati, dipahami, dan ditata—bukan sebagai keseluruhan diri kita.
2. Apa sebenarnya State of Mind itu, dan apa bedanya dengan sekadar suasana hati?
Suasana hati biasanya menggambarkan nuansa perasaan tertentu. Kita sedang senang, sedih, tenang, gelisah, atau marah. Akan tetapi makna State of Mind lebih luas daripada itu.
State of Mind menggambarkan keadaan atau mode mind pada suatu waktu tertentu. Di dalamnya dapat bekerja pikiran, perasaan, ingatan, keinginan, perhatian, kecenderungan, dan pola tertentu yang saling memengaruhi.
Kita dapat membayangkannya seperti gigi persneling sebuah mobil. Setiap gigi memiliki karakter, cara kerja, kemampuan, dan batasnya sendiri. Ketika gigi berubah, cara mobil bergerak pun berubah. Demikian pula mind. Ketika kita berada dalam keadaan mind tertentu, cara kita melihat, merasa, berpikir, dan merespons kehidupan juga dapat berubah.
Saat berada dalam keadaan yang didominasi rasa takut, perhatian kita lebih mudah tertuju pada ancaman. Saat berada dalam keadaan yang sangat dipengaruhi rasa suka, kita lebih mudah melihat apa yang ingin kita pertahankan. Saat berada dalam keadaan marah, kesalahan orang lain mungkin menjadi jauh lebih terlihat.
Dunia di luar kita mungkin tidak berubah. Namun cara mind menerima dan mengolah pengalaman sedang berada dalam mode yang berbeda. Karena itu, memahami State of Mind membantu kita melihat bahwa respon kita tidak selalu muncul dari ruang yang sepenuhnya bebas. Ada pola, kecenderungan, pengalaman, dan ego yang dapat ikut menentukan bagaimana kita melihat dan merespons sesuatu.
Pertanyaan yang kemudian menjadi penting adalah: “Dari keadaan Mind seperti apa saya sedang berpikir dan merespon?” Inilah pentingnya upaya, disiplin untuk Memahami Mind Secara Utuh, karena setelahnya kita baru mulai memahami diri kita yang tidak sederhana.
3. Bagaimana kita dapat mengubah pola Mind yang terus berulang?
Mengubah pola mind tidak berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif atau menghilangkan semua pikiran dan perasaan yang tidak kita sukai. Langkah pertama justru adalah melihat pola tersebut dengan jelas.
Kita dapat memperhatikan apa yang biasanya memicunya, pikiran apa yang muncul, perasaan apa yang mengikutinya, keinginan apa yang muncul setelahnya, dan tindakan apa yang biasanya kita lakukan. Dengan melihat rangkaian itu, kita mulai memahami bagaimana sebuah pola bekerja.
Misalnya, ketika menerima kritik, kita mungkin langsung merasa tersinggung. Dari sana muncul pikiran bahwa orang lain sedang merendahkan kita. Perasaan tersebut kemudian mendorong keinginan untuk membela diri atau membalas. Jika pola itu terus berulang, respons tersebut dapat menjadi semakin otomatis.
Namun ketika kita mulai menyadarinya, muncul kemungkinan baru. Kita dapat berhenti sejenak. Melihat apa yang sedang terjadi. Tidak langsung mengikuti pikiran. Tidak langsung bertindak berdasarkan perasaan. Dari sinilah perubahan dapat dimulai.
Membersihkan atau menata mind bukan berarti membuat mind menjadi kosong. Artinya, kita mulai mengenali pola yang tidak sehat, memahami cara kerjanya, dan tidak terus-menerus memberinya bahan bakar. Apa yang sebelumnya otomatis mulai dapat dilihat. Apa yang sebelumnya langsung diikuti mulai dapat diberi jeda.
Dan dari jeda itu, muncul ruang untuk memilih. Pada akhirnya, perubahan mind bukan hanya tentang mengubah apa yang muncul di dalamnya, tetapi juga tentang mengubah hubungan kita dengan apa yang muncul.
Tidak semua yang muncul harus kita percaya. Tidak semua yang kita rasakan harus kita ikuti. Tidak semua keinginan harus diwujudkan menjadi tindakan. Di situlah kita mulai memiliki ruang yang lebih besar untuk melihat dan memilih. Itulah sebabnya, pilihan untuk Memahami Mind Secara Utuh adalah sesuatu yang dapat kita lakukan, oleh setiap orang yang mau.
(Tim redaksi – OE)
Artikel Relevan:
- Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan? Pahami Cara Kerja Pikiran
- Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
- Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
- Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Kenali Polanya, Bukan Memusuhinya
- Anand Krishna dari Solo: Memahami Diri, Menemukan Inner Peace, Mewujudkan Global Harmony
- Mengapa Membersihkan Pikiran Penting dalam Praktik Meditasi?
- Meditasi: Napak Tilas ke Dalam Diri — Apa yang Kita Temukan?
