Skip to content
Buddhi dan Meditasi

Buddhi dan Meditasi: Menghantar ke Potensi Diri Lebih Dalam

Buddhi dan Meditasi memiliki hubungan yang erat. Latihan meditasi membantu kita mengenali dan mengolah Gugusan Pikiran dan Perasaan (Mind) yang kompleks. Lalu, apa yang berubah ketika Buddhi mulai hadir dan mengambil peran dalam diri?

(Bagian 10)

 

SEBELUMNYA KITA SUDAH MENYUSURI pengenalan mind, dan sekarang kita akan melanjutkan perjalanan memahami hubungan antara Buddhi dan Meditasi. Perjalanan belum selesai, malah akan lebih seru lagi. Ya, kita sudah berjalan cukup jauh untuk mengenali pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita bahkan sudah mulai melihat bahwa mind bukan hanya satu pikiran yang muncul lalu menghilang. Di dalamnya ada pengalaman, ingatan, kesan, keinginan, ketakutan, kebiasaan, mimpi, pengetahuan, suka dan tidak suka, harapan, kekhawatiran, bahkan berbagai pola yang terbentuk sepanjang perjalanan hidup.

Dari gugusan tersebut terbentuk apa yang sebelumnya kita kenali sebagai State of Mind—kondisi mind pada suatu saat atau dalam suatu pola kehidupan tertentu. Ada saat ketika kita mudah menerima sesuatu karena kita menyukainya. Ada pula saat ketika kita menolak sesuatu bahkan sebelum benar-benar memahaminya karena kita tidak menyukainya.

Kita dapat sangat rasional ketika kepentingan kita tidak terganggu. Tetapi ketika sesuatu menyentuh keinginan, harga diri, ketakutan, atau kepentingan tertentu, respons kita dapat berubah. Pada kondisi seperti itu, kita bukan tidak memiliki pengetahuan. Kita mungkin justru sangat berpengetahuan.

Namun pengetahuan yang kita miliki belum tentu menjadi pihak yang memimpin. Inilah salah satu hal penting yang perlu kita lihat lebih dalam lagi…

 

Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)

 

Berpengetahuan Belum Tentu Berarti Melihat Lebih Luas

Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, pengalaman panjang, banyak membaca buku, dan menguasai berbagai pengetahuan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ia tetap dapat bergerak berdasarkan suka dan tidak suka, untung dan rugi, positif dan negatif menurut kepentingannya sendiri.

Hal ini bukan berarti pendidikan atau pengetahuan tidak berguna. Justru pengetahuan itu sangat diperlukan. Namun, persoalannya adalah: siapa yang menggunakan pengetahuan tersebut, dan dari ruang kesadaran seperti apa pengetahuan itu digunakan?

Pengetahuan dapat membantu kita mengetahui banyak hal. Tetapi mengetahui banyak hal tidak otomatis membuat kita mampu melihat sesuatu dari jarak yang lebih luas. Di sinilah pembicaraan tentang buddhi menjadi sangat relevan.

Buddhi bukan sekadar tambahan pengetahuan baru yang perlu kita pelajari. Buddhi adalah potensi di dalam diri yang memungkinkan kita melihat, memahami, dan merespon kehidupan melampaui batas-batas pola dan kecenderungan mind yang selama ini sangat mendominasi setiap sikap, tindakan dan respon kita – hal ini sudah kita dalami pada artikel-artikel sebelumnya.

 

Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)

 

Buddhi Sudah Ada di Dalam Diri

Buddhi bukan sesuatu yang harus kita ciptakan. Ia sudah ada dalam diri manusia. Karena itu, untuk mulai mengenal buddhi, kita tidak harus terlebih dahulu menjadi filsuf, akademisi, psikolog, atau seseorang yang dianggap sangat spiritual. Akan tetapi, kita tetap dapat melihat jejaknya dalam pengalaman yang sangat sederhana.

Seorang bayi yang belum belajar teori apa pun dapat menemukan puting ibunya. Seorang manusia dapat spontan menolong orang lain tanpa terlebih dahulu menghitung apa keuntungan yang akan diperolehnya.

Seorang anak dapat membuka bekalnya dan membaginya dengan teman yang tidak membawa makanan. Ia tidak selalu mulai dengan pertanyaan: teman saya berasal dari keluarga apa, agamanya apa, sukunya apa, tinggal di mana, atau apa yang akan saya dapatkan setelah berbagi? Ia melihat ada teman yang tidak memiliki makanan. Lalu ia berbagi. Sederhana.

