Skip to content
Memahami Sifat Pikiran

Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan (Mind): Berkenalan Lebih Jauh

Sering mengalami pikiran dan perasaan tidak selaras? Perasaan suka berubah-ubah? Pikiran Mudah Gelisah? Untuk mengetahui sebabnya, mari kita mencoba Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan itu seperti apa. Dan bagaimana jika selama ini kita justru mengabaikannya?

(Bagian 2)

 

PERNAHKAH ANDA BERPIKIR untuk berusaha memahami sifat pikiran dan perasaan itu seperti apa? Lalu, adakah manfaat melakukannya? Pada artikel sebelumnya, kita sudah mulai berkenalan dengan pikiran dan perasaan—sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali luput dari perhatikan.

Ya, setiap hari kita berpikir. Setiap hari kita merasakan sesuatu. Kita menyukai sesuatu. Atau tidak menyukai sesuatu. Kita merasa nyaman dengan sesuatu, tetapi tidak nyaman dengan hal yang lain. Kita bersemangat pada satu keadaan, namun ingin menghindari keadaan yang berbeda. Semua itu dapat berlangsung dalam kehidupan kita hampir setiap hari.

Namun, pernahkah kita memperhatikan bagaimana kita bergerak ketika pikiran dan perasaan itu muncul? Ketika menyukai sesuatu, mengapa kita dapat begitu bersemangat untuk mendapatkannya? Ketika tidak menyukai sesuatu, mengapa kita ingin menjauh, menolak, atau bahkan melawannya?

Mengapa sesuatu yang membuat kita nyaman terkadang membuat kita ingin berhenti bergerak? Dan mengapa pada saat tertentu kita dapat begitu aktif sekali, sementara pada saat yang lain justru ingin diam dan tidak melakukan apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membawa kita sedikit lebih jauh lagi.

Kita tidak lagi hanya melihat apa yang kita pikirkan dan rasakan, tetapi mulai memperhatikan kecenderungan yang muncul bersama pikiran dan perasaan tersebut. Seperti, ada dorongan untuk mendekat. Ada dorongan untuk menjauh. Ada keinginan untuk mendapatkan. Ada keinginan untuk mempertahankan. Ada dorongan untuk bergerak. Ada pula kecenderungan untuk berhenti.

Kadang-kadang berbagai kecenderungan itu saling mendukung. Kadang justru saling bertentangan. Dan semuanya dapat muncul silih berganti. Dan inilah yang kita kenali sebagai sifat-sifat Mind – pikiran dan perasaan. Bukan sebagai daftar sifat yang kaku. Bukan pula sebagai label tentang siapa diri kita. Melainkan sebagai kecenderungan-kecenderungan yang dapat muncul dalam pengalaman kita sehari-hari.

Mungkin selama ini kita berkata: “Saya memang seperti ini.”

Kali ini, kita mencoba melihat sedikit lebih dekat: “Apa yang sedang terjadi dalam diri saya?” Di sinilah Memahami Sifat Pikiran mulai menjadi pengalaman, bukan sekadar pengetahuan. Kita pun tidak perlu mencari jawaban yang jauh.

Mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat sederhana: apa yang terjadi ketika kita menyukai sesuatu?

 

Baca juga: Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini (Bagian 1)

 

Ketika Kita Menyukai Sesuatu

Coba kita perhatikan apa yang terjadi ketika kita menyukai sesuatu. Ketika menyukai sebuah makanan, kita ingin menikmatinya lagi. Ketika menyukai sebuah tempat, kita ingin kembali ke sana. Ketika menyukai seseorang, kita ingin lebih dekat, ingin bertemu, dan ingin mempertahankan hubungan itu.

