Skip to content
Mengenali Pikiran dan Perasaan

Mengenali Pikiran dan Perasaan: sebagai Cermin Siapa Diri Kita Selama Ini

Mengenali pikiran dan perasaan atau Mind adalah langkah awal untuk memahami diri, yang juga sangat berkaitan erat dengan kesehatan kita secara holistik (Bagian 1)

 

PERNAHKAH ANDA BERTANYA, kapan saya mulai mengenali pikiran dan perasaan saya sendiri? Membayangkan sejak kecil, kita belajar banyak hal. Belajar berbicara, membaca, menulis, berhitung, mengenal lingkungan, bahkan belajar bagaimana bersikap kepada orang lain. Lalu, ketika tumbuh dewasa, kita belajar berbagai keterampilan di sekolah, kuliah, bekerja, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan. Semuanya terkait apa?

Ya, ada sesuatu yang selalu kita gunakan sejak kecil hingga hari ini, tetapi jarang benar-benar kita pelajari, yakni: pikiran dan perasaan kita itu sendiri. Padahal kita menggunakannya setiap hari, bahkan setiap saat.

Kita berpikir sebelum mengambil keputusan. Kita merasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Kita kecewa ketika harapan tidak terpenuhi. Kita marah ketika merasa diperlakukan tidak adil. Kita cemas ketika menghadapi sesuatu yang belum pasti. Semua itu begitu dekat dengan kita sehingga sering kali kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, semakin dekat sesuatu dengan kehidupan kita, semestinya semakin penting untuk mengenalnya, karena sangat memengaruhi hidup. Dan dari sinilah sebuah perjalanan untuk Mengenali Pikiran dan Perasaan dapat kita mulai.

 

Kita Hidup Bersama Pikiran dan Perasaan

Dalam pemahaman yang diperkenalkan oleh Maharishi Anand KrishnaPendiri One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre, Ciawi, Bogor – pikiran dan perasaan dapat dipahami sebagai satu kesatuan yang disebut Mind, atau Gugusan Pikiran dan Perasaan.

Bayangkan sebuah mata uang. Ia memiliki dua sisi, tetapi tetap merupakan satu keping yang sama. Demikian pula dengan pikiran dan perasaan – yang utuh dan satu. Keduanya dapat kita bedakan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari keduanya sering bekerja bersama, tumpang tindih dan bertentangan serta hubungan yang kompleks.

Sebuah pikiran dapat membangkitkan perasaan. Sebaliknya, sebuah perasaan juga dapat memengaruhi cara kita berpikir. Sebuah kalimat yang sebenarnya sederhana, misalnya, dapat membuat seseorang tersinggung. Mengapa?

Bukan semata-mata karena kalimat tersebut, melainkan karena ada sesuatu yang terjadi di dalam dirinya ketika mendengar, menangkap, dan memaknainya. Kemudian, peristiwa itu masuk melalui indra. Kita menangkapnya, menafsirkannya, lalu merasakannya. Dari sanalah dapat muncul reaksi dan respon kita. Di sinilah betapa pentingnya upaya Mengenali Pikiran dan Perasaan itu dan bukan sekadar mempelajari sebuah teori baru di antara teori-teori lainnya. Sekarang, kita sedang belajar memahami sesuatu yang setiap hari ikut membentuk pengalaman hidup kita.

 

Baca juga: Apa Itu Meditasi? Gaya Hidup Bijak Agar Tetap Waras

 

Ketika Pikiran dan Perasaan Ikut Mengarahkan Kehidupan

Bayangkan seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai kurang baik. Peristiwanya sederhana. Tetapi setelah melihat hasilnya, pikirannya bisa bergerak ke mana-mana.

“Bagaimana kalau saya gagal?”

“Jangan-jangan saya memang tidak mampu.”

“Teman-teman saya lebih pintar.”

“Saya tidak akan berhasil.”

Pikiran yang terus berulang dapat membangkitkan perasaan tertentu. Perasaan itu kemudian dapat memengaruhi cara kita melihat diri sendiri, bahkan memengaruhi semangat kita untuk menjalani hari-hari berikutnya.

