Mungkin kita tidak harus menerima diri kita begitu saja. Bahwa apa yang terpikirkan dan terasakan…

Cara Mengendalikan Emosi: Mengapa Sering Salah Bicara dan Bertindak?
Pikiran dan perasaan dapat muncul di kepala tanpa kita pilih. Sehingga ada kemungkinan ucapan dan tindakan kita dapat dikendalikan oleh emosi negatif. Manfaat bila kita sudah mengetahui cara mengendalikan emosi adalah kita bisa menciptakan sebuah ruang antara perasaan, ucapan dan tindakan. Dengan adanya ruang itu, kita dapat mengenal diri, menghadirkan Buddhi, dan memberdaya diri.
SERINGKAH ANDA LUPA cara mengendalikan emosi negatif, sehingga Anda mengatakan sesuatu saat marah? Lalu, beberapa saat kemudian menyesal? Atau mengambil keputusan ketika sedang kecewa, takut, atau tersinggung, kemudian bertanya, “Mengapa tadi saya melakukan itu?”
Ketika emosi datang begitu kuat, semuanya seolah berlangsung otomatis, tidak terkendali. Marah muncul, kata-kata keluar. Tersinggung, kita membalas. Takut, kita menghindar. Kecewa, kita mengambil keputusan yang mungkin kemudian kita sesali.
Kita lalu berkata, “Saya sedang emosi,” seolah kemunculan emosi membuat kita kehilangan kendali.
Namun, kemunculan emosi negatif tidak berarti kita harus selalu mengikutinya. Justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.
Emosi Boleh Muncul, tetapi Tidak Harus Menjadi Tindakan
Amarah dapat muncul. Kecewa dapat muncul. Takut dapat muncul. Bahkan keinginan untuk membalas pun dapat muncul. Kemunculan semua itu tidak selalu kita yang pilih. Seseorang mengatakan sesuatu, lalu kita tersinggung. Kita melihat sesuatu, lalu muncul keinginan. Kita mengingat pengalaman tertentu, lalu perasaan lama kembali hadir. Semuanya dapat berlangsung dalam hitungan detik.
Tetapi ada satu hal penting yang perlu dibedakan: kemunculan sesuatu di dalam diri tidak sama dengan keputusan untuk bertindak.
Kita mungkin tidak dapat menentukan apakah rasa marah akan muncul. Namun, kita masih dapat belajar menentukan apakah kemarahan itu akan menjadi ucapan. Kita mungkin tidak dapat memilih munculnya rasa takut, tetapi kita masih dapat belajar menentukan apakah ketakutan itu harus menentukan tindakan kita.
Karena itu, Cara Mengendalikan Emosi perlu dipahami dan dipelajari secara berbeda. Mengendalikan emosi bukan berarti membuat emosi tidak pernah muncul. Bukan pula menekan atau memaksa perasaan agar segera hilang.
Yang lebih penting adalah belajar menciptakan ruang antara apa yang muncul dan apa yang akan kita lakukan terhadapnya. Untuk menciptakan ruang tersebut, kita perlu mengenali terlebih dahulu sumber berbagai dorongan yang muncul di dalam diri.
Baca juga: Tempat Pemulihan Stres Secara Holistik dan Alami
Apa yang Muncul di Dalam Mind Bukanlah Perintah Otomatis
Pada penjelasan artikel-artikel sebelumnya, kita telah mengenal Mind sebagai Gugusan Pikiran dan Perasaan yang memiliki dinamika. Di dalamnya terdapat pengalaman, ingatan, kesan, keinginan, ketakutan, kesukaan, ketidaksukaan, kemarahan, ambisi, dan berbagai dorongan lainnya yang dipengaruhi sifat dasar: suka-tidak suka; positif dan negatif. Dualitas sifat inilah yang selalu menciptakan dinamika mind.
Karena itu, Mind akan terus bergerak. Sebuah pengalaman hari ini dapat mengingatkan kita pada pengalaman lama. Sebuah kalimat dapat membangkitkan kemarahan. Apa yang kita lihat dapat memunculkan keinginan. Sesuatu yang tidak kita sukai dapat segera memunculkan penolakan. Semua ini adalah bagian dari dinamika Mind.