Dalam tindakan seperti itu, kita dapat melihat adanya kemungkinan manusia untuk bergerak melampaui perhitungan mind yang sempit. Bukan berarti setiap tindakan spontan otomatis merupakan buddhi. Kita juga tidak perlu buru-buru memberi label pada diri sendiri.

Yang penting adalah melihat bahwa di dalam diri manusia memang ada kemampuan untuk tidak selalu mengikuti pola lama yang sedang muncul. Kita dapat berhenti. Kita dapat melihat akibat dari tindakan kita.

Kita dapat mempertimbangkan keadaan orang lain. Kita dapat keluar sejenak dari kepentingan kelompok kita sendiri. Dan kita dapat memilih respons yang lebih luas daripada dorongan pertama yang muncul. Di situlah pembahasan tentang Buddhi mulai menjadi pengalaman, bukan sekadar pengetahuan.

 

Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)

 

Buddhi dan Meditasi
Temukan jawaban mengapa hubungan antara Buddhi dan Meditasi demikian eratnya. Latihan Meditasi sejatinya berasal dari pemahaman mendalam akan keberadaan Mind, Buddhi dan lapisan Spiritual.

 

Seperti Memindahkan Persneling

Mungkin cara sederhana untuk memahami perjalanan ini adalah melalui perumpamaan persneling kendaraan. Sebuah kendaraan memiliki beberapa tingkat persneling. Persneling pertama bukan sesuatu yang buruk sehingga harus dibuang ketika kita menggunakan persneling berikutnya. Persneling kedua juga bukan pengganti yang membuat persneling pertama menjadi tidak berguna.

Masing-masing memiliki fungsi, konteks, dan waktunya. Begitu pula dengan perjalanan kesadaran manusia. Kita dapat membayangkan State of Mind sebagai salah satu “persneling” kehidupan kita sehari-hari. Di dalamnya kita menggunakan pengetahuan, pengalaman, ingatan, kebiasaan, pertimbangan, suka dan tidak suka, serta berbagai program bawaan mind untuk menjalani kehidupan.

Semua itu diperlukan. Tetapi kehidupan tidak harus berhenti di sana. Ketika kepemimpinan mulai bergeser kepada buddhi, cara kita menggunakan semua yang sudah kita miliki dapat berubah. Ya, kita sudah tahu bahwa mind akan tetap ada. Pengetahuan tetap ada. Pengalaman tetap ada.

Kebiasaan dan kemampuan berpikir tetap dapat digunakan. Yang berubah adalah siapa yang memimpin dan seberapa luas kita melihat kehidupan. Dari mind menuju buddhi, lalu kelak menuju dimensi Spiritual, dan bukan berarti kita membuang persneling sebelumnya.

Kita sedang belajar menggunakan persneling yang sesuai dengan perjalanan. Itulah sebabnya perjalanan ini perlu dipahami sebagai napak tilas, bukan lompatan mendadak. Kita mengenali mind. Kita melihat polanya. Kita menyadari keterbatasannya. Kita belajar membuat ruang.

Lalu perlahan kita mulai mengenali bahwa di dalam diri kita ada kemampuan untuk melihat dan merespon dengan cara yang tidak selalu ditentukan oleh pola lama tersebut.

 

Baca juga: Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya? (Bagian 4)

 

Lalu, Apa Hubungannya dengan Meditasi?

Di titik ini, hubungan antara Buddhi dan Meditasi mulai menjadi lebih jelas. Kalau buddhi sudah ada di dalam diri, mengapa kita masih memerlukan meditasi? Masuk akal bukan?

Alasannya adalah, karena keberadaan buddhi tidak berarti mind otomatis berhenti mendominasi. Seperti contoh: kita dapat mengetahui bahwa marah tidak selalu menyelesaikan masalah, tetapi tetap saja bisa marah. Kita dapat memahami bahwa iri hati tidak membawa kedamaian, tetapi tetap merasa iri ketika melihat keberhasilan orang lain.

Kita dapat mengetahui bahwa suatu kebiasaan sudah tidak sesuai dengan kehidupan kita, tetapi dalam lingkungan tertentu dorongan lama dapat muncul kembali. Mengapa? Karena sebuah pola tidak hanya tinggal sebagai pengetahuan di kepala. Ia dapat tersimpan sebagai kesan, pengalaman, kebiasaan, dan daya reaktif di dalam mind.