Hal serupa pun dapat terjadi pada seorang remaja yang tiba-tiba lebih banyak diam, mudah tersinggung, kehilangan semangat, atau menarik diri dari keluarga. Orangtua kemudian bertanya: “Kenapa anak saya sekarang berbeda?”

Pertanyaan itu sangat wajar. Orangtua ingin membantu, tetapi tidak selalu mudah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri sang anak. Karena itu, ada pertanyaan lain yang mungkin perlu kita pelajari: “Apa yang sedang terjadi di dalam pikiran dan perasaan si anak?”

Pertanyaan sederhana ini akan membuka sebuah pintu yang berbeda. Kita tidak langsung menilai perilakunya, tetapi mulai mencoba memahami apa yang mungkin sedang berlangsung di dalam dirinya.

Di sinilah pikiran dan perasaan dapat menjadi semacam cermin. Bukan cermin yang menunjukkan keseluruhan diri kita, melainkan cermin yang memperlihatkan pola pengalaman, kesan, kecenderungan, dan cara kita merespon kehidupan.

 

Mengenali Pikiran dan Perasaan
Sejak lahir kita sudah bersama dengan Pikiran dan Perasaan. Ia pun memengaruhi kehidupan kita mulai dari cari berbicara, bertindak, bersikap dan memandang dunia. Karena itu, sangat penting sekali Mengenali Pikiran dan Perasaan tersebut lebih dalam dan akrab.

 

Ketika Masalah Mental-Emosional Mulai Terasa

Dalam kehidupan nyata, masalah mental-emosional dapat hadir dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin mengalami kecemasan yang terus berulang, kesedihan yang berkepanjangan, kemarahan yang sulit dipahami, ketakutan, tekanan, kehilangan semangat, atau perasaan tidak berdaya.

Ketika keadaan menjadi berat, tentu diperlukan bantuan yang tepat. Berkonsultasi dengan dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional lainnya yang merupakan langkah penting. Upaya memahami diri tidak perlu dipertentangkan dengan bantuan professional itu. Justru, di tengah proses ini, kita tetap dapat belajar memperhatikan apa sebenarnya yang sedang berlangsung di dalam diri kita – bagian ini yang sering terabaikan.

Bukan untuk menyalahkan diri. Bukan pula untuk menggantikan bantuan profesional. Melainkan agar kita semakin mengenal diri dan lebih sadar terhadap apa yang sedang kita alami. Bagi orangtua, pemahaman ini juga penting. Ketika anak sedang menghadapi masalah, orangtua tidak selalu langsung tahu apa yang harus dilakukan.

Anak menjadi diam. Marah. Tidak mau berbicara. Tidak bersemangat. Lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Ya, ada sesuatu yang sedang terjadi. Di balik semua itu mungkin ada gugusan pikiran dan perasaannya yang belum mampu ia ungkapkan.

Dengan belajar memperhatikan apa yang terjadi di dalam diri, baru setelah itu kita mulai dapat memahami bahwa sesuatu yang tampak sederhana sebagai perubahan perilaku, mungkin itu sebagai akibat dari kompleksitas pikiran dan perasaan kita.

 

Apakah Mengenal Mind Hanya untuk Para Ahli?

Tentu tidak. Dan kita tidak mesti menjadi seorang psikolog, dokter, atau ahli filsafat untuk mulai memperhatikan pikiran dan perasaan milik kita sendiri. Bukankah setiap orang memilikinya? Kita pun dapat memulainya dari hal-hal yang sangat sederhana, dengan memperhatikan diri sendiri.

Ketika marah, kita dapat bertanya: “Apa yang sebenarnya membuat saya marah?”

Ketika takut: “Apa yang sedang saya bayangkan?”

Ketika iri: “Mengapa keberhasilan orang lain membuat saya tidak nyaman?”

Ketika terus memikirkan seseorang: “Mengapa pikiran ini sulit berhenti?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi diri. Justru sebaliknya. Kita memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sejenak sebelum langsung terseret oleh apa yang sedang muncul.

Dari sini kita mulai memasuki pertanyaan dasar: Apa Itu Pikiran? Dan setelah itu: Apa Itu Perasaan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membawa kita secara perlahan menuju pemahaman yang lebih luas dan dalam tentang Mind – gugusan pikiran dan perasaan kita.