Namun, ada perbedaan penting antara menyadari apa yang muncul dan langsung mengikuti apa yang muncul. Ketika marah, kita dapat menyadari: “Saya sedang marah.” Tanpa harus langsung menyimpulkan: “Karena itu saya harus membalas.”
Ketika takut, kita dapat menyadari: “Saya sedang takut.” Tanpa harus segera memutuskan: “Karena itu saya harus menghindar.”
Perbedaan sikap sederhana ini dapat mengubah cara kita berhubungan dengan emosi. Apa yang muncul di dalam Mind dapat kita sadari tanpa harus selalu kita ikuti. Dari sini, perjalanan mengenal diri akan menjadi lebih menarik. Kita mulai melihat bahwa pikiran, perasaan, dan dorongan yang muncul bukanlah perintah yang wajib dilaksanakan.

Ada Ruang antara Dorongan dan Tindakan
Dalam kehidupan sehari-hari, prosesnya sering berlangsung begitu cepat: pikiran → perasaan → dorongan → reaksi. Karena berlangsung cepat, kita sering baru menyadarinya setelah ucapan keluar atau setelah tindakan dilakukan. Padahal, kita dapat belajar memperlambat rangkaian tersebut. Misalnya, seseorang mengatakan sesuatu yang membuat kita tersinggung. Sebelum menjawab, coba berhenti sejenak.
Tarik napas. Buang napas. Santai. Relaks. Rasakan apa yang sedang terjadi. Kita tidak sedang menyangkal kemarahan. Kita hanya tidak langsung memberinya kendali. Beberapa detik mungkin tampak sederhana, tetapi jeda tersebut dapat memberi kesempatan kepada kita untuk bertanya: “Apakah saya perlu menjawab sekarang?”
Pertanyaan ini mungkin akan mengubah seluruh respon kita. Kita tetap dapat berbicara, tetapi kata-katanya berbeda. Kita tetap dapat bertindak, tetapi tindakannya mungkin lebih tepat.
Di sinilah Cara Mengendalikan Pikiran dan Perasaan bukan terutama dengan memaksa keduanya berhenti. Tetapi, kita dapat belajar mengenali apa yang sedang terjadi, memperlambat respon, kemudian memberi kesempatan kepada kejernihan untuk bekerja.kKita bergerak dari: bereaksi → menyadari → melihat → mempertimbangkan → merespon. Di dalam ruang kecil antara dorongan dan tindakan inilah kemampuan memilih mulai tumbuh. Dari sinilah Cara Mengendalikan Emosi menjadi latihan kesadaran, bukan sekadar usaha menahan reaksi atau sugesti semata.
Baca juga: Mengapa Pikiran Sulit Dihentikan? Pahami Alasannya Dalam Diri
Mengapa Sulit Mengendalikan Emosi?
Kalau demikian, mengapa kita masih sering terseret? Mengapa kita tetap mudah terseret, bahkan ketika kita sudah tahu bahwa reaksi tertentu tidak baik? Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah muatan yang terdapat di dalam mind.
Pengalaman, kesan, ingatan, dan berbagai emosi yang belum selesai dapat membuat respon tertentu menjadi sangat kuat. Itulah sebabnya satu kalimat sederhana dari seseorang terkadang dapat memunculkan reaksi yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Masalahnya mungkin bukan hanya pada kalimat yang baru saja kita dengar. Melainkan kalimat itu bisa menyentuh sesuatu yang sudah lama tersimpan di dalam diri. Ketika muatannya masih kuat, maka respon kita pun dapat menjadi otomatis.
Karena itu, nasihat seperti: “Jangan marah.”
“Jangan berpikir negatif.”
“Berpikir positif saja.”
Kadang membantu untuk sementara, tetapi belum tentu menyentuh secara mendasar atas apa yang membuat kita begitu mudah terpicu. Dengan memahami hal ini, kita dapat melihat bahwa Cara Mengendalikan Emosi tidak cukup hanya dengan mengubah apa yang tampak di permukaan.
Tapi, ada sesuatu yang lebih penting untuk kita kenali lebih dalam, yakni adanya: muatan mind yang bisa membuat kita mudah terseret ke dalam bentuk ucapan dan tindakan yang tidak kita inginkan. Karena itu, kita membutuhkan cara untuk membersihkan muatan yang mengganggu itu.