Begitu pula ketika kita menyukai pekerjaan, kegiatan, atau sesuatu yang kita inginkan. Kita mengejar apa yang kita sukai. Semakin kuat rasa suka, sering kali semakin kuat pula dorongan untuk mendapatkannya. Kita dapat bergerak lebih cepat, lebih aktif, lebih dinamis. Bahkan kadang-kadang kita dapat menjadi sangat agresif dalam mengejar apa yang kita inginkan. Sampai akhirnya kita mendapatkannya.

Namun, ternyata cerita belum tentu selesai. Setelah mendapatkan sesuatu yang kita sukai, malah bisa muncul keinginan untuk mempertahankannya. Kalau bisa, kita ingin lebih banyak lagi. Yang semula terasa cukup, mungkin lama-lama terasa belum cukup.

Di sini kita mulai melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: rasa suka dapat terus bergerak. Kita suka → kita mengejar → kita mendapatkan → kita mempertahankan → lalu kita menginginkan lebih banyak lagi.

Sebuah pengalaman juga dapat meninggalkan kesan. Apa yang pernah membuat kita senang dapat membuat kita ingin mengulanginya. Sebaliknya, pengalaman yang tidak menyenangkan dapat meninggalkan rasa tidak suka dan membuat kita ingin menjauh ketika bertemu sesuatu yang mengingatkannya.

Karena itu, ketika mulai memahami Sifat Pikiran dan Perasaan, kita tidak hanya melihat apa yang kita sukai atau tidak sukai. Kita juga mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam diri kita ketika rasa suka atau tidak suka itu muncul.

Apakah kita menjadi lebih cepat bergerak? Apakah kita menjadi sangat bersemangat? Apakah kita ingin segera mendapatkannya? Dan setelah mendapatkannya, apakah kita menjadi tenang, nyaman, atau justru mulai kehilangan dorongan untuk bergerak?

Tidak perlu buru-buru menjawabnya. Cukup kita perhatikan kehidupan kita sendiri. Sebab sifat-sifat pikiran dan perasaan bukanlah sesuatu yang jauh dari kita. Ia selalu hadir dalam cara kita mengejar, mempertahankan, menikmati, menghindari, bahkan dalam saat-saat ketika kita merasa sudah cukup nyaman untuk tidak melakukan apa-apa.

 

Baca juga: Apa Itu Meditasi? Gaya Hidup Bijak Agar Tetap Waras

 

Setelah Mendapatkan, Apa yang Terjadi?

Menariknya, sifat Mind tidak selalu berhenti ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebelum mendapatkannya, kita bisa begitu bersemangat. Kita mencari. Kita mengejar. Kita bergerak cepat. Kita mengatur waktu dan tenaga agar apa yang kita inginkan tercapai.

Ada dorongan kuat yang muncul: “Saya harus mendapatkannya.”

Ketika akhirnya berhasil, kita merasa lega. Senang. Puas. Lalu perlahan muncul rasa nyaman. Apa yang sebelumnya kita kejar dengan penuh semangat kini sudah berada di tangan kita. Kita tidak perlu lagi berlari mengejarnya. Kita dapat duduk lebih tenang dan menikmatinya.

Namun, rasa nyaman dapat bergerak ke arah yang berbeda. Ketika terlalu nyaman, kita mungkin tidak lagi memiliki dorongan yang sama untuk bergerak. Yang semula aktif menjadi lebih tenang. Yang semula dinamis menjadi lebih santai. Dan bila berlangsung terus, rasa nyaman itu dapat membuat kita menjadi pasif atau malas.

Kita mungkin berkata: “Besok saja.”

“Nanti juga bisa.”

“Sekarang istirahat dulu.”

Tidak ada yang salah dengan beristirahat. Yang perlu kita lihat adalah perubahan kecenderungan di dalam diri kita. Mengapa ketika belum memiliki sesuatu kita begitu bersemangat mengejarnya, tetapi setelah memilikinya kita dapat kehilangan semangat untuk merawat atau mengembangkannya?