 

Mengenal Sebuah Cara Pandang

Berbagai tradisi telah mengembangkan cara untuk mengenali dan memahami diri. Salah satunya adalah Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE), yang diramu dan dikembangkan oleh Maharishi Anand Krishna dari pemahaman dan kekayaan peradaban Timur.

Dalam pendekatan ini, pikiran dan perasaan tidak hanya dibicarakan sebagai konsep. Kita justru diajak mengenal dan mengamatinya melalui pengalaman diri sendiri, pengalaman langsung – bukan berupa dogma, bukan pula doktrin. Dan tujuannya bukan sekadar membuat pikiran menjadi positif. Sebab dalam kehidupan nyata, pikiran tidak selalu positif. Perasaan pun tidak selalu nyaman.

Yang penting sekarang adalah kita dapat mulai mengenali apa yang sedang terjadi. Ketika kita mulai mengenali, kita tidak lagi sepenuhnya menjadi pihak yang hanya mengikuti setiap gerak, aliran dan kemunculan pikiran dan perasaan itu.

Di sinilah rasa ingin tahu: Apa Itu Mind, menjadi pertanyaan yang lebih bermakna. Kita tidak lagi hanya mencari definisi, tetapi mulai melihat bagaimana Mind hadir dalam pengalaman kita sendiri dan keseharian hidup.

 

Pikiran Memiliki Banyak Bentuk

Coba perhatikan kehidupan kita sehari-hari. Apa saja yang muncul di dalam diri? Ada ingatan tentang masa lalu. Ada kesan dari pengalaman yang pernah terjadi. Ada begitu banyak keinginan. Ada ketidaksukaan. Ada ambisi dan niat. Ada bayangan tentang masa depan. Ada fantasi dan imajinasi. Ada pula kemarahan, kejengkelan, kecemburuan, iri hati, kebencian, kekecewaan, keputusasaan, ketakutan, kekhawatiran, bahkan cinta.

Semua itu adalah bentuk-bentuk dari gugusan pikiran dan perasaan yang kita sebut Mind. Karena itu, ketika berbicara mengenai sifat pikiran dan perasaan, kita tidak hanya berbicara tentang rasa senang atau sedih. Keduanya memiliki banyak nuansa dan dapat berubah mengikuti pikiran, pengalaman, kesan, serta keadaan yang kita hadapi.

Dari mana semua itu datang? Dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dan alami semua itu menjadi masukan. Demikian juga dengan lingkungan, keluarga, pendidikan, pergaulan, pengalaman, bahkan berbagai kesan yang tersimpan dalam diri dapat ikut membentuk gerak Mind.

Karena itu, Mind terus muncul, bergerak, mengalir – dan lebih sering tidak dapat kita pilih dan kendalikan. Ia dapat tumbuh, berkembang, berubah, menguat, atau melemah mengikuti berbagai masukan yang diterimanya. Salah satu sifatnya adalah adanya kecenderungan suka dan tidak suka, juga berbagai kecenderungan positif dan negatif lainnya.

Ketika sesuatu kita sukai, kita cenderung mendekat. Ketika sesuatu tidak kita sukai, kita cenderung menjauh. Ya, sesederhana itu. Lalu, seberapa sering Anda mengalami dan merasakan semua ini? Atau memperhatikannya?

Namun, jika kita mulai mengamatinya dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan bahwa kecenderungan-kecenderungan tersebut telah ikut mewarnai banyak keputusan dalam kehidupan kita.

 

Mengenali Pikiran dan Perasaan
Apa arti dan tujuan dari upaya Mengenali Pikiran dan Perasaan? Bukankah setiap orang memiliki karakter pikiran dan perasaan yang berbeda? Alasannya adalah karena tindakan Mengenalai Pikiran dan Perasaan akan membantu kita tidak menjadi pengikut yang membabi buta terhadap setiap pikiran dan perasaan yang muncul.

