Perenungan kemudian mengantarkan pada rasa penasaran: apa hubungan antara pikiran dan meditasi? Sebab, ketika kita…

Pikiran adalah Lapisan Ketiga Diri Manusia: Bukan Segalanya
Kapan pertama kali Anda mengetahui bahwa Pikiran adalah Lapisan Ketiga diri manusia yang kompleks? Jadi, kita bukan pikiran dan perasaan semata. Ia bukanlah keseluruhan diri kita. Mari kita memahami hal ini berdasarkan peradaban Timur.
(Bagian 7)
INILAH SAATNYA KITA melihat sisi lain dari keutuhan diri kita, bahwa Pikiran adalah Lapisan Ketiga yang kita miliki. Dan masih ada empat lapisan lainnya yang kita miliki. Pada artikel-artikel sebelumnya, kita sudah berjalan cukup jauh untuk mengenali Mind—gugusan pikiran dan perasaan yang terus bergerak, muncul di dalam diri. Kita sudah mulai bisa melihat bagaimana suka dan tidak suka, ingatan, pengalaman, mimpi, rasa takut, kebencian serta berbagai kecenderungan lainnya dapat memengaruhi cara kita memandang dan menjalani kehidupan.
Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita bawa lebih jauh, yakni: Jika saya dapat mengamati pikiran dan perasaan saya, apakah saya benar-benar hanya pikiran dan perasaan itu? Pertanyaan ini penting sekali untuk kita ajukan kepada diri sendiri. Sebab, ketika kita mulai mengamati mind, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam, yakni: menggunakan Mind untuk memahami Mind itu sendiri.
Bayangkan sebuah kamera yang selama ini digunakan untuk melihat dunia. Pada suatu saat, kamera itu diarahkan kembali kepada dirinya sendiri. Kita mulai melihat bagaimana pikiran muncul, bagaimana perasaan mengikutinya, bagaimana ingatan memberi warna, dan bagaimana kecenderungan tertentu mendorong kita untuk bereaksi.
Dari sinilah perjalanan memahami diri menjadi lebih luas dan dalam lagi. Dan dari sini pula perjalanan kita mulai menemukan sebuah pemahaman yang mengatakan: Pikiran adalah Lapisan Ketiga diri kita. Kok bisa? Bagaimana pemahaman ini bisa membantu dalam perjalanan kita?
Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)
Ketika Kita Mulai Memiliki Ruang
Mind mempunyai sifat bergerak. Sebuah peristiwa terjadi, lalu muncul pikiran. Pikiran memunculkan perasaan. Perasaan dapat melahirkan dorongan untuk bertindak. Seseorang mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai. Pikiran segera menilai. Perasaan ikut bergerak. Tubuh mungkin menegang. Lalu muncul dorongan: balas, hindari, atau lakukan sesuatu sekarang juga.
Biasanya semua itu berlangsung begitu cepat sehingga kita merasa tidak mempunyai pilihan. Padahal, ketika kita mulai mengamati proses tersebut, perlahan muncul sesuatu yang berbeda: adanya ruang antara “apa yang muncul di dalam diri” dan “tindakan yang kita lakukan”.
“Ruang” ini bukan berarti pikiran dan perasaan kita harus dikosongkan. Bukan pula berarti kita menolak kemarahan, kesedihan, atau ketakutan. Tapi, kita hanya tidak langsung mengikuti semuanya itu. Seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai. Air tetap mengalir. Ia tidak perlu menghentikan sungai untuk mengetahui ke mana air bergerak. Ia cukup berdiri dan melihat apa yang sedang bergerak dan mengalir.
Begitu pula dengan mind. Ketika kita mempunyai ruang untuk melihat alirannya, kita mulai dapat membedakan antara apa yang sedang muncul dan apa yang akhirnya kita pilih untuk dilakukan.
Di situlah pemahaman mulai tumbuh. Pada titik ini, ketika kita mulai untuk memahami bahwa Pikiran adalah Lapisan Ketiga diri kita, kemudian tidak lagi sekadar menjadi istilah saja. Ia sudah berubah menjadi sebuah kenyataan yang dapat kita selidiki, dan alami – menjadi bagian dari cara kita melihat pengalaman diri.
Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)

Memahami Mind untuk Mentransformasi Mind
Lalu untuk apa kita memahami mind itu? Bukan hanya supaya kita tahu bahwa kita sedang marah, takut, kecewa, atau cemas. Namun pertanyaan ini mempunyai tujuan yang lebih jauh, yakni: untuk mentransformasi mind menjadi lebih jernih.
Jernih tidak selalu berarti tenang. Seseorang bisa terlihat tenang tetapi tetap mengambil keputusan berdasarkan ketakutan. Sebaliknya, seseorang bisa sedang mengalami kemarahan, tetapi mampu melihat kemarahannya tanpa langsung dikendalikan olehnya.
Jadi yang kita cari bukan sekadar keadaan tanpa gejolak. Yang kita cari adalah kemampuan untuk melihat dengan lebih jelas apa yang sedang terjadi di dalam diri. Ketika muncul dorongan untuk membalas, misalnya, kita mulai mempunyai kemungkinan untuk melihat: Saya sedang marah.
Kemudian: Apa sebenarnya yang membuat saya marah?
Lalu: Apakah saya harus mengikuti dorongan ini?
Jeda kecil itu mungkin tampak sederhana. Namun dari sanalah kita bisa mulai belajar menata, memilih, dan perlahan mentransformasi mind itu. Dalam kerangka ini lah, makna kejernihan tersebut juga membuka kemungkinan untuk mengakses Inteligensi atau Buddhi—kemampuan melihat dan memilih yang tidak semata-mata digerakkan oleh reaksi otomatis mind lama kita.
Dengan demikian, memahami mind bukanlah perjalanan untuk memusuhi mind. Tetapi, kita justru memahaminya agar tidak terus-menerus menjadi korban dari sifat dan pola geraknya sendiri.
Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)
Tetapi, Apakah Mind Adalah Keseluruhan Diri Kita?
Sampai di sini kita menemukan sesuatu yang menarik. Jika pikiran dapat berubah, perasaan dapat berubah, ingatan dapat muncul dan menghilang, bahkan kecenderungan kita dapat berubah seiring pengalaman, lalu apakah semua itu merupakan keseluruhan diri kita?
Bayangkan sebuah radio. Radio dapat menangkap berbagai siaran. Pagi ini terdengar berita. Beberapa saat kemudian musik. Setelah itu suara percakapan. Siarannya berubah-ubah, tetapi radio bukanlah setiap siaran yang sedang terdengar.
Demikian pula dengan pikiran dan perasaan. Kita mengalami kemarahan, tetapi bukan berarti seluruh diri kita adalah kemarahan. Kita mengalami ketakutan, tetapi ketakutan itu bukan seluruh diri kita. Kita memiliki ingatan dan berbagai kecenderungan, tetapi semua itu tidak harus dipahami sebagai keseluruhan diri.
Perbedaan sederhana antara “saya memiliki pikiran dan perasaan” dengan “saya adalah seluruh pikiran dan perasaan saya” dapat membuka cara pandang yang berbeda terhadap diri sendiri.
Lalu, kalau Mind bukan keseluruhan diri, di mana sebenarnya posisi Mind dalam diri manusia? Di sinilah kita sampai pada pembahasan tentang lapisan diri.
Baca juga: Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya? (Bagian 4)
Pikiran adalah Lapisan Ketiga
Dalam salah satu kerangka pemahaman dari Peradaban Timur, manusia dipandang memiliki lima lapisan yang saling berkaitan: Fisik – Energi – Mind – Inteligensi – Spiritual. Dalam susunan ini, mind atau gugusan pikiran dan perasaan berada pada lapisan ketiga.
Dari pemahaman inilah kemudian kita diberitahu bahwa Pikiran adalah Lapisan Ketiga diri kita di antara empat lapisan lainnya. Dengan demikian, ketika kita mengatakan Pikiran adalah Lapisan Ketiga, kita tidak sedang mengatakan bahwa mind adalah bagian yang paling penting atau paling menentukan.
Namun, kita sedang menunjukkan posisinya dalam sebuah kerangka pemahaman tentang diri manusia. Bayangkan sebuah rumah. Ketika kita berada di satu ruangan, kita memang sedang berada di rumah tersebut. Tetapi satu ruangan bukanlah keseluruhan rumah. Begitu pula dengan mind.