Mengapa sesuatu yang dahulu begitu kita inginkan, setelah menjadi milik kita, justru terasa biasa? Dan mengapa setelah merasa nyaman, kita kadang ingin mendapatkan kenyamanan yang lebih besar lagi? Pada titik ini, kita mulai melihat bahwa rasa suka tidak selalu berhenti pada “saya suka.”

Ia pun dapat berkembang menjadi keinginan untuk mendapatkan, mempertahankan, menikmati, lalu mencari pengalaman serupa kembali. Pelan-pelan kita melihat bahwa sifat-sifat Mind hadir dalam cara kita mengejar, menikmati, mempertahankan, menjadi tenang, aktif, dinamis, atau justru pasif.

Semua itu dapat muncul silih berganti. Mungkin inilah yang perlu kita kenali terlebih dahulu: bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan agar kita semakin jujur melihat apa yang sedang terjadi dalam diri kita.

Sebab, ketika Memahami Sifat Pikiran mulai berangkat dari pengalaman nyata, kita tidak lagi hanya berkata: “Saya memang seperti ini.”

Tetapi, kemudian kita mulai bisa bertanya: “Apa yang sedang terjadi dalam diri saya?”

 

Memahami Sifat Pikiran
Ketika mulai Memahami Sifat Pikiran dan Perasaan, kita tidak hanya melihat apa yang kita sukai atau tidak sukai. Kita juga mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam diri kita ketika rasa suka atau tidak suka itu muncul.

 

Ketika Kita Tidak Menyukai Sesuatu

Kalau rasa suka dapat membuat kita mendekat, mengejar, dan mempertahankan, bagaimana dengan rasa tidak suka? Coba kita perhatikan pengalaman kita sendiri. Ketika bertemu sesuatu yang tidak kita sukai, biasanya ada dorongan untuk menjauh.

Kita mungkin berkata dalam hati: “Saya tidak suka ini.” Lalu kita menghindarinya.

Kalau harus menghadapinya, kita mungkin menggerutu. Kita bisa menolak. Kita bisa membantah. Kita bisa melawan. Bahkan, ketika rasa tidak sukanya sangat kuat, ia dapat berkembang menjadi kemarahan, kebencian, atau keinginan untuk membalas.

Tetapi tidak semua rasa tidak suka muncul dengan cara yang keras. Ada kalanya kita justru diam. Kita memilih tidak berhadapan. Tidak menjawab. Tidak ikut terlibat. Kita menjauh perlahan-lahan. Ada pula saat ketika kita sebenarnya tidak menyukai sesuatu, tetapi kita tidak melakukan apa-apa. Kita menundanya. Kita menghindarinya. Kita membiarkannya berlalu dengan harapan persoalan itu akan selesai sendiri.

Jadi, ketika tidak menyukai sesuatu, kita bisa saja menjadi agresif, tenang, atau pasif. Bayangkan seseorang yang tidak menyukai pekerjaannya. Orang pertama mungkin terus mengeluh. Orang kedua tetap tenang, tetapi menjaga jarak dan tidak ingin terlalu banyak terlibat.

Orang ketiga mungkin memilih menunda-nunda pekerjaan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak ingin berhadapan dengan pekerjaan tersebut. Objeknya sama. Rasa tidak sukanya mungkin sama.

Tetapi responnya berbeda. Di sinilah kita mulai melihat bahwa sifat Mind tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama. Rasa tidak suka dapat mendorong kita untuk melawan, membuat kita menjauh, atau membuat kita diam dan tidak bergerak.

Bahkan terhadap sesuatu yang sama, respon kita dapat berubah tergantung keadaan. Hari ini kita mungkin menolak dengan keras. Besok kita mungkin memilih diam. Di lain waktu, kita mungkin hanya menghindarinya. Karena itu, mengenali sifat pikiran dan perasaan bukan sekadar membuat daftar: “Suka begini.” “Tidak suka begitu.”

Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana rasa suka dan tidak suka itu menggerakkan kita. Apa yang kita lakukan ketika menyukai sesuatu? Apa yang kita lakukan ketika tidak menyukainya? Apakah kita langsung mengejar? Apakah kita langsung menolak? Apakah kita melawan? Apakah kita menjauh? Atau justru kita tidak melakukan apa-apa?

Kita mulai melihat bahwa di dalam diri kita terdapat berbagai kecenderungan yang dapat muncul bergantian. Rasa tidak suka tidak selalu menghasilkan kemarahan.

Rasa suka tidak selalu menghasilkan tindakan yang baik bagi kita. Kenyamanan tidak selalu membuat kita bertumbuh. Ketidaknyamanan tidak selalu merugikan kita. Maka, mungkin kita tidak perlu buru-buru memberi label baik atau buruk kepada apa yang muncul dalam Mind.

Kita cukup mengenalinya terlebih dahulu. “Oh, ketika saya tidak suka, ternyata saya bisa menjadi seperti ini.”

“Ketika saya suka, ternyata saya bisa bergerak seperti itu.”

Dan dari sini muncul pertanyaan: Kalau di dalam diri kita dapat muncul kecenderungan yang berbeda—bahkan berlawanan—apakah yang kita sebut positif dan negatif selalu berarti baik dan buruk? Mungkin tidak sesederhana itu.

 

Negatif Tidak Selalu Berarti Buruk

Kita sering mendengar nasihat untuk selalu berpikir positif. Ketika menghadapi persoalan, kita ingin melihat kemungkinan yang baik. Kita ingin memiliki harapan. Kita ingin percaya bahwa sesuatu masih dapat diperbaiki.

Namun, kalau kita memperhatikan kehidupan sehari-hari dengan lebih jujur, ternyata di dalam diri kita tidak hanya muncul pikiran positif. Pikiran negatif pun juga muncul. Dan mungkin memang demikian adanya. Apakah negatif berarti buruk? Belum tentu.

Negatif dan buruk adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita menyebut sebuah pikiran “negatif”, kita sedang mengenali arah atau kecenderungannya. Misalnya, pikiran yang melihat kekurangan, kemungkinan gagal, risiko, bahaya, atau sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sedangkan “buruk” sudah mengandung penilaian. Bayangkan kita sedang akan membuka sebuah usaha. Ada bagian dalam diri kita yang berkata: “Ini kesempatan. Coba saja.”

Tetapi hampir di saat bersamaan muncul pikiran lain: “Tunggu dulu. Bagaimana kalau rugi?”

Pikiran kedua melihat kemungkinan yang tidak menyenangkan. Tetapi apakah pikiran itu buruk? Belum tentu. Justru karena melihat kemungkinan rugi, kita mungkin memeriksa kembali rencana, menghitung modal, melihat kondisi pasar, memikirkan kemungkinan kegagalan, dan menyiapkan langkah cadangan. Sering pikiran yang melihat sisi negatif dapat membantu kita melihat sesuatu yang mungkin terlewat ketika kita terlalu bersemangat.

Sebaliknya, pikiran positif pun tidak otomatis selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Keyakinan bahwa usaha kita pasti berhasil dapat membuat kita berani bergerak. Tetapi kalau keyakinan itu membuat kita menutup mata terhadap risiko atau mengambil keputusan tanpa persiapan, akibatnya belum tentu baik.

Jadi: positif tidak otomatis baik, dan negatif tidak otomatis buruk. Pikiran positif dan negatif dapat saling melengkapi. Yang satu berkata: “Mari kita maju.”

Yang lain mengingatkan: “Perhatikan risikonya.”

Yang satu membuka kemungkinan. Yang lain memeriksa kemungkinan yang tidak kita inginkan. Kadang keduanya bekerja sama. Kadang keduanya bertentangan. Dan kadang pertentangan itu justru membuat kita berhenti sejenak, berpikir kembali, lalu menemukan cara yang lebih baik.