Seseorang mungkin sudah lama meninggalkan kebiasaan tertentu. Tetapi ketika berada kembali dalam lingkungan, pergaulan, aroma, suasana, atau situasi yang sangat terkait dengan kebiasaan tersebut, dorongan lama dapat muncul lagi. Bukan berarti seluruh perubahan sebelumnya sia-sia.

Yang terjadi adalah kita sedang melihat bahwa pola lama masih dapat memiliki sisa daya. Hal serupa juga dapat terjadi pada berbagai kecenderungan lain kita. Pendidikan, keluarga, lingkungan, pengalaman menyakitkan, dogma, doktrin, maupun kebiasaan sosial dapat membentuk pola tertentu dalam mind. Selama situasi mendukung, pola itu mungkin tampak tidak bermasalah.

Namun ketika seseorang memperoleh kekuasaan, kedudukan, kesempatan, atau keleluasaan yang lebih besar, pola yang selama ini tersimpan dapat muncul dalam bentuk keserakahan, kesombongan, eksploitasi, atau tindakan yang merugikan orang lain dan lingkungan.

Pakaian yang rapi, gelar akademik, jabatan, penghargaan, maupun pengetahuan luas tidak dengan sendirinya menghapus pola tersebut. Begitu pula dengan berpikir positif, afirmasi, sugesti, atau sekadar mengatur napas tidak otomatis membuat seluruh muatan lama mind menghilang.

Lebih jauh, yang diperlukan adalah sebuah perjalanan sadar yang lebih dalam untuk mengenali dan mengolah mind itu. Ia tidak demikian adanya, Peluang untuk membuat jarak, jeda dan ruang dengannya adalah sangat memungkinkan. Di sinilah meditasi memiliki peran.

 

Baca juga: Mengenal Diri: Bukan untuk Menjauh dari Kehidupan (Bagian 5)

 

Meditasi Mengolah Mind, Bukan Memusnahkannya

Meditasi tidak perlu dipahami sebagai usaha untuk membuat pikiran kosong selamanya. Kita juga tidak perlu memusuhi pikiran dan perasaan. Bahkan, mind itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa ditiadakan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika daya reaktifnya terlalu kuat sehingga kita hampir selalu bergerak secara otomatis mengikuti apa yang muncul. Nah, dalam praktik latihan meditasi, kita belajar memperlambat Gerak, alirannya.

Dengan berbagai pendekatan meditasi, kita dapat berhadapan dengan lapisan-lapisan mind yang selama ini tidak selalu terlihat dalam kesibukan sehari-hari. Kesan lama, ingatan, emosi, kecenderungan, bahkan pola yang selama ini tersimpan dapat muncul untuk dikenali dan diolah kembali. Tujuannya bukan menghapus seluruh isi mind.

Lebih tepat jika kita membayangkannya sebagai proses merawat, membersihkan, menata, dan mentransformasikan apa yang ada di dalamnya. Daya reaktifnya perlahan dapat dilemahkan. Apa yang sebelumnya langsung menarik kita tidak lagi memiliki kekuatan yang sama. Apa yang sebelumnya langsung mendorong kita untuk bereaksi mulai dapat kita lihat terlebih dahulu.

Di sinilah Meditasi Membantu Mengakses Buddhi—bukan karena meditasi menciptakan buddhi, akan tetapi karena ketika dominasi mind sudah melemah, dan sesuatu yang selama ini tertutup oleh gerak mind menjadi lebih mudah dikenali dan diakses.

Maka kita dapat memahami: Meditasi Sarana Mengakses Buddhi, bukanlah resep instan untuk mendapatkan buddhi. Akan tetapi ia adalah bagian dari perjalanan.

 

Baca juga: Pikiran dan Meditasi: Mengenal Mind Lebih Dalam (6)

 

Ketika Ada Ruang untuk Tidak Langsung Bereaksi

Kita mungkin pernah mengalami sebuah momen sederhana. Seseorang mengatakan sesuatu kepada kita. Biasanya kita langsung menjawab. Kali ini kita berhenti sebentar. Ada jeda. Kita menyadari bahwa kita sedang tersinggung. Kita menyadari keinginan untuk membalas. Tetapi kita tidak langsung mengikuti dorongan itu.