 

Dari Mengikuti Menjadi Mengenali

Biasanya, ketika sesuatu muncul di dalam diri, kita langsung mengikutinya. Marah, kita bereaksi. Takut, kita menghindar. Tersinggung, kita membalas. Cemas, kita terus memikirkannya. Menginginkan sesuatu, kita mengejarnya. Namun, bagaimana jika untuk sesaat kita berhenti?

Bukan menekan pikiran. Bukan pula melawan perasaan. Kita hanya perlu mengamatinya.

“Ah, ternyata saya sedang marah.”

“Sekarang saya sedang takut.”

“Pikiran tentang hal itu terus muncul.”

“Ketika mendengar kata-kata tertentu, saya langsung merasa tersinggung.”

Pengamatan sederhana seperti ini dapat menjadi awal perubahan hubungan kita dengan Mind. Kita pun dapat mulai menyadari bahwa pikiran dan perasaan memang ada, tetapi kita juga dapat mengenalinya lebih akrab. Perjalanan ini dapat mengubah sesuatu yang sebelumnya otomatis menjadi lebih sadar.

Dan perlahan, cermin itu mulai memperlihatkan sesuatu kepada kita. Bukan untuk menghakimi siapa diri kita, melainkan untuk melihat pola-pola yang selama ini mungkin tidak kita sadari.

 

Ketika Cermin Mulai Berbicara

Cermin tidak menciptakan wajah yang kita lihat. Ia hanya memperlihatkannya. Demikian pula pikiran dan perasaan. Ketika kita mengamati apa yang berulang di dalam diri, kita mungkin mulai menemukan pola.

Mengapa kita selalu mudah tersinggung oleh hal tertentu? Mengapa keberhasilan orang lain terkadang membuat kita tidak nyaman? Mengapa kita terus mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi? Mengapa pengalaman tertentu begitu sulit dilupakan? Mengapa kita selalu tertarik pada sesuatu yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus segera dijawab.

Kadang-kadang, kemampuan untuk melihatnya saja sudah merupakan sebuah langkah penting. Dalam pengertian inilah kita dapat melihat Pikiran Cermin Siapa Kita—bukan sebagai pernyataan bahwa kita adalah semua pikiran yang muncul, melainkan sebagai pengingat bahwa pola pikiran dan perasaan dapat memperlihatkan banyak hal tentang pengalaman dan kecenderungan yang hidup di dalam diri.

Ketika kita mulai melihatnya, kita memperoleh kesempatan untuk mengenal diri dengan lebih jujur dan dalam.

 

Mengenal Diri, Merawat Kehidupan

Pemahaman ini juga akan membawa kita pada hubungan antara batin dan kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi di dalam diri dapat memengaruhi cara kita melihat dunia. Cara kita melihat dunia dapat memengaruhi respon kita. Respon yang kita pilih akan memengaruhi tindakan. Dan tindakan, sedikit demi sedikit, ikut membentuk kehidupan.

Karena itu, Pikiran dan Kesehatan tidak perlu dipahami hanya dari satu sisi. Kesehatan bukan semata-mata persoalan tubuh. Cara kita mengalami tekanan, mengelola respon, berhubungan dengan orang lain, dan memahami apa yang berlangsung di dalam diri juga menjadi bagian dari kehidupan yang perlu diperhatikan.

Namun, memahami hubungan tersebut tidak berarti kita menyederhanakan segala persoalan kesehatan mental atau menganggap semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pikiran. Namun, justru sebaliknya.

Semakin kita mengenal diri, semakin kita dapat memahami kapan kita membutuhkan ruang untuk berhenti, kapan kita membutuhkan dukungan orang terdekat, dan kapan bantuan profesional diperlukan. Mengenal diri bukan berarti harus menghadapi semuanya sendirian.

 

Sebuah Pintu untuk Mengenal Diri

Pada akhirnya, Mengenali Pikiran dan Perasaan bukan berarti kita harus membuang semua pikiran yang tidak kita sukai. Bukan pula berarti kita harus selalu tenang, selalu positif, atau tidak boleh memiliki emosi. Yang sedang kita tuju sekarang bahkan jauh lebih sederhana, yakni: kita mulai mengenal apa yang selama ini kita gunakan.