Maka, ketika kita mulai Memahami Sifat Pikiran, kita tidak perlu buru-buru membuang setiap pikiran negatif. Kita juga tidak perlu menerima setiap pikiran positif hanya karena terdengar menyenangkan.

Kita cukup mengenalinya. “Oh, ini kecenderungan yang sedang melihat sisi positif.”

“Ini kecenderungan yang sedang melihat sisi negatif.”

Sebab sebuah pikiran hanyalah salah satu kecenderungan yang sedang muncul dalam Mind – gugusan pikiran dan perasaan. Nilai baik atau buruknya tidak dapat ditentukan hanya dari label positif atau negatifnya. Pikiran yang mengingatkan kita akan bahaya dapat membuat kita lebih waspada.

Keraguan dapat membuat kita memeriksa kembali keputusan. Sebaliknya, keberanian dapat membantu kita maju, tetapi keberanian tanpa pertimbangan juga dapat membuat kita bertindak gegabah. Karena itu, mungkin yang lebih penting bukan bertanya: “Bagaimana saya menghilangkan pikiran negatif?” melainkan: “saya sedang mengalami pikiran seperti apa, dan bagaimana saya meresponnya?”

Kita mulai mengenali bahwa di dalam Mind dapat muncul berbagai kecenderungan: suka dan tidak suka, mendorong dan menahan, berani dan takut, yakin dan ragu, aktif dan pasif,
positif dan negatif. Tidak semuanya harus segera kita beri cap baik atau buruk.

Kita mengenalinya terlebih dahulu. Sebab semakin kita mengenali sifat-sifat tersebut, semakin mudah bagi kita untuk melihat bahwa apa yang muncul dalam diri kita belum tentu harus langsung dipercaya, ditolak, atau diikuti.

 

Mengapa Kita Tidak Selalu Menyukai Hal yang Sama?

Kecenderungan dasar Mind dapat kita alami bersama sebagai manusia, tetapi isi dari apa yang kita sukai, tidak sukai, takuti, atau inginkan bisa sangat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Hampir semua orang mengenal rasa suka dan tidak suka.

Namun, apakah yang kita sukai dan tidak sukai selalu sama dengan orang lain? Tentu tidak. Seorang anak mungkin sangat menyukai sayuran, sementara saudaranya justru menolaknya. Ada yang senang bepergian dan bertemu banyak orang, sementara yang lain lebih nyaman berada di tempat yang tenang.

Ada yang menikmati tantangan, sementara yang lain lebih memilih sesuatu yang sudah dikenalnya. Bagi seseorang, berbicara di depan banyak orang adalah pengalaman yang menyenangkan. Bagi orang lain, keadaan yang sama justru membuatnya ingin menghindar.

Kalau begitu, apakah salah satu pasti benar dan yang lainnya salah? Tidak harus demikian. Kita dapat memiliki kecenderungan yang sama sebagai manusia, tetapi tidak selalu memiliki isi kecenderungan yang sama.

Kita sama-sama dapat merasakan suka, tetapi apa yang membuat kita suka dapat berbeda. Kita sama-sama dapat merasakan takut, tetapi apa yang kita takuti dapat berbeda. Kita sama-sama dapat merasa nyaman, tetapi keadaan yang membuat kita nyaman dapat berbeda.

Bahkan pada diri kita sendiri, kecenderungan itu tidak selalu tetap. Apa yang kita sukai ketika kecil belum tentu tetap kita sukai ketika dewasa. Sesuatu yang dahulu kita takuti mungkin suatu hari terasa biasa. Sebaliknya, sesuatu yang dahulu tidak menarik perhatian kita dapat menjadi penting setelah kita mengalami sesuatu yang baru.

Perbedaan ini membuat perjalanan setiap orang menjadi unik. Dan ketika kita mulai melihatnya, kita mungkin tidak lagi terlalu cepat berkata: “Kalau saya merasa seperti ini, orang lain seharusnya juga begitu.”