Dalam jeda tersebut, kita melihat lebih banyak. Mungkin kita melihat bahwa ucapan orang tersebut sebenarnya tidak seperti yang pertama kali kita tafsirkan. Mungkin kita melihat akibat jika kita membalas dengan emosi. Mungkin kita menyadari bahwa persoalan yang sedang kita hadapi jauh lebih besar daripada siapa yang menang dalam percakapan. Mungkin kita mempertimbangkan perasaan orang lain.

Ruang kecil itu sangat berarti untuk dicapai. Inilah yang sebelumnya kita kenali sebagai Ruang–Jeda–Jarak. Ia bukan sebuah teknik tambahan yang harus kita lakukan secara mekanis. Ia adalah kondisi ketika dominasi mind mulai melemah sehingga kita tidak lagi sepenuhnya terseret oleh gerak otomatisnya. Dalam kondisi tersebut, buddhi memiliki kesempatan untuk hadir dan mengambil peran.

Karena itu, Hubungan Meditasi dengan Buddhi bukan sekadar hubungan antara sebuah teknik dan sebuah hasil. Namun, meditasi dapat membantu kita mengolah kondisi yang selama ini membuat mind terlalu dominan terhadap setiap respon kita.

Ketika daya reaktifnya berkurang, ruang untuk melihat menjadi lebih luas. Dan dari ruang itulah kita dapat mulai mengenali kepemimpinan buddhi terhadap mind kita.

 

Buddhi dan Meditasi
Hubungan Buddhi dengan Meditasi yang demikian penting, dapat menghantarkan kita pada kondisi-kondisi spiritual diluar jangkauan keterbatasan Mind kita.

 

Baca juga: Pikiran adalah Lapisan Ketiga Diri Manusia: Bukan Segalanya (Bagian 7)

 

Ketika Cara Melihat Mulai Berubah

Ketika buddhi mulai mengambil peran, perubahan tidak selalu tampak sebagai sesuatu yang spektakuler. Kadang justru sangat sederhana. Kita masih bekerja. Masih menggunakan uang. Masih memiliki keluarga. Masih mempunyai keinginan. Masih membuat perencanaan. Masih dapat menyukai sesuatu dan tidak menyukai sesuatu yang lain.

Namun kita tidak lagi harus selalu menjadikan semua itu sebagai pusat keputusan. Tapi, kita mulai melihat akibat yang lebih jauh. Bukan hanya: “Apa yang menguntungkan saya?”

Tetapi juga: “Apa akibatnya bagi orang lain?”

Bukan hanya: “Kelompok saya mendapatkan apa?”

Tetapi juga: “Apa yang terjadi pada mereka yang berada di luar kelompok saya?”

Bukan hanya: “Apakah saya suka atau tidak suka?”

Tetapi juga: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Di sinilah pengetahuan yang kita miliki dapat digunakan dengan cara yang berbeda. Sekarang, kita dapat melihat lebih jauh. Lebih luas. Lebih menyeluruh. Bahkan lebih visioner. Hubungan Buddhi dan Meditasi itu tidak bermaksud mengajak kita meninggalkan kehidupan. Sebaliknya, ia membuat kita lebih sadar bahwa kehidupan kita tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan yang lain.

Apa yang dilakukan satu orang dapat memengaruhi orang lain. Apa yang terjadi di satu tempat dapat berdampak ke tempat lain. Apa yang kita lakukan terhadap alam pada akhirnya kembali kepada kehidupan manusia sendiri. Bumi adalah rumah bersama.

Karena itu, kesadaran buddhi tidak mudah membenarkan pengorbanan orang lain hanya demi kepentingan kelompok, dogma, doktrin, kebiasaan, atau keuntungan tertentu. Buddhi melihat hubungan saling memengaruhi itu. Ia melihat keterkaitan. Ia melihat bahwa kehidupan bukan kumpulan bagian yang berdiri sendiri.

 

Baca juga: Pikiran Mengubah Pikiran: Ubah Cara Berpikir dan Responmu (Bagian 8)

 

Cara Mengakses Buddhi: Bukan Mencari Sesuatu yang Jauh

Lalu, Cara Mengakses Buddhi sebenarnya bukan perjalanan untuk mencari sesuatu yang jauh dari diri kita. Sebab, buddhi sudah kita miliki sejak lahir. Yang perlu kita lakukan adalah semakin mengenali kondisi yang membuatnya dapat berperan.

Meditasi merupakan salah satu jalan untuk mengolah mind menuju kondisi tersebut. Berbagai bentuk latihan meditasi dapat melibatkan napas, pengamatan, visual, gerak tubuh, suara, pengamatan terhadap aliran mind, pola makan, disiplin, dan berbagai pendekatan lainnya. Bentuknya dapat berbeda.