Cleansing: Sebuah Cara untuk Mengurangi Muatan dan Menciptakan Ruang
Dalam pendekatan metode Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) – yang dirancang oleh Maharishi Anand Krishna, dikenal adanya proses cleansing atau katarsis mind yang sangat penting, dan sebaiknya tidak diabaikan. Cleansing tidak dimaksudkan untuk menghapus memori, menghilangkan seluruh pikiran, atau memaksa mind menjadi selalu positif. Tidak demikian.
Yang menjadi perhatian adalah mengurangi muatan dan beban mental-emosional negatif yang dapat membuat kita mudah terseret oleh apa yang muncul. Ketika muatan mulai berkurang, saat itulah kita dapat memiliki ruang yang lebih baik untuk mengamati pengalaman tanpa langsung dikuasainya.
Dalam praktik yang tepat dan terarah, proses cleansing akan menggunakan teknik pengaturan napas, gerakan tubuh, getaran suara, dan membudidaya peran suara yang dilakukan secara sadar dan sistematis yang sebaiknya didampingi oleh fasilitator berpengalaman.
Tujuannya bukan melampiaskan kemarahan kepada orang lain. Bukan pula membiarkan emosi menguasai diri. Melainkan memberikan ruang bagi proses pelepasan dan pengurangan beban mental-emosional itu, yang selama ini dapat membuat kita bereaksi secara otomatis.
Ketika muatan berkurang, sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mendesak dapat mulai kita lihat sebagai sebuah dorongan saja. Dan ketika dorongan itu tidak lagi terasa seperti perintah, pilihan lain yang lebih bijak menjadi lebih mungkin. Di sinilah Cara Mengontrol Emosi Saat Marah tidak lagi sekadar persoalan menahan diri atau autosugesti. Bukan. Melainkan kita sudah mulai membangun kemampuan untuk melihat sebelum bertindak.
Baca juga: Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
Setelah Ada Ruang, Buddhi Dapat Berperan
Lalu, siapa yang membantu kita menentukan? Dalam pemahaman metode Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) – Seni Memderdaya Diri, manusia dapat dikenali melalui lima lapisan diri: Fisik → Energi → Mind → Buddhi/Inteligensi → Spiritual.
Buddhi atau Inteligensi merupakan lapisan yang memungkinkan kita melihat dengan lebih luas, mendalam, dan jernih; membedakan, mempertimbangkan, serta melihat konsekuensi sebelum menentukan respon.
Mind mungkin berkata: “Balas!”
Buddhi dapat bertanya: “Apakah membalas sekarang merupakan pilihan yang tepat?”
Mind berkata: “Saya ingin mengatakan ini!”
Buddhi bertanya: “Apa akibatnya jika saya mengatakannya?”
Di sinilah Cara Berpikir Sebelum Bertindak memperoleh makna yang lebih dalam. Bukan overthinking. Bukan pula ragu tanpa akhir. Melainkan memberikan kesempatan kepada Inteligensi untuk melihat sebelum menentukan. Kemampuan ini membutuhkan latihan.
Semakin sering kita belajar, berlatih menciptakan jeda, mengamati, dan tidak langsung mengikuti dorongan, maka semakin terbuka kesempatan bagi Buddhi untuk berperan. Karena itu, Cara Mengendalikan Emosi juga berarti melatih kemampuan memilih secara sadar dengan cara mengakses peran Buddhi tersebut – yang jarang diketahui banyak orang.
Ucapan Juga Merupakan Bentuk Tindakan
Salah satu bentuk pilihan yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah ucapan. Kita sering menganggap ucapan hanya sebagai sesuatu yang keluar dari mulut. Padahal, satu kalimat dapat menenangkan seseorang. Kalimat yang sama dalam situasi berbeda dapat melukai atau memicu konflik.
Karena itu, ucapan juga merupakan tindakan. Ketika marah, mind mungkin berkata: “Katakan saja!”
Tetapi kita dapat berhenti dan bertanya: “Apakah ini perlu dikatakan?”
Jika memang perlu: “Apakah yang saya katakan benar?”