Akan tetapi ada kemungkinan lain, yakni kita mulai memberi ruang bagi pengalaman orang lain. Sekaligus memberi ruang bagi diri sendiri untuk berubah. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: Kalau kecenderungan setiap orang dapat berbeda, dari mana semua kecenderungan itu terbentuk?

 

Dari Mana Kecenderungan Itu Terbentuk?

Tentu tidak ada satu jawaban untuk semuanya. Kita tumbuh melalui pengalaman. Sejak kecil, kita berhadapan dengan keluarga, sekolah, teman, lingkungan, kebiasaan, budaya, dan berbagai peristiwa dalam kehidupan.

Semua itu memberi warna pada perjalanan kita. Pengalaman meninggalkan kesan. Kesan dapat ikut membentuk kecenderungan. Dan kecenderungan yang sering muncul dapat semakin kuat ketika terus kita alami dan ulangi. Seseorang yang sejak kecil sering didorong untuk mencoba hal-hal baru mungkin menjadi lebih terbiasa menghadapi tantangan.

Sebaliknya, seseorang yang pernah mengalami sesuatu yang sangat tidak menyenangkan mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika menghadapi keadaan serupa. Bukan berarti pengalaman tersebut secara otomatis menentukan siapa diri kita. Namun, pengalaman dapat memberi warna. Keluarga dapat memberi warna. Pendidikan dapat memberi warna.

Lingkungan pergaulan dapat memberi warna. Tradisi dan kebiasaan juga dapat memberi warna. Lama-kelamaan, berbagai pengalaman itu dapat membuat kita memiliki pola suka, tidak suka, nyaman, tidak nyaman, berani, takut, aktif, atau menghindar yang terasa begitu alami.

Sampai suatu saat kita mungkin berkata: “Memang saya dari dulu seperti ini.”

Padahal, mungkin ada perjalanan panjang di belakang kecenderungan tersebut. Dan perjalanan itu belum selesai. Kita terus mengalami hal-hal baru. Kita bertemu orang baru. Kita memasuki lingkungan baru. Kita menghadapi keberhasilan dan kegagalan baru.

Dan semua itu dapat membawa kesan baru. Kesan baru dapat membuat kita melihat sesuatu secara berbeda. Sesuatu yang dahulu kita takuti mungkin tidak lagi terasa menakutkan. Sesuatu yang dahulu tidak kita sukai mungkin mulai dapat kita terima. Bahkan sesuatu yang dahulu sangat kita sukai dapat berubah ketika pengalaman kita berubah.

Karena itu, mengenali sifat Mind bukan berarti menemukan sebuah label permanen tentang siapa diri kita. Bukan: “Saya memang orang yang penakut.”

“Saya memang orang yang malas.”

“Saya memang orang yang agresif.”

Melainkan: “Dalam keadaan tertentu, kecenderungan seperti ini dapat muncul dalam diri saya.”

Perbedaan kecil dalam cara melihat ini cukup penting. Kita tidak lagi menganggap setiap kecenderungan sebagai identitas yang harus kita bawa selamanya. Kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang dapat muncul, menguat, melemah, bahkan berubah.

Dari sini kita mulai memiliki satu kesadaran sederhana: Mind yang kita alami hari ini membawa jejak perjalanan pengalaman kita. Namun: jejak bukan berarti penjara.

Pengalaman masa lalu dapat memberi pengaruh, tetapi pengalaman baru tetap dapat membuka kemungkinan baru. Dan ketika kita mulai menyadari semua kecenderungan itu, muncul pertanyaan yang lebih penting: Apakah setiap pikiran dan perasaan yang muncul dalam Mind harus langsung kita ikuti?

 

Memahami Sifat Pikiran
Ketika kita mulai Memahami Sifat Pikiran, kita tidak perlu buru-buru membuang setiap pikiran negatif. Kita juga tidak perlu menerima setiap pikiran positif hanya karena terdengar menyenangkan.