Ya, mind sangat penting dalam kehidupan kita. Melalui mind kita mengingat, menilai, merasakan, menyimpan informasi, menyukai, tidak menyukai, dan merespon berbagai pengalaman. Namun mind hanyalah salah satu lapisan dalam keseluruhan diri manusia.
Lima lapisan tersebut tidak dimaksudkan sebagai lima bagian yang berdiri sendiri. Justru sebaliknya, semuanya saling berhubungan dan saling memengaruhi. Pemahaman mengenai lima lapisan ini diperkenalkan dalam konteks Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) yang dikembangkan oleh Maharishi Anand Krishna pada era ini. Yang penting, kerangka ini dapat dipandang sebagai sebuah paradigma untuk mengeksplorasi dan memahami diri, dan bukan sesuatu yang harus diterima secara buta.
Baca juga: Mengenal Diri: Bukan untuk Menjauh dari Kehidupan (Bagian 5)
Lima Lapisan, Satu Kesatuan Manusia
Hubungan antarlapisan sebenarnya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tubuh kurang tidur, misalnya, suasana pikiran dan perasaan dapat ikut berubah. Ketika tubuh terlalu lelah, kita mungkin lebih mudah tersinggung atau sulit berkonsentrasi.
Sebaliknya, ketika pikiran dan perasaan terus berada dalam tekanan, tubuh pun dapat ikut merasakan dampaknya. Pengalaman melalui pancaindra juga memberi bahan bagi mind. Mata menerima penglihatan, telinga menerima suara, kulit merasakan sentuhan, lidah mengecap rasa, dan hidung mencium aroma. Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses kehidupan kita.
Bahkan apa yang kita masukkan ke dalam tubuh dapat berpengaruh pada keadaan diri secara keseluruhan. Karena itu, memahami mind tidak cukup jika kita memandangnya sebagai sesuatu yang berdiri sendirian. Kondisi fisik, energi, Inteligensi, dan dimensi spiritual juga ditempatkan dalam hubungan yang saling berkaitan.
Di sinilah cara pandang tentang Manusia Memiliki Lapisan Diri menjadi penting dan sangat relevan untuk diketahui dan dibuktikan – kita mulai melihat diri sebagai satu kesatuan yang lebih luas.
Apa Manfaat Memahami Lapisan Diri?
Lalu apa manfaat memahami lapisan-lapisan tersebut? Jadi, bukan sekadar agar kita dapat menghafal lima istilah baru – menjadi pengetahuan baru. Namun, manfaatnya adalah agar kita mempunyai kerangka yang lebih luas untuk memahami pengalaman diri.
Ketika muncul kemarahan, misalnya, kita tidak harus segera menyimpulkan: “Saya memang orang pemarah.”
Namun, kita dapat mulai melihat: “Ada kemarahan yang sedang muncul dalam diri saya.”
Perubahan kalimat ini bukan sekadar permainan kata. Akan tetapi kita sudah mengalami pergeseran cara melihat. Kita mulai memberi jarak antara diri dan apa yang sedang muncul dalam mind.
Dari jarak itu, kita dapat mengamati. Dari pengamatan, kita dapat memahami. Dari pemahaman, kita mempunyai kemungkinan untuk memilih. Inilah salah satu manfaat memahami lapisan diri: kita tidak lagi melihat pengalaman diri hanya dari satu sudut.
Baca juga: Pikiran dan Meditasi: Mengenal Mind Lebih Dalam (6)

Paradigma adalah Peta, Bukan Tujuan
Tentu saja, ketika berbicara tentang lapisan diri, kita perlu memahami posisi paradigma ini. Sebuah paradigma dapat dibayangkan seperti peta. Dan peta dapat membantu kita memahami arah dan mengenali wilayah yang sedang kita jelajahi. Tetapi peta bukanlah wilayah itu sendiri.
Begitu pula kerangka lima lapisan ini. Ia dapat digunakan sebagai cara untuk mempelajari, mempraktikkan, mengamati, dan mengevaluasi pengalaman diri. Dalam pendekatan NSE, pemahaman tersebut tidak berhenti pada keyakinan atau hafalan. Ia justru perlu dijalani dan diamati dalam pengalaman.
Dengan cara seperti itu, Lima Lapisan Diri Manusia bukan sekadar konsep yang harus dipercaya, melainkan sebuah kerangka yang dapat digunakan untuk melihat kehidupan dengan lebih menyeluruh.
Pikiran Bukan Segalanya
Sekarang kita dapat kembali kepada pertanyaan di awal. Apakah saya hanya pikiran dan perasaan saya?
Setelah memahami perjalanan ini, kita mungkin mulai melihat jawabannya dengan cara yang berbeda. Mind memang penting. Dan kita tidak perlu menolaknya. Justru kita perlu memahaminya.
Ya, kita menggunakan mind untuk memahami mind. Hmmm… Apa iya, ya? Kita sudah belajar melihat alirannya. Kita sudah dapat menciptakan ruang antara dorongan dan tindakan. Dari ruang itu kita sudah belajar memahami, menata, memilih, dan mentransformasi mind agar menjadi lebih jernih. Dalam kadar tertentu pengalaman ini sudah kita alami sendiri.
Dan ketika pemahaman itu semakin dalam, kita mulai melihat bahwa Pikiran Bukan Segalanya. Mind adalah lapisan ketiga dalam sebuah kerangka yang lebih luas. Dari sini, pemahaman tentang Pikiran adalah Lapisan Ketiga tidak berhenti pada penempatan mind sebagai “lapisan ketiga”, tetapi membawa kita kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa diri kita di balik semua yang terus berubah?
Perjalanan memahami diri tidak berhenti ketika kita sudah memahami pikiran dan perasaan secara sekilas. Justru dari sanalah perjalanan berikutnya akan dimulai: mengenali diri secara lebih utuh, sekaligus membuka kemungkinan untuk mengakses Inteligensi atau Buddhi yang lebih jernih, holistik dengan lebih nyata – dibuktikan langsung, bukan sekadar pengetahuan belaka.
Kita perlu memahami mind, bukan untuk terjebak di dalamnya, tetapi agar dari sana kita dapat mulai mengenali diri secara lebih utuh.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1.Apa yang dimaksud dengan Pikiran adalah Lapisan Ketiga?
Dalam kerangka lima lapisan diri—Fisik, Energi, Mind, Inteligensi, dan Spiritual—mind atau gugusan pikiran dan perasaan ditempatkan sebagai lapisan ketiga diri kita. Mind memang mempunyai peran penting dalam kehidupan, tetapi ia bukanlah keseluruhan diri manusia.
2.Mengapa kita perlu memahami Mind, jika Mind bukan keseluruhan diri?
Karena mind sangat memengaruhi cara kita mengalami dan menjalani kehidupan. Dengan memahaminya, kita mulai dapat melihat pikiran, perasaan, ingatan, dan kecenderungan tanpa harus langsung mengikuti semuanya. Dari sana muncul ruang untuk memahami, memilih, dan mentransformasi mind menjadi lebih jernih.
3.Apa hubungan Mind dengan Inteligensi atau Buddhi?
Mind banyak dipengaruhi pengalaman, kesan, ingatan, kesukaan, ketidaksukaan, rasa takut, keinginan, dan kecenderungan. Ketika kita tidak langsung terseret oleh semua itu, muncul ruang untuk melihat sebelum memilih. Dalam kerangka ini, kejernihan tersebut membuka kemungkinan untuk mengakses Inteligensi atau Buddhi, sehingga pilihan tidak semata-mata berasal dari reaksi otomatis mind.
4.Apakah lima lapisan diri manusia harus dipercaya sebagai satu-satunya kebenaran?
Tidak. Kerangka lima lapisan merupakan sebuah paradigma dari Peradaban Timur yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami diri. Dalam pendekatan NSE, pemahaman tersebut dapat dipelajari, dipraktikkan, diamati, dan dievaluasi melalui pengalaman, bukan sekadar diterima sebagai dogma. Dan tentu, masih banyak paradigma lainnya yang bisa kita pelajari juga.
(Tim redaksi – OE)
Artikel Relevan:
- Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan? Pahami Cara Kerja Pikiran
- Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
- Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
- Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Kenali Polanya, Bukan Memusuhinya
- Anand Krishna dari Solo: Memahami Diri, Menemukan Inner Peace, Mewujudkan Global Harmony
- Mengapa Membersihkan Pikiran Penting dalam Praktik Meditasi?
- Meditasi: Napak Tilas ke Dalam Diri — Apa yang Kita Temukan?