Yang penting bukan sekadar bentuk luarnya, melainkan bagaimana latihan tersebut membantu kita mengenali dan mengolah mind, mengurangi daya reaktifnya, dan membuka ruang kesadaran yang lebih luas. Dengan demikian, kita tidak perlu membuang apa pun secara tergesa-gesa.

Mind tetap memiliki tempatnya. Pengetahuan tetap digunakan. Pengalaman tetap menjadi bagian perjalanan. Tetapi perlahan kita dapat belajar agar semuanya tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang menentukan arah.

 

Baca juga: Buddhi atau Inteligensi: Kaca Mata Lebih Bijak Dibanding Mind (Bagian 9)

 

Kita Tidak Perlu Menjadi Orang Lain

Mungkin inilah bagian yang paling memberdayakan dari perjalanan ini. Kita tidak sedang diminta menjadi manusia yang berbeda dari diri kita sekarang. Tapi, kita sedang belajar mengenali apa yang memang sudah ada dalam diri.

Kita memiliki mind. Kita memiliki buddhi. Dan dalam perjalanan yang lebih jauh, ada pula dimensi Spiritual yang dapat kita kenali. Karena itu, perjalanan ini tidak eksklusif untuk mereka yang telah membaca banyak buku atau memahami filsafat tertentu.

Akan tetapi, perjalanan ini dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari. Dari satu respon yang kita tunda. Dari satu kemarahan yang kita amati. Dari satu kebiasaan yang kita kenali. Dari satu keputusan yang tidak lagi semata-mata didasarkan pada rasa suka dan tidak suka.

Dari satu tindakan kecil ketika kita melihat kebutuhan orang lain sebagai sesuatu yang juga perlu kita perhatikan. Sedikit demi sedikit, kita mulai mengenali bahwa diri kita ternyata lebih luas daripada apa yang selama ini dikatakan oleh State of Mind itu. Persneling pertama tidak perlu dibuang.

Kita hanya belajar kapan harus menggunakannya dan kapan perjalanan membutuhkan persneling berikutnya. Dan ketika hubungan Buddhi dan Meditasi mulai mengambil peran, kita lalu merasakan bahwa perjalanan manusia tidak berhenti pada kemampuan mengatur mind saja. Akan tetapi, masih ada ruang yang lebih dalam di sana. Masih ada potensi yang belum selesai kita kenali. Dan setelah ini, masih ada persneling berikutnya yang masih menunggu.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1.Apakah meditasi otomatis membuat seseorang hidup dengan buddhi?

Tidak otomatis. Meditasi dapat membantu mengenali dan mengolah mind serta mengurangi daya reaktifnya, akan tetapi pengetahuan tentang meditasi atau praktik meditasi itu sendiri bukanlah jaminan bahwa buddhi selalu menjadi pemimpin dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan tersebut perlu dialami dan diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan.

 

2.Apakah dengan kehadiran peran buddhi berarti kita harus meninggalkan pikiran dan perasaan?

Tidak. Mind tetap merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Buddhi bukan penghapus mind. Yang berubah adalah hubungan kita dengan mind: kita tidak harus selalu mengikuti setiap dorongan, suka dan tidak suka, atau pola lama yang muncul. Tentu, mind akan tetap digunakan, namun sekarang tidak harus selalu menjadi pihak yang menentukan arah hidup kita.

 

3.Apakah saya harus menjadi ahli tertentu untuk mengenal buddhi?

Tidak. Buddhi bukan milik kelompok profesi atau kalangan tertentu. Setiap manusia memiliki potensi tersebut. Kita dapat mulai mengenalinya melalui pengalaman sehari-hari: belajar berhenti sebelum bereaksi, melihat akibat tindakan, mempertimbangkan orang lain, dan mengamati kapan kita sedang bergerak otomatis mengikuti pola lama. Meditasi dapat menjadi salah satu sarana untuk memperdalam proses tersebut. Dan hubungan antara Buddhi dan Meditasi jauh melampaui kemampuan State of Mind kita. Hubungan Buddhi dan Meditasi sangat di luar jangkuan pikiran dan perasaan kita yang tidak mau diubah, dikoreksi bahkan ditransformasi.

 

(Tim redaksi – OE)

 

Artikel Relevan:

 

Back To Top