Kemudian: “Apakah cara saya menyampaikannya tepat?”
Ini bukan berarti kita harus selalu diam. Ada saatnya kita perlu berbicara. Ada saatnya kita perlu mengatakan tidak. Ada saatnya kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan. Namun, berbicara karena memang perlu berbeda dengan berbicara karena dorongan sesaat.
Kejernihan bukan berarti kehilangan keberanian untuk berbicara. Kejernihan berarti mampu memilih apa yang perlu dikatakan dan bagaimana mengatakannya.
Baca juga: Sulit Melupakan Masa Lalu? Bukan Ingatannya yang Harus Dihapus
Tindakan yang Tepat Tidak Selalu Menyenangkan
Hal yang sama berlaku dalam tindakan. Mind mudah bergerak berdasarkan pola: Suka → ambil. Tidak suka → tolak. Marah → lawan. Takut → hindari. Namun, apakah semua yang kita sukai selalu baik? Apakah semua yang tidak kita sukai harus dihindari? Tidak selalu.
Kadang kita perlu menahan diri. Kadang kita perlu meminta maaf. Kadang kita perlu mengatakan tidak. Kadang kita justru perlu menghadapi sesuatu yang ingin kita hindari. Karena itu, ada perbedaan antara: “Saya ingin melakukan ini.”
Dan “Saya memilih melakukan ini karena ini tepat.”
Di sinilah pemberdayaan diri menemukan bentuknya. Memberdaya diri bukan berarti mampu mendapatkan semua yang kita inginkan. Justru terkadang pemberdayaan diri berarti mampu memilih sesuatu yang tepat meskipun pilihan tersebut tidak menyenangkan bagi mind atau ego kita.

Setiap Ucapan dan Tindakan Membawa Konsekuensi
Apa yang kita katakan dan lakukan tidak berhenti pada saat itu juga. Kata-kata dapat tinggal dalam ingatan orang lain. Tindakan dapat mengubah keadaan. Keputusan hari ini dapat membawa kita menuju pengalaman berikutnya.
Karena itu, Cara Mengendalikan Diri agar Tidak Salah Bertindak bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita tetap dapat salah. Namun, kita dapat belajar melihat sebelum menentukan dan bertanggung jawab setelah menentukan.
Kita mungkin tidak dapat memilih semua yang muncul di dalam diri. Tetapi kita dapat belajar memilih: apa yang akan kita ucapkan, apa yang akan kita lakukan, dan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap akibatnya. Itulah bentuk Kendali Diri, Seni Memberdaya Diri yang lebih matang.
Pada titik ini, Cara Mengendalikan Emosi tidak lagi sekadar tentang menguasai perasaan, melainkan tentang menentukan respon dengan lebih sadar.
Lima Pertanyaan yang Sering Muncul
1. Mengapa saya sudah tahu bahwa marah itu tidak baik, tetapi tetap sulit menghentikannya?
Mengetahui bahwa marah tidak baik belum tentu langsung mengubah respon kita. Ketika suatu keadaan menyentuh pengalaman, kesan, atau muatan yang tersimpan di dalam mind, respon dapat muncul sangat cepat.
Karena itu, yang perlu dilatih bukan hanya mengatakan “Saya tidak boleh marah,” tetapi mengenali apa yang terjadi sebelum kemarahan berubah menjadi ucapan atau tindakan. Jeda itu penting.
2. Apakah emosi harus dilawan, ditekan, atau dibiarkan keluar?
Tidak harus memilih salah satunya. Menekan emosi tidak otomatis menyelesaikan muatan di dalam mind. Sebaliknya, melampiaskan emosi tanpa kesadaran juga dapat menimbulkan persoalan baru.
Pendekatan yang lebih konstruktif adalah belajar mengenali, mengamati, dan mengurangi muatan secara sadar, sehingga tercipta ruang untuk merespon dengan lebih jernih. Dalam Metode Meditasi Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), proses cleansing merupakan salah satu persyaratan penting yang digunakan untuk membantu proses tersebut secara sadar dan terarah.
3. Kalau pikiran dan perasaan muncul begitu saja, apakah kita masih bisa memilih?
Ya. Kita mungkin tidak memilih kemunculan rasa marah, takut, kecewa, atau ingatan tertentu. Tetapi kemunculan tersebut tidak otomatis menjadi keputusan. Kita masih dapat belajar menentukan apa yang akan kita lakukan terhadapnya.