 

Ketika Kita Mulai Memiliki Jarak

Setelah mengenali berbagai kecenderungan Mind, mungkin ada satu hal yang mulai berubah dalam cara kita melihat diri sendiri. Kita mulai menyadari bahwa ketika rasa suka muncul, kita tidak selalu harus langsung mengejarnya.

Ketika rasa tidak suka muncul, kita tidak selalu harus langsung menolaknya. Ketika pikiran positif muncul, kita tidak harus langsung menganggapnya pasti benar. Ketika pikiran negatif muncul, kita juga tidak harus buru-buru membuangnya. Tetapi, kita dapat melihatnya terlebih dahulu.

“Oh, ada rasa suka yang sedang muncul.”

“Ada rasa tidak suka.”

“Ada keinginan untuk mengejar.”

“Ada dorongan untuk menghindar.”

“Ada pikiran yang optimis.”

“Ada pula pikiran yang mengingatkan kemungkinan buruk.”

Sesuatu yang sebelumnya terasa begitu menyatu dengan diri kita, perlahan mulai dapat kita lihat sebagai sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri. Di sinilah kita mulai memiliki jarak. Jarak bukan berarti menjauh dari diri sendiri.

Jarak juga bukan berarti menolak pikiran dan perasaan. Dengan sedikit jarak, kita dapat melihatnya lebih jernih. Ketika marah muncul, misalnya, kita tidak hanya menjadi kemarahan itu.

Kita mulai dapat menyadari: “Saya sedang marah.”

Ketika rasa takut muncul: “Saya sedang merasa takut.”

Ketika keinginan untuk mendapatkan sesuatu begitu kuat: “Ada dorongan kuat dalam diri saya untuk mendapatkan ini.”

Tentu, ada perbedaan antara: “Saya marah.” Dan “Saya sedang mengalami kemarahan.”

Yang pertama terasa seperti kemarahan adalah diri kita. Yang kedua mulai membuka ruang untuk melihat bahwa kemarahan sedang muncul dalam diri kita. Begitu pula dengan rasa suka, tidak suka, takut, nyaman, malas, agresif, tenang, atau berbagai kecenderungan lainnya.

Kita mulai mengenalinya. Bukan untuk melawannya. Bukan untuk membenarkannya. Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri. Cukup mengenalinya. Sebab ketika kita dapat mengenali sesuatu yang muncul dalam Mind, kita tidak harus langsung bergerak mengikuti dorongan tersebut.

Ada kemungkinan untuk berhenti sejenak. Melihat. Merasakan. Memahami bahwa sesuatu sedang terjadi. Kemudian baru menentukan bagaimana kita akan merespon. Kita mulai mengetahui bahwa: tidak setiap pikiran adalah perintah.

Tidak setiap perasaan harus menjadi tindakan. Tidak setiap keinginan harus segera dipenuhi. Tidak setiap ketidaksukaan harus berubah menjadi penolakan. Dan tidak setiap pikiran negatif harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk.

Artinya, sekarang kita mulai memiliki ruang untuk melihat terlebih dahulu. Di sinilah Manfaat Memahami Sifat Pikiran mulai terasa. Bukan karena kita sudah menguasai Mind. Bukan karena semua pikiran dan perasaan menjadi tenang. Melainkan karena kita mulai mengenali apa yang sedang muncul di dalam diri. Dan mungkin, dari sinilah hubungan kita dengan Mind perlahan berubah.

Dulu kita mungkin langsung berkata: “Saya berpikir demikian, maka saya harus melakukannya.”

Sekarang kita mulai dapat bertanya: “Pikiran apa yang sedang muncul?”

“Perasaan apa yang sedang saya alami?”

“Kecenderungan apa yang sedang bergerak?”