Kita mulai melihat bagaimana sebuah pengalaman dapat menjadi kesan, bagaimana kesan dapat memengaruhi pikiran, bagaimana pikiran dapat membangkitkan perasaan, dan bagaimana semuanya kemudian memengaruhi reaksi serta pilihan kita.

Dari sana, kita perlahan memahami bahwa cara kita memandang dunia tidak berdiri sendiri. Persepsi memengaruhi cara kita berpikir. Cara kita berpikir memengaruhi perasaan. Pikiran dan perasaan memengaruhi respon. Respon memengaruhi tindakan. Dan tindakan, sedikit demi sedikit, ikut membentuk pola kehidupan kita. Maka pertanyaannya bukan hanya: “Bagaimana supaya pikiran saya selalu positif?”

Akan tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Sudahkah saya mengenal pikiran dan perasaan saya sendiri?”

Kita telah menggunakan pikiran dan perasaan sepanjang hidup. Tetapi, sudahkah kita benar-benar mengenalnya? Mengapa Mind bisa terus bergerak? Mengapa sesuatu yang kita sukai begitu mudah menarik perhatian kita? Mengapa sesuatu yang tidak kita sukai begitu kuat mendorong kita untuk menjauh?

Dan bagaimana kecenderungan-kecenderungan itu bisa terbentuk? Bahkan, kita sangat dimungkinkan dapat menjadi pengikut dari setiap gerak pikiran dan perasaan yang muncul? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membawa kita melangkah lebih jauh.

Pertemuan kita belum berhenti di sini. Pada Bagian ke-2 nanti, kita akan mulai mengenali lebih dekat apa dan bagaimana sifat Mind, dan bagaimana ia bergerak, menerima kesan, membentuk kecenderungan, serta memengaruhi kehidupan kita sehari-hari dengan lebih dalam lagi.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Bagaimana cara mengetahui bahwa pikiran dan perasaan sedang memengaruhi diri kita?

Kita dapat mulai dengan memperhatikan apa yang terjadi ketika menghadapi suatu peristiwa. Apakah kita langsung marah, takut, tersinggung, cemas, atau justru merasa sangat senang? Perhatikan pula apa yang kemudian kita lakukan.

Sering kali, pikiran dan perasaan tidak berhenti pada apa yang kita rasakan di dalam. Keduanya dapat memengaruhi cara kita melihat suatu keadaan, mengambil keputusan, dan merespon orang lain. Mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan respon merupakan langkah awal untuk lebih memahami diri. Sehingga upaya Mengenali Pikiran dan Perasaan itu tidak terasa asing lagi karena ia akan selalu memengaruhi hidup kita.

 

2. Mengapa saya sering merasa atau berpikir seperti ini, padahal saya sendiri tidak menginginkannya?

Pikiran dan perasaan dapat terbentuk dari berbagai pengalaman, kesan, kebiasaan, lingkungan, serta apa yang terus-menerus kita terima melalui indra. Karena itu, sesuatu yang muncul di dalam diri tidak selalu datang karena kita sengaja menginginkannya.

Yang penting bukan langsung menyalahkan diri karena memiliki pikiran atau perasaan tertentu. Namun, kita dapat belajar mengamatinya: apa yang muncul, kapan muncul, apa yang memicunya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap diri kita.

Dengan mengenali, kita mulai memiliki kesempatan untuk memahami apa yang selama ini berlangsung di dalam diri.

 

3. Kapan kita perlu mencari bantuan ketika pikiran dan perasaan mulai terasa mengganggu kehidupan?

Tidak semua rasa sedih, cemas, marah, atau khawatir berarti seseorang mengalami masalah kesehatan mental. Berbagai perasaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan. Namun, jika keadaan berlangsung cukup lama, semakin sulit dihadapi, atau mulai mengganggu aktivitas, hubungan, belajar, bekerja, dan kehidupan sehari-hari, kita tidak perlu menunggu sampai keadaan menjadi lebih berat untuk mencari bantuan.

Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal. Bila diperlukan, bantuan dari dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional lainnya juga penting. Mengenali diri dan mencari bantuan profesional bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Dan keduanya, sesungguhnya dapat berjalan bersama. Namun, pilihan ada pada diri kita.

(Tim redaksi – OE)

 

Artikel Relevan:

 

Back To Top