Di sinilah Buddhi atau Inteligensi berperan: memberi kesempatan untuk membedakan, mempertimbangkan, dan memilih respon yang tepat. Kita tidak harus memilih apa yang muncul, tetapi kita dapat belajar memilih apa yang keluar dari diri kita.
4. Mengapa saya sering mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak saya inginkan?
Karena proses dari dorongan menuju tindakan sering berlangsung sangat cepat. Sesuatu muncul di dalam mind, menjadi perasaan atau dorongan, lalu segera diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan.
Ketika kita mulai mengenali proses tersebut dan menciptakan jeda, rantai otomatis itu dapat mulai berubah. Sekarang kita bisa bertanya: “Apakah ini benar-benar yang ingin saya katakan?”
Atau: “Apakah tindakan ini tepat?” Pertanyaan sederhana ini memberi kesempatan kepada kita untuk tidak langsung mengikuti dorongan.
5. Apakah mungkin kita tidak lagi dikuasai oleh emosi dan pikiran yang muncul?
Kita dapat belajar menuju ke sana. Namun, bukan berarti kita menjadi manusia tanpa pikiran dan perasaan. Mind tetap menjadi bagian dari diri kita. Pikiran, pengalaman, ingatan, keinginan, kesukaan, ketidaksukaan, dan emosi tetap dapat muncul.
Yang berubah adalah hubungan kita dengan semua itu. Kita tidak lagi harus memperlakukan setiap pikiran sebagai kebenaran, setiap perasaan sebagai perintah, atau setiap dorongan sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan. Kita dapat belajar mengenali mind, mengurangi muatannya, mengambil jarak, dan memberi kesempatan kepada Buddhi untuk membantu menentukan respon.
Dari Mengendalikan Emosi Menuju Memberdayakan Diri
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Cara Mengendalikan Emosi membawa kita lebih jauh daripada sekadar bagaimana agar tidak marah. Kita tidak sedang belajar menjadi manusia tanpa emosi.
Kita sedang belajar mengenali apa yang muncul, memahami mind, mengurangi muatannya, menciptakan jeda, lalu memberi ruang bagi kejernihan dan Buddhi untuk menentukan respon kita. Memberdaya diri bukan berarti mengalahkan mind. Bukan pula menghilangkan pikiran. Bukan juga menekan perasaan.
Dan bukan pula memusuhi pengalaman yang ada di dalam diri. Kita tetap memiliki mind dengan segala pengalaman, kesan, kesukaan, ketidaksukaan, keinginan, dan dorongannya. Namun, kita tidak lagi harus hidup sepenuhnya berdasarkan setiap dorongan tersebut.
Kita dapat mengenalinya. Kita dapat mengambil jarak. Kita dapat membersihkan muatannya. Kemudian memberikan kesempatan kepada Buddhi atau Inteligensi untuk melihat, membedakan, mempertimbangkan, dan menentukan. Dengan demikian, keberhasilan bukan: “Saya tidak pernah marah.”
Melainkan: “Ketika marah muncul, saya tidak harus menjadi marah itu.”
Bukan pula: “Saya tidak pernah memiliki pikiran yang tidak menyenangkan.”
Tetapi: “Saya tidak harus mengikuti setiap pikiran yang muncul.”
Dan akhirnya: “Saya dapat menentukan apa yang akan saya ucapkan dan lakukan.”
Inilah perjalanan dari mengenal diri menuju pemberdayaan diri. Kita mungkin tidak dapat memilih semua yang muncul di dalam diri. Tetapi kita dapat belajar menentukan respon kita. Dan mungkin, kebijaksanaan memang sering dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: satu tarikan napas, sebuah jeda, dan kesempatan untuk bertanya: “Apa yang tepat untuk saya lakukan sekarang?”
Karena di antara apa yang muncul di dalam diri dan apa yang keluar dari diri kita, masih ada sebuah ruang. Dan pada ruang itulah kita belajar mengenal diri, memilih dengan lebih sadar, dan memberdayakan diri.
(Tim redaksi – OE)