Lalu: “Bagaimana saya ingin meresponsnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita ke satu langkah berikutnya. Sebab setelah kita mengenali bahwa Mind memiliki berbagai kecenderungan, maka akan muncul rasa ingin tahu yang lebih dalam. Inilah Tujuan Memahami Sifat Pikiran: bukan untuk memberi label tetap kepada diri sendiri, melainkan untuk mulai melihat dengan lebih jernih apa yang berlangsung di dalam diri.

Dari sini dapat muncul pertanyaan yang lebih jauh: Bagaimana sebenarnya semua kecenderungan itu bekerja di dalam diri kita? Bagaimana rasa suka dapat mendorong kita mengejar? Bagaimana rasa tidak suka dapat membuat kita menghindar? Bagaimana pikiran dan perasaan dapat saling memengaruhi? Bagaimana pengalaman yang berulang dapat membentuk pola tertentu dalam kehidupan?

Dan bagaimana semua itu akhirnya memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, bertindak, memilih, dan menjalani kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan membawa kita pada perkenalan berikutnya.

Karena setelah belajar mengenali sifat Mind, kita dapat melangkah lebih jauh untuk memahami bagaimana Mind bekerja dan memengaruhi kehidupan kita. Dan mungkin, di situlah kita mulai memahami bahwa Apa Saja Sifat Pikiran bukan sekadar pertanyaan tentang daftar sifat, melainkan tentang apa yang benar-benar kita alami ketika menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah sifat pikiran dan perasaan setiap orang memang berbeda?

Pada dasarnya, kita semua mengalami kecenderungan seperti suka, tidak suka, nyaman, tidak nyaman, berani, takut, aktif, atau ingin menghindar. Namun, apa yang membuat kita suka, takut, atau nyaman dapat berbeda pada setiap orang.

Pengalaman, keluarga, pendidikan, lingkungan, kebiasaan, dan budaya dapat ikut memberi warna pada kecenderungan tersebut. Karena itu, sesuatu yang menyenangkan bagi seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Mengenali hal ini dapat membantu kita memahami diri sendiri sekaligus memberi ruang bagi pengalaman orang lain.

 

2. Apakah pikiran negatif selalu harus dihilangkan?

Tidak selalu. Pikiran negatif tidak otomatis berarti buruk. Ketika hendak memulai sesuatu, misalnya, pikiran positif dapat berkata, “Mari kita coba,” sementara pikiran negatif mengingatkan, “Bagaimana kalau gagal?”

Pikiran yang melihat risiko dapat membantu kita memeriksa kembali rencana dan menyiapkan kemungkinan yang tidak kita inginkan. Sebaliknya, pikiran positif pun tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik jika membuat kita mengabaikan risiko.

Karena itu, yang penting bukan sekadar menghilangkan pikiran negatif, melainkan mengenali apa yang sedang muncul dan melihat bagaimana kita meresponnya.

 

3. Kalau sudah mengenali sifat pikiran dan perasaan, apakah kita harus mengikuti setiap dorongan yang muncul?

Tidak. Mengenali bukan berarti harus mengikuti, tetapi juga bukan berarti harus melawan atau menolaknya. Ketika marah muncul, misalnya, kita dapat melihatnya bukan hanya sebagai “Saya marah,” tetapi sebagai “Saya sedang mengalami kemarahan.”

Perbedaan kecil ini dapat memberi ruang untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum bertindak. Hal yang sama berlaku ketika muncul rasa suka, takut, tidak suka, keinginan, keraguan, atau dorongan untuk menghindar. Kita mulai memahami bahwa tidak setiap pikiran adalah perintah dan tidak setiap perasaan harus langsung menjadi tindakan.

Dari ruang kecil inilah kita dapat melangkah lebih jauh: memahami bagaimana berbagai kecenderungan dalam Mind bekerja dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.

 

(Tim redaksi – OE)

 

Artikel Relevan:
Back To Top