Memahami Cara Kerja Pikiran dan Perasaan seperti Spektrum: Mengapa satu pikiran dapat melahirkan pikiran lainnya,…

Mengubah Pikiran dan Perasaan: Bisakah Kita Melakukannya?
Apa yang bisa kita lakukan jika Pikiran dan Perasaan (Mind) memiliki sifat-sifat bawaan dan sudah membentuk pola dan cara kerjanya? Dapatkah kita mengubah pikiran dan perasaan yang kita miliki?
(Bagian 4)
SETELAH MULAI MENGENALI dan mengamati pikiran dan perasaan, memahami sifat-sifatnya, lalu melihat bagaimana semuanya membentuk pola dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang cukup sederhana: kalau saya sudah bisa melihat pola itu, apakah saya bisa mengubah pikiran saya?
Pertanyaan ini menarik karena dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan diri sendiri melakukan hal yang sebenarnya sudah kita kenali. Kita tahu mudah tersinggung, tetapi tetap tersinggung. Kita tahu sering terburu-buru dan itu tidak menyenangkan, tetapi kembali terburu-buru. Kita tahu ada kebiasaan tertentu yang kurang sesuai dalam suatu keadaan, tetapi ketika situasinya datang, kita kembali melakukannya.
Seolah-olah ada sesuatu di dalam diri yang sudah berjalan lebih dahulu sebelum kita sempat mempertimbangkannya. Namun, apakah kemunculan suatu dorongan berarti kita harus selalu mengikutinya?
Saya Mulai Melihat Pola Saya
Ketika sebuah pola mulai terlihat, biasanya kita tidak langsung berubah. Justru, untuk pertama kalinya kita mungkin menyadari, “Oh, ternyata saya memang seperti ini.”
Misalnya, setiap kali merasa tidak nyaman, kita cenderung menghindar. Ketika merasa terancam, kita menjadi defensif. Ketika menyukai sesuatu, kita ingin segera mendapatkannya dan mempertahankannya. Kesadaran seperti ini sebenarnya sudah merupakan langkah penting. Sebab sesuatu yang sebelumnya berlangsung begitu saja kini mulai dapat kita “lihat”. Tetapi melihat suatu “pola” pikiran dan perasaan belum tentu membuat pola itu langsung hilang. Belum tentu.
Kadang kita masih mengulanginya. Bedanya, sekarang kita mulai mengenalinya sebagai sebuah kecenderungan.
Dan dari sinilah sebuah pertanyaan berikutnya dapat muncul: apakah setiap kecenderungan yang muncul harus selalu menjadi tindakan kita?
Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)
Tidak Semua Kebiasaan Cocok di Semua Situasi
Kita dapat melihat hal sederhana dari kehidupan sehari-hari. Ketika masih kecil, misalnya, seorang anak mungkin makan dengan sangat bebas. Ketika makan sendirian atau bersama keluarga, makanan bisa mengenai wajah atau pakaian. Tidak terlalu dipikirkan. Yang penting makan dan menikmati makanan.
Seiring bertambah usia, keadaan berubah. Ketika berada di tempat umum, menghadiri jamuan, atau makan bersama orang yang baru dikenal, cara makan yang sama mungkin tidak lagi sesuai. Kita mulai memperhatikan keadaan sekitar. Kita menjaga sikap, menggunakan alat makan dengan lebih baik, dan menyesuaikan diri.
Menariknya, kebiasaan lama tidak harus langsung hilang dari dalam diri. Mungkin masih ada ingatan tentang kebiasaan itu. Mungkin dalam keadaan tertentu dorongan lama masih muncul. Tetapi kita tidak harus selalu melakukannya.
Di sini kita mulai melihat sesuatu yang penting: cara yang tepat dalam satu keadaan belum tentu tepat dalam keadaan lain. Begitu pula dengan kecenderungan dalam pikiran dan perasaan.
Seseorang yang terbiasa bergerak cepat mungkin membutuhkan kecepatan dalam satu keadaan, tetapi perlu berhenti dan mempertimbangkan lebih dahulu dalam keadaan lain. Seseorang yang terbiasa tegas mungkin membutuhkan ketegasan dalam satu situasi, tetapi kelembutan pada situasi yang berbeda.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah kecenderungan baik atau buruk. Yang lebih penting adalah apakah kita dapat melihat kapan kecenderungan itu sesuai dan kapan kita perlu merespon dengan cara yang berbeda.

Baca juga: Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh (Bagian 2)
Dorongan Muncul, Tetapi Kita Bisa Berhenti Sejenak
Di sinilah pengalaman sehari-hari mulai memperlihatkan adanya sebuah ruang. Dorongan bisa muncul. Tetapi tindakan kita belum tentu langsung terjadi. Kita mungkin merasa ingin membalas perkataan seseorang. Namun, sebelum menjawab, kita berhenti sejenak. Kita melihat siapa yang sedang kita hadapi, bagaimana keadaan saat itu, dan apa akibat dari respon yang akan kita berikan. Ada ruang di antara dorongan dan tindakan.
Di ruang kecil itulah kita mulai memiliki kemungkinan untuk memilih. Alurnya sederhana: Dorongan muncul → kita menyadarinya → melihat situasi → mempertimbangkan → memilih respon → bertindak.
Kesadaran seperti ini bukan berarti kita harus menekan pikiran atau perasaan yang muncul. Pikiran boleh muncul. Perasaan boleh muncul. Dorongan boleh muncul. Kebiasaan lama boleh muncul. Tetapi kemunculannya tidak otomatis menentukan tindakan kita.
Dan ketika kita mulai mengalami hal ini dalam kehidupan sehari-hari, mungkin muncul kesadaran yang lebih dalam: Saya memiliki kecenderungan, tetapi saya bukan kecenderungan itu.
Ketika Kita Mulai Merenung
Sering kali pengalaman seperti itu membawa kita kepada kegiatan yang sangat manusiawi: merenung. Setelah berbicara terlalu keras kepada seseorang, misalnya, kita mungkin terdiam dan berpikir, “Mengapa tadi saya bicara seperti itu?”
Setelah mengambil keputusan terlalu cepat, kita bertanya, “Mengapa saya tidak mempertimbangkannya lebih dahulu?”
Atau setelah kembali melakukan kebiasaan yang sebenarnya sudah kita kenali, kita mungkin bertanya, “Mengapa saya selalu kembali ke pola yang sama?”
Merenung membuat perhatian kita berbalik. Sebelumnya kita sibuk melihat apa yang terjadi di luar. Sekarang kita mulai melihat apa yang berlangsung di dalam diri. Pada tahap ini kita belum tentu mendapatkan jawabannya.
Dan tidak apa-apa. Sebab mungkin yang sedang tumbuh bukan jawaban, melainkan kemampuan untuk melihat. Dari melihat, kita mulai bertanya. Dari bertanya, kita mulai memahami.
Dari Merenung Menuju Kontemplasi
Jika merenung membuat kita melihat kembali sebuah kejadian, kontemplasi dapat membawa kita sedikit lebih dalam. Bukan hanya, “Mengapa tadi saya marah?”
Tetapi mungkin menjadi: “Apakah saya memang selalu perlu bereaksi seperti itu?”
“Atau selama ini saya hanya terbiasa melakukannya?”
“Apakah cara saya melihat keadaan ini selalu benar?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mulai mengubah hubungan kita dengan pola yang selama ini kita anggap sebagai bagian dari diri kita. Dan kita tidak lagi hanya berkata, “Saya memang orangnya seperti ini.” Tidak.
Tapi, kita mulai melihat kemungkinan lain: “Benarkah saya harus selalu seperti ini?”
Perbedaannya tampak kecil, tetapi sebenarnya cukup besar. Sebab ketika kita berhenti menganggap pola sebagai sesuatu yang mutlak, mulai terbuka ruang untuk melihat bahwa pola tersebut mungkin dapat ditanggapi secara berbeda.
Baca juga: Cara Kerja Pikiran dan Perasaan: Belajar dari Polanya (Bagian 3)
Menyadari Ada yang Bisa Dipilih
Dari sini kita mulai memahami bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hilangnya sebuah kebiasaan. Kadang perubahan dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: kita tidak lagi membiarkan kebiasaan lama menentukan tindakan secara otomatis.
Dulu dorongan muncul dan kita langsung mengikutinya. Sekarang dorongan yang sama mungkin masih muncul, tetapi kita menyadarinya. Kita melihat keadaan. Kita mempertimbangkan. Kemudian kita memilih. Inilah salah satu makna penting ketika kita berbicara tentang mengubah Pikiran.
Bukan memaksa pikiran agar tidak pernah memiliki kecenderungan tertentu. Bukan pula melawan setiap perasaan yang dianggap tidak menyenangkan. Melainkan mulai memiliki hubungan yang lebih sadar dengan apa yang muncul di dalam diri.
Dengan demikian, perubahan pertama mungkin bukan perubahan pada apa yang muncul. Tapi, perubahan pertama yang bisa terjadi pada cara kita merespon apa yang muncul.
Lalu, Bisakah Pola Itu Diubah?
Pertanyaan berikutnya akan lebih menarik. Kalau kita dapat belajar tidak selalu mengikuti pola lama, apakah pada suatu saat pola itu sendiri juga dapat berubah? Misalnya, seseorang yang terbiasa langsung marah mulai belajar berhenti sebelum bereaksi. Pada awalnya, kemarahan tetap muncul. Dorongan untuk membalas masih ada. Tetapi semakin sering ia menyadari dorongan itu dan memilih respon yang berbeda, maka pengalaman baru mulai terbentuk. Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak memahami perubahan secara terlalu sederhana.
Mengubah Pikiran bukan berarti mengganti semua pikiran yang dianggap negatif menjadi positif. Mengubah perasaan, mengubah pikiran juga bukan berarti memaksa diri untuk selalu tenang, bahagia, atau nyaman. Pikiran dan perasaan memiliki dinamika sendiri – pola dan cara kerja sendiri yang dipengaruhi oleh sifat-sifat pikiran dan perasaan.
Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana menyadari apa yang muncul, memahami kecenderungannya, dan tidak selalu membiarkannya berjalan secara otomatis.
Mengubah Bukan Berarti Menghapus
Mungkin kita pernah mengira bahwa seseorang yang sudah berubah seharusnya tidak lagi memiliki kebiasaan lama. Padahal, perubahan tidak selalu seperti itu. Sebuah kecenderungan lama mungkin masih sesekali muncul, ia masih tetap tersimpan di dalam diri
Perasaan tertentu mungkin masih datang. Pikiran lama mungkin masih terlintas. Tetapi hubungan kita dengannya dapat berubah. Dulu kita langsung percaya. Sekarang kita dapat mengamatinya.
Dulu kita langsung mengikuti. Sekarang kita dapat berhenti sejenak. Dulu kita menganggapnya sebagai “saya”.
Sekarang kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang sedang berlangsung di dalam diri. Dengan demikian, perubahan tidak harus selalu dimulai dengan menghapus sesuatu yang lama. Kadang perubahan dimulai ketika kita menyadari bahwa yang lama tidak lagi harus menentukan apa yang kita lakukan.
Ketika Kita Ingin Melihat Lebih Dalam
Setelah mengalami proses seperti ini, mungkin kita mulai menyadari bahwa melihat pola sesekali belum tentu cukup. Kita ingin memahami diri dengan lebih tenang. Kita ingin melihat apa yang muncul tanpa buru-buru menilai.
Kita ingin mengetahui mengapa pola tertentu begitu kuat, mengapa ia berulang, dan bagaimana kita selama ini berhubungan dengannya. Dan tindakan merenung dapat membuka pintu ke arah itu. Kemudian, kontemplasi dapat membawa kita lebih dalam.
Dan dari sini, sebagian orang mulai mengenal meditasi sebagai sebuah ruang untuk melihat ke dalam dengan lebih sadar, lebih dalam. Bukan karena meditasi merupakan jalan pintas untuk menghapus semua pikiran dan perasaan. Bukan.
Bukan pula karena setelah bermeditasi semua persoalan hidup otomatis selesai. Namun, meditasi dapat menjadi ruang untuk belajar mengamati dengan lebih tenang, memberi jarak dari arus pikiran dan perasaan, dan mengenali apa yang berlangsung di dalam diri tanpa harus selalu terbawa olehnya.

Meditasi dan Kemungkinan Perubahan
Ketika kita mulai dapat mengamati, sesuatu yang sebelumnya terasa sangat dekat dengan diri kita dapat mulai terlihat dengan jarak yang berbeda. Pikiran tetap muncul. Perasaan tetap bergerak. (Baca juga: Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), karya Maharishi Anand Krishna.)
Namun kita belajar tidak selalu terseret oleh keduanya. Dari pengamatan yang lebih jernih, kita mulai dapat memahami bahwa pola bukan sesuatu yang harus dibenci. Akan tetapi, pola adalah sesuatu yang dapat dikenali.
Dan sesuatu yang dapat dikenali dapat kita pelajari. Sesuatu yang tidak dikenali tidak pula dapat diubah. Dari sinilah kemungkinan perubahan menjadi lebih terbuka. Bukan perubahan yang dipaksakan. Bukan pula perubahan karena kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita harus menjadi orang lain. Tetapi perubahan yang tumbuh itu dari pengamatan, pemahaman, dan kesadaran.
Perubahan yang Kita Rancang dengan Sadar
Pada akhirnya, pertanyaan Mengubah Pikiran mungkin tidak perlu dijawab dengan “ya” atau “tidak” secara tergesa-gesa. Sebab mungkin perubahan berlangsung bertahap. Pertama, kita menyadari dorongan.
Kemudian kita tidak langsung mengikutinya. Kita melihat keadaan. Kita mempertimbangkan. Kita memilih respon. Dengan pengalaman yang terus berulang, hubungan kita dengan pola lama dapat berubah.
Dan dari sana, mungkin pola itu sendiri pun dapat mengalami perubahan. Jadi, mungkin yang pertama-tama perlu kita ubah bukanlah seluruh isi pikiran dan perasaan kita. Mungkin yang perlu kita pelajari adalah bagaimana kita berhubungan dengan apa yang muncul di dalam diri.
Pikiran boleh muncul. Perasaan boleh muncul. Kebiasaan lama boleh masih ada. Tetapi kita tidak harus selalu menjadikannya sebagai ucapan dan tindakan. Karena pada akhirnya, melihat pola Mind membuka kemungkinan untuk tidak selalu mengikutinya.
Dan ketika kita mulai memiliki ruang untuk memilih, mungkin akan muncul satu pertanyaan yang lebih jauh: Jika pola lama tidak lagi selalu menentukan tindakan kita, mungkinkah pola itu sendiri benar-benar berubah? Ya, pertanyaan seperti inilah yang layak kita bawa ke langkah berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah mengubah pikiran berarti harus selalu berpikir positif?
Tidak. Mengubah pikiran bukan berarti memaksa diri mengganti setiap isi pikiran dan perasaan yang dianggap negatif dengan yang positif. Pikiran dan perasaan dapat muncul secara alami. Yang dapat mulai kita pelajari adalah menyadari kemunculannya, dan tidak otomatis mengikuti setiap dorongan yang muncul.
2. Kalau kebiasaan lama masih muncul, apakah berarti saya belum berubah?
Belum tentu. Perubahan tidak selalu berarti kebiasaan lama langsung hilang. Sebuah kecenderungan mungkin masih muncul, tetapi kita mulai memiliki pilihan dalam meresponnya. Dulu dorongan langsung menjadi tindakan; sekarang ada kesadaran, jeda, pertimbangan, dan pilihan. Perubahan hubungan kita dengan pola lama dapat menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri.
3. Dapatkah pola pikiran dan perasaan benar-benar berubah?
Pertanyaan ini dapat membawa kita ke pembahasan yang lebih dalam. Kita dapat mulai mengubah cara merespon pola yang muncul, dan melalui pengamatan serta kesadaran yang terus berkembang, hubungan kita dengan pola tersebut dapat berubah.
Apakah pola itu sendiri kemudian dapat mengalami transformasi yang lebih mendalam? Pertanyaan semacam ini masih dapat kita telusuri lebih lanjut lagi.
(Tim redaksi – OE)
Artikel Relevan:
- Selalu Mengkhawatirkan Masa Depan? Pahami Cara Kerja Pikiran
- Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
- Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
- Pikiran Negatif Sulit Dihilangkan? Kenali Polanya, Bukan Memusuhinya
- Anand Krishna dari Solo: Memahami Diri, Menemukan Inner Peace, Mewujudkan Global Harmony
- Mengapa Membersihkan Pikiran Penting dalam Praktik Meditasi?
- Meditasi: Napak Tilas ke Dalam Diri — Apa yang Kita Temukan